Buka konten ini

ANAMBAS (BP) – Hilangnya kapal kargo KM Pelangi 15 yang bertolak dari Tarempa menuju Pemangkat, Kalimantan Barat, hingga kini masih menjadi misteri. Kapal tersebut belum juga tiba di tujuan sejak berangkat pada Sabtu (6/12) malam lalu.
Sebelum keberangkatan, otoritas pelabuhan sudah mengingatkan nakhoda dan agen kapal mengenai kondisi cuaca ekstrem. Peringatan tersebut merujuk imbauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang meminta seluruh kapal menunda keberangkatan.
“Kita dan Syahbandar sudah mengingatkan soal imbauan BMKG. Kapal-kapal lain saja tunda. Tapi agen dan nakhoda bersikeras mau berangkat,” kata Kepala Pelabuhan Perikanan Pantai Antang, Arie Saputra, Rabu (10/12).
Karena desakan dari nakhoda dan agen, pelabuhan akhirnya tetap menerbitkan Persetujuan Berlayar (PB) untuk KM Pelangi 15. Namun, PB tersebut disertai catatan bahwa dua nakhoda—Along dan Syaiful Anwar—menandatangani surat pernyataan bermeterai yang menyatakan siap menanggung risiko pelayaran tanpa melibatkan pihak mana pun.
Faktanya, hanya Syaiful Anwar yang ikut berangkat sebagai nakhoda, sementara Along tidak ikut dalam pelayaran tersebut. Adapun anak buah kapal (ABK) yang ikut berangkat adalah Juraimi, Abidin, dan Sarip.
Arie menegaskan sebelum kapal dilepas, pihaknya telah melakukan pemeriksaan lengkap terhadap muatan, alat navigasi, perlengkapan keselamatan, hingga perangkat komunikasi. Seluruhnya dinyatakan lengkap dan laik digunakan.
Menurut Arie, alasan utama kapal tetap nekat berangkat meski cuaca buruk adalah kekhawatiran ikan segar akan rusak dan menimbulkan kerugian besar bagi pemilik muatan.
“Itu alasan mereka tetap mau berangkat meski BMKG sudah keluarkan peringatan dini cuaca buruk,” tambah Arie.
Hingga kini, nasib KM Pelangi 15 dan empat orang yang berada di dalamnya belum diketahui. Otoritas terkait masih menunggu informasi terbaru dari wilayah perairan sekitar jalur pelayaran kapal tersebut.
Sementara itu, Ethen selaku agen PT Putra Anambas Shipping yang menangani keberangkatan KM Pelangi 15 belum memberikan respons saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp.
Pemkab Anambas Siapkan Helikopter untuk Pencarian Udara
Sementara itu, Bupati Anambas Aneng merespons kabar hilangnya kapal tersebut. Ia mengakui bahwa pencarian lewat laut masih belum membuahkan hasil.
“Saya sudah hubungi Medco Energi untuk membantu pencarian lewat udara. Sekarang lagi proses administrasi untuk pinjam helikopter,” kata Aneng.
Menurutnya, pencarian udara dinilai lebih efektif mengingat kondisi laut saat ini sedang ekstrem. “Gelombang sedang tinggi. Karena itu, pencarian udara jauh lebih cepat memberi gambaran situasi,” ujarnya.
Pemkab Anambas juga berkoordinasi dengan Camat Midai dan Camat Tambelan untuk mengantisipasi kemungkinan kapal terdampar di wilayah tersebut.
“Mudah-mudahan ada kabar baik. Kita semua berharap para ABK dalam keadaan selamat,” tutur Aneng.
Selain itu, masyarakat tetap melakukan pencarian secara mandiri. Upaya ini dipimpin langsung Pang Rinto bersama warga. Sedikitnya tujuh kapal dikerahkan masyarakat Kecamatan Siantan Timur untuk menyisir rute yang diduga dilalui kapal tersebut.
Lokasi pencarian difokuskan pada koordinat terakhir kapal: 2°35’42.00” N – 106°54’41.00” E di sekitar perairan Tambelan, Kabupaten Bintan.
“Sudah hari ketiga mencari KM Pelangi 15, belum ada kabar baik. Mudah-mudahan hari ini ada kabar baik,” ujar Pang Rinto, Rabu (10/12). (***)
Reporter : IHSAN IMADUDDIN
Editor : GUSTIA BENNY