Buka konten ini

BADAN Gizi Nasional (BGN) menyiapkan skema distribusi Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi peserta didik selama masa libur sekolah, termasuk opsi pengantaran langsung ke rumah siswa. Rencana tersebut dibenarkan Kepala BGN, Dadan Hindayana, pada Minggu (21/12).
Namun, skema pengantaran MBG dari rumah ke rumah belum diterapkan di Kota Batam, khususnya bagi peserta didik sekolah. Koordinator Wilayah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Batam, Defri Frenaldi, menyebut keterbatasan pendataan serta jauhnya jarak tempat tinggal siswa menjadi kendala utama.
“Tidak, mengingat rumah siswa letaknya berjauhan dan cukup sulit dilakukan pendataan by name by address. Untuk pengantaran door to door, kami hanya melaksanakannya bagi balita, ibu hamil, dan ibu menyusui melalui Posyandu,” ujar Defri, Selasa (23/12).
Menurut Defri, pendistribusian MBG untuk peserta didik selama libur sekolah disesuaikan dengan kesiapan masing-masing sekolah. Pihaknya tidak memaksakan satu skema tertentu.
“Kalau untuk anak sekolah, kami tidak memaksakan. Tergantung kesiapan sekolah di hari libur,” katanya.
Ia menjelaskan, apabila pengantaran MBG ke rumah siswa nantinya menjadi instruksi langsung dari Kepala BGN, SPPG daerah tetap memiliki sejumlah opsi pelaksanaan sebagaimana diatur dalam surat edaran BGN.
“Opsinya bisa pengambilan di sekolah, di titik tertentu seperti rumah RT/RW atau Posyandu, hingga pengantaran dari rumah ke rumah,” jelasnya.
Saat ini, SPPG Batam menerapkan pengambilan MBG di sekolah untuk peserta didik, sementara pengambilan di titik tertentu dan pengantaran ke rumah diterapkan bagi balita, ibu hamil, dan ibu menyusui.
Sebelumnya, Kepala BGN Dadan Hindayana menyampaikan bahwa pihaknya masih melakukan pengecekan kesiapan SPPG di masing-masing daerah. Skema distribusi MBG selama libur sekolah disesuaikan dengan kemampuan setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau dapur MBG.
Mekanisme pendistribusian MBG selama libur sekolah telah diatur dalam Keputusan Kepala BGN Nomor 52.1 Tahun 2025 tentang Pedoman Tata Kelola Penyelenggaraan Program MBG Selama Libur Sekolah. Dalam aturan tersebut, pendistribusian dilakukan maksimal dua kali dalam sepekan, dengan kombinasi makanan siap santap dan makanan kemasan yang dapat dibawa pulang.
Di sisi lain, pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) di Batam menuai keluhan dari masyarakat. Sejumlah orang tua siswa menilai menu yang diberikan tidak sebanding dengan durasi pembagian serta dinilai minim kandungan gizi.
Keluhan salah satunya disampaikan Darsih, orang tua siswa di kawasan Batam Center. Ia menyebut selama empat hari libur, anaknya hanya menerima satu paket MBG yang dibagikan sekaligus.
“Ini untuk empat hari, tapi isinya seperti ini. Terasa dipaksakan, apalagi dibagikan saat libur sekolah,” ujarnya.
Paket tersebut, kata Darsih, berisi empat butir telur, dua buah apel, biskuit kemasan, kacang-kacangan, dua lembar keju, serta satu botol minuman soya. Menurutnya, mayoritas menu berupa makanan kemasan tanpa penjelasan kandungan gizi secara rinci.
“Kebanyakan makanan sachet. Kami juga tidak tahu kandungan gizinya. Katanya makanan bergizi, tapi sebagai orang tua jadi bingung,” ungkapnya.
Keluhan serupa juga muncul dari warga di kawasan Sambau. Program MBG untuk balita dan ibu hamil disebut kerap diisi menu instan yang dinilai tidak mencerminkan standar makanan bergizi.
Seorang penerima manfaat, Emi (bukan nama sebenarnya), menilai pembagian menu untuk empat hari sekaligus tidak masuk akal. Ia menyebut pada hari pertama sempat menerima menu nasi, ayam krispi, sayur, dan jeruk. Namun untuk tiga hari berikutnya hanya mendapat makanan tambahan berupa biskuit, telur, bolu, pisang, dan susu.
“Kalau yang nasi itu masih wajar. Tapi setelahnya isinya biskuit dan telur saja. Dibagi-bagi lagi isinya berbeda. Kami benar-benar heran,” katanya.
Sejumlah orang tua berharap SPPG dan pihak terkait segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan MBG, khususnya saat libur panjang. Mereka meminta kualitas menu, variasi makanan, serta kecukupan gizi benar-benar diperhatikan, terutama bagi anak-anak, balita, dan ibu hamil.
“Dievaluasi lagi menunya, jangan dipaksakan kalau tidak siap. Kalau seperti ini, malah menimbulkan kecurigaan,” pungkasnya. (***)
Reporter : RENGGA YULIANDRA – YASHINTA
Editor : GALIH ADI SAPUTRO