Buka konten ini

RIYADH (BP) – Selama lebih dari 70 tahun, Arab Saudi dikenal sebagai salah satu negara dengan larangan alkohol paling ketat di dunia. Namun laporan terbaru mengungkapkan bahwa kerajaan kini mulai melonggarkan akses penjualan minuman beralkohol, meski dilakukan secara terbatas dan tidak diumumkan secara resmi.
Larangan alkohol di Arab Saudi telah berlaku sejak 1950-an dan bertahan selama beberapa dekade. Selama ini, akses terhadap minuman beralkohol hanya terjadi melalui pasar gelap, pesta privat, hingga suplai khusus dari kedutaan besar yang memanfaatkan jalur diplomatik.
Dalam 10 tahun terakhir, Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS) telah menggulirkan berbagai reformasi sosial, seperti menghapus polisi syariah, mengizinkan perempuan mengemudi, dan membuka ruang hiburan publik. Meski begitu, legalisasi alkohol tetap menjadi isu sensitif yang tak pernah disampaikan secara terbuka oleh pemerintah.
Dilansir dari New York Times, Rabu (10/12), pemerintah Arab Saudi menghentikan sistem yang sebelumnya memungkinkan diplomat membawa alkohol dalam jumlah besar melalui pengiriman diplomatik. Kebijakan itu disebut sebagai langkah untuk mengendalikan pasar gelap sekaligus sinyal awal perubahan sistem distribusi alkohol di dalam negeri.
Tak lama setelah pembatasan tersebut diberlakukan, sebuah toko resmi yang menjual minuman beralkohol dibuka di kawasan Diplomatic Quarter, Riyadh. Toko itu hanya melayani diplomat dan warga asing nonmuslim yang memegang izin premium residency, yakni izin tinggal khusus bagi warga asing kaya atau berpendidikan tinggi.
Toko tersebut tidak memiliki nama, hanya berplang “Barang Bebas Pajak (VAT) Khusus untuk Diplomat Saja”, tidak muncul di peta, dan diketahui keberadaannya melalui berbagi lokasi GPS di jaringan terbatas. Aksesnya juga sangat ketat: pelanggan wajib menunjukkan kartu identitas resmi, memiliki kuota pembelian bulanan yang terhubung ke aplikasi pemerintah, dan membayar harga jauh lebih tinggi dari harga internasional.
Menurut laporan New York Times, satu botol anggur putih kualitas menengah dijual sekitar Rp1,4 juta. Harga untuk diplomat lebih murah, sementara pemegang premium residency harus membayar lebih mahal.
Meski toko tersebut mulai ramai dikunjungi, pemerintah Arab Saudi belum memberikan pernyataan resmi dan media lokal tidak menyoroti perkembangan ini. Pendekatan senyap tersebut konsisten dengan gaya kebijakan MBS yang kerap meluncurkan reformasi tanpa deklarasi terbuka untuk menghindari resistensi dari kelompok konservatif.
Pelonggaran terbatas ini diduga terkait upaya kerajaan menarik lebih banyak pekerja asing terampil, memperkuat sektor pariwisata, serta mempersiapkan diri sebagai tuan rumah Piala Dunia 2034. Selain itu, penjualan alkohol juga berpotensi menjadi sumber pemasukan tambahan di tengah tekanan fiskal, mengingat Dubai—tetangga sekaligus rival ekonomi—mendapat keuntungan besar dari industri minuman beralkohol.
Kendati demikian, sejumlah warga asing masih ragu memanfaatkan fasilitas baru itu karena aturan detail mengenai konsumsi, distribusi, dan batasan legalitas bagi pemegang premium residency belum dijelaskan secara terbuka. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : GUSTIA BENNY