Buka konten ini
BATAM (BP) – Kepala Kepolisian Daerah Kepulauan Riau (Kapolda Kepri), Irjen Asep Safrudin mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan konvoi serta menghindari perayaan berlebihan pada malam pergantian Tahun Baru. Imbauan tersebut disampaikan menyusul adanya musibah yang menimpa sebagian warga di wilayah Sumatra.
Menurut Asep, perayaan Tahun Baru sebaiknya diisi dengan kegiatan sederhana dan lebih bermakna, seperti berkumpul bersama keluarga atau menggelar doa bersama.
“Di tengah kondisi saat ini, ada saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah. Karena itu, kami mengimbau masyarakat untuk tidak merayakan Tahun Baru secara berlebihan. Akan lebih baik jika diisi dengan doa bersama,” ujar Asep.
Meski tidak melarang secara mutlak, Asep menegaskan setiap bentuk perayaan yang berpotensi mengganggu ketertiban umum akan diawasi secara ketat oleh aparat kepolisian. Pengawasan tersebut mencakup konvoi kendaraan hingga penggunaan kembang api.
“Kalau pun ada perayaan, pengawasannya akan diperketat, terutama penggunaan kembang api. Ini akan kami kontrol agar tidak menimbulkan gangguan kamtibmas maupun kecelakaan,” tegasnya.
Ia berharap suasana malam pergantian Tahun Baru tahun ini dapat berlangsung lebih kondusif dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Menurutnya, keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama aparat kepolisian.
“Harapan kami, perayaan Tahun Baru tidak lagi diwarnai euforia berlebihan. Keselamatan dan ketertiban tetap menjadi yang utama,” katanya.
Terkait pengamanan, Asep memastikan Polda Kepri akan melakukan pengawasan dan razia terhadap peredaran kembang api, terutama yang tidak memenuhi standar keselamatan.
“Setiap tahun pengawasan selalu kami lakukan. Kami antisipasi agar tidak terjadi kecelakaan akibat kembang api, baik saat penjualan maupun ketika digunakan masyarakat,” ujarnya.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk mematuhi aturan dan bekerja sama menjaga keamanan serta ketertiban selama malam pergantian Tahun Baru demi terciptanya situasi yang aman dan kondusif di seluruh wilayah Kepri.
Dikutip dari ANTARA, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menegaskan Mabes Polri tidak memberikan izin penyelenggaraan pesta kembang api pada malam pergantian Tahun Baru 2026, Rabu (31/12) nanti. Kebijakan tersebut diambil dengan mempertimbangkan kondisi kebatinan nasional, menyusul bencana yang menimpa sejumlah wilayah di Sumatra.
“Yang jelas dari Mabes Polri, kami tidak memberikan izin untuk perayaan kembang api yang biasa dilaksanakan saat penutupan tahun,” kata Listyo Sigit saat ditemui di Stasiun Pasar Senen, Jakarta, Selasa (23/12).
Kapolri menyebutkan, teknis pengawasan, razia, hingga pemberian sanksi terhadap pelanggaran larangan tersebut diserahkan kepada kepolisian daerah (polda) di masing-masing wilayah.
Ia juga mengimbau masyarakat agar mengisi momentum pergantian tahun dengan kegiatan yang lebih bermanfaat dan bermakna, salah satunya dengan mendoakan warga yang terdampak bencana alam.
“Kami tidak memberikan rekomendasi penggunaan kembang api di akhir tahun. Kita tahu situasi saat ini, kita semua merasakan suasana kebatinan yang sama dan bersama-sama mendoakan saudara-saudara kita yang terdampak bencana di Sumatera,” ujarnya.
Menurut Kapolri, kebijakan tersebut bukan semata pembatasan, melainkan bentuk empati dan ajakan kepada masyarakat untuk menahan euforia berlebihan serta menjaga ketertiban dan keselamatan bersama saat malam Tahun Baru.
Batam Pertimbangkan Konsep Solidaritas Sumatra
Pemerintah Kota (Pemko) Batam masih mempertimbangkan format perayaan malam pergantian Tahun Baru 2025. Pertimbangan ini muncul seiring keputusan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang meniadakan pesta kembang api sebagai bentuk empati terhadap masyarakat Sumatra dan Aceh yang tengah dilanda bencana.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Batam, Firmansyah, mengatakan kebijakan tersebut masih akan dilaporkan dan dibahas lebih lanjut bersama pimpinan daerah.
“Saya akan melaporkan terlebih dahulu kepada pimpinan terkait hal ini,” ujar Firmansyah, Selasa (23/12).
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam, Ardiwinata, mengungkapkan Pemko Batam telah menyiapkan konsep kegiatan akhir tahun bertajuk Kenduri Akhir Tahun, yang dirancang dengan nuansa solidaritas bagi korban bencana di wilayah Sumatra.
“Rencananya ada kegiatan Kenduri Akhir Tahun. Konsepnya solidaritas untuk Sumatra, namun masih menunggu arahan dan persetujuan pimpinan,” kata Ardiwinata.
Ia menjelaskan, hingga kini kegiatan tersebut belum dirilis secara resmi ke publik karena masih menunggu keputusan final.
Lokasi yang direncanakan berada di kawasan Alun-alun Engku Putri, Batamcenter. Selain itu, sejumlah titik lain seperti hotel dan kawasan wisata juga tengah didata.
“Kami sengaja belum merilis secara resmi. Kalau sudah ada persetujuan, baru kami publikasikan. Termasuk kemungkinan penggalangan donasi sebagai bentuk kepedulian,” ujarnya.
Menurut Ardiwinata, imbauan agar perayaan malam Tahun Baru tidak dilakukan secara berlebihan sebenarnya telah disampaikan sejak jauh hari kepada pelaku usaha pariwisata, pengelola tempat hiburan, hingga pengelola kawasan wisata.
“Imbauan itu sudah kami sampaikan sebelumnya. Intinya tetap bersyukur, tetapi dengan rasa prihatin terhadap saudara-saudara kita yang tertimpa bencana,” katanya.
Di sisi lain, Batam dipastikan tetap berada dalam kondisi aman dan menjadi salah satu destinasi favorit selama libur akhir tahun. Ardiwinata menyebut jumlah kunjungan wisatawan ke Batam hingga Oktober 2025 telah mencapai sekitar 1,25 juta kunjungan, mendekati target tahunan sebesar 1,5 juta wisatawan.
“Biasanya Desember merupakan peak season. Kami optimistis target 1,5 juta kunjungan wisatawan akan terlampaui,” ujarnya.
Untuk tingkat hunian hotel, Disbudpar Batam memprediksi okupansi berada di kisaran 70–80 persen selama libur Natal dan Tahun Baru (Nataru), seiring meningkatnya arus wisatawan domestik maupun mancanegara.
“Kita bersyukur Batam aman dan kunjungan wisata meningkat. Namun, pada saat yang sama empati dan solidaritas kepada saudara-saudara kita di Sumatra tetap harus ditunjukkan,” katanya. (*)
Reporter : YASHINTA – AHMADI
Editor : RATNA IRTATIK