Buka konten ini

Personel Ditpamobvit Polda Kepri, Bripka Prima Arta Sandy, mencetak prestasi di ajang Evolene Indonesian Championship (EIC) Jakarta 2025 dengan meraih tiga capaian podium di tengah persaingan atlet binaraga internasional. Lebih dari prestasi olahraga, keberhasilan ini menjadi bukti bahwa disiplin dan pola hidup sehat mampu menghapus stigma polisi berperut buncit tanpa mengabaikan tugas dan tanggung jawab keluarga.
LAMPU Ballroom Kuningan City Mall, Jakarta Selatan, menyala terang pada awal Desember 2025. Di atas panggung Evolene Indonesian Championship (EIC) 2025, deretan atlet binaraga dari berbagai negara berdiri sejajar, memamerkan hasil disiplin bertahun-tahun. Di antara tubuh-tubuh kekar itu, ada satu sosok yang membawa cerita berbeda: seorang polisi dari Kepulauan Riau.
Namanya Bripka Prima Arta Sandy. Sehari-hari ia adalah personel Direktorat Pengamanan Objek Vital Polda Kepri. Seragam cokelat yang biasa melekat di tubuhnya malam itu berganti kostum panggung. Namun nilai yang ia bawa tetap sama: disiplin, tanggung jawab, dan keteguhan.
Pada ajang bertaraf internasional yang digelar 4–5 Desember 2025 itu, Prima tampil meyakinkan. Ia meraih juara III Men’s Physique True Novice Class B, kembali naik podium sebagai peringkat III Men’s Physique Master 35+, serta menembus lima besar Men’s Classic Physique Open Class A. Lawan-lawannya bukan sembarang atlet datang dari Rusia, Hong Kong, Malaysia, hingga Belanda.
Namun bagi Prima, panggung itu bukan sekadar arena adu otot. Itu adalah ruang pembuktian. Bahwa seorang polisi bisa menjaga profesionalisme sekaligus merawat tubuh dan mentalnya.
Ketika ditemui di Batam, beberapa hari setelah kepulangannya dari Jakarta, Prima tampil sederhana. Kaos kasual melekat di tubuhnya, senyum tak lepas dari wajahnya. Di sisinya, sang istri dan dua anaknya setia menemani.
“Maaf telat, baru pulang kerja,” ujarnya ringan, sebelum mulai bercerita.
Perjalanan menuju panggung EIC tak instan. Prima mengenal dunia binaraga sejak 2013. Namun kebahagiaan menyambut kelahiran anak pertamanya membuat ia berhenti berlatih. Tiga tahun berlalu tanpa gym, tanpa latihan.
“Fokus keluarga. Tapi badan mulai sering sakit, emosi gampang naik, dan berat badan sempat 96 kilogram,” kenangnya. Saat itu, ia kerap merasa lelah tanpa sebab. Ia mudah tersulut emosi. Hingga suatu hari, ia menatap kedua anaknya yang masih kecil dan tersadar: sehat bukan pilihan tambahan, melainkan kebutuhan utama.
“Saya ini tulang punggung keluarga. Istri saya ibu rumah tangga. Kalau saya tumbang, semuanya ikut berhenti,” ucapnya pelan.
Kesadaran itu menjadi titik balik. Tahun 2019, Prima kembali ke gym. Tanpa target muluk. Tanpa ambisi panggung. Ia hanya ingin sehat.
Satu jam setiap hari ia sisihkan. Di sela tugas kepolisian yang padat, di antara jadwal dinas yang tak kenal waktu. Perlahan, tubuhnya berubah. Lebih bugar. Lebih ringan. Tidurnya teratur. Emosinya stabil.
“Sekarang kerja lebih fokus. Pikiran lebih segar. Jam 10 malam sudah siap tidur,” katanya.
Dukungan keluarga menjadi energi terbesar. Sang istri menyaksikan langsung perubahan itu. Anak sulungnya, Gibran Arta Alzikri (9), mengikuti jejak disiplin ayahnya lewat karate dan kini menyandang sabuk cokelat. Anak bungsunya, Arta Rizki Rabbani (5), tumbuh dengan semangat yang sama.
Bagi Prima, membentuk tubuh bukan tujuan akhir. Ia membawa misi yang lebih besar: mengubah stigma polisi identik dengan tubuh gemuk dan gaya hidup tidak sehat. “Umur itu hanya angka. Yang penting kemauan bergerak,” ujarnya.
Ia kerap menyinggung alasan klasik tak punya waktu. Menurutnya, masalahnya bukan waktu, melainkan prioritas.
“Kalau bisa berjam-jam pegang HP, harusnya bisa juga satu jam jaga badan,” katanya.
Karier Prima di kepolisian dimulai pada 2008, setelah tiga kali mencoba seleksi. Ia pernah bertugas di Samapta, menjalani BKO di Brimob selama setahun, hingga kini berdinas di Ditpamobvit Polda Kepri. Pengalaman lapangan itulah yang membentuk mentalnya—mental yang sama ketika ia berdiri di atas panggung internasional.
Ke depan, Prima belum ingin berhenti. Ia menargetkan kompetisi luar negeri, salah satunya di Thailand. Latihan ketat dan pola hidup disiplin sudah kembali ia jalani.
Prestasinya pun mendapat apresiasi pimpinan. Direktur Pamobvit Polda Kepri, Kombes Pol Dr. Rudy Cahya Kurniawan, menyebut capaian Prima sebagai bukti bahwa anggota Polri mampu berprestasi di berbagai bidang.
“Ini inspirasi bahwa tugas dan prestasi bisa berjalan berdampingan,” ujarnya.
Bagi Bripka Prima Arta Sandy, piala bukan tujuan utama. Menjaga tubuh adalah ikhtiar panjang—agar ia tetap kuat berdiri sebagai polisi, sebagai ayah, dan sebagai contoh bahwa hidup sehat selalu bisa dimulai, kapan pun seseorang memutuskan untuk peduli. (***)
Reporter : YASHINTA
Editor : GALIH ADI SAPUTRO