Buka konten ini
JAKARTA (BP) – Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan BI rate di level 4,75 persen. Langkah tersebut sejalan dengan prioritas jangka pendek bank sentral dalam menjaga kestabilan nilai tukar rupiah sekaligus mempertahankan minat investor portofolio asing di tengah tingginya ketidakpastian global.
Gubernur BI, Perry Warjiyo, menjelaskan, keputusan itu diambil dengan tetap memperkuat transmisi pelonggaran kebijakan moneter dan makroprudensial yang telah ditempuh sebelumnya.
Cermati Arah Inflasi
“Ke depan, Bank Indonesia terus menilai ruang penyesuaian BI rate dengan memperhatikan inflasi 2025–2026 yang diperkirakan tetap berada dalam sasaran 2,5±1 persen, serta kebutuhan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat,” ujar Perry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di Jakarta, Rabu.
BI juga menyiapkan berbagai kebijakan lanjutan. Upaya tersebut meliputi stabilisasi nilai tukar rupiah melalui intervensi di pasar non-deliverable forward (NDF) luar negeri, transaksi spot dan DNDF di dalam negeri, hingga pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Selain itu, strategi operasi moneter yang berorientasi pasar diperkuat, termasuk lewat penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) serta pengembangan instrumen swap valuta asing.
Di sisi lain, pendalaman pasar uang dan pasar valas terus didorong guna memperkuat efektivitas transmisi kebijakan moneter. Langkah ini ditempuh melalui penguatan BI-FRN, pengembangan overnight index swap (OIS) tenor menengah, serta optimalisasi peran dealer utama.
Tekanan Capital Outflow Masih Ada
Dari kalangan ekonom, kebijakan BI dinilai sudah tepat. Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro menilai risiko arus keluar modal asing dan tekanan terhadap rupiah masih cukup besar, sehingga stabilitas nilai tukar perlu menjadi prioritas. “BI akan tetap fokus menjaga rupiah, sembari konsisten mendorong pertumbuhan ekonomi,” ujarnya, seperti dikutip Antara.
Ekonom LPEM FEB UI, Teuku Riefky, menambahkan, meskipun aliran modal asing mulai kembali masuk dalam beberapa pekan terakhir, pergerakan rupiah masih berfluktuasi. Secara year to date, nilai tukar rupiah tercatat melemah sekitar 3,6 persen. “Masih dibutuhkan langkah stabilisasi lanjutan,” katanya. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO