Buka konten ini

ABU DHABI (BP) – Gelar juara dunia pembalap Formula 1 (F1) 2025 akhirnya menjadi milik Lando Norris. Pembalap McLaren itu menuntaskan penantian tujuh tahun atau sejak debut pada 2019. Finis podium (P3) dalam balapan pemungkas di Sirkuit Yas Marina, Abu Dhabi, Minggu (7/12) malam sudah cukup untuk unggul atas ”juara bertahan” Max Verstappen (Red Bull Racing).
Carlos Sainz Jr, mantan rekan setim Norris di McLaren pada 2019–2020, menilai bahwa keberhasilan Norris adalah bukti karakter jujur dan terbuka milik pembalap Inggris itu.
”Norris selalu sangat cepat, bahkan lebih cepat dari yang diduga banyak orang,” kata Sainz yang tahun ini membalap untuk Williams kepada Sky Sports F1.
”Sejak awal aku melihat dia sebagai pembalap yang kalau hanya melihat kecepatannya, punya potensi untuk menjadi juara dunia berkali-kali,” imbuhnya.
Sainz bangga melihat Norris bisa berhasil dengan tetap mempertahankan jati diri.
“Dia tidak mengikuti stereotip juara dunia. Dia membuktikan bisa jadi juara dunia sambil tetap jadi orang baik, tanpa harus jadi kejam atau berlagak badass (mengerikan),” beber pembalap berkebangsaan Spanyol tersebut.
Stereotip Juara Dunia
Sejarah F1 pernah mencatat momen-momen gelap para juara dunia. Ayrton Senna merebut gelar 1990 setelah dengan sengaja menabrakkan mobilnya ke rival utama, Alain Prost, di GP Jepang. Senna keluar dari mobil, berjalan santai, dan sadar betul gelarnya tak mungkin terkejar menjelang balapan terakhir di Australia.
Lalu, Michael Schumacher sempat melakukan tindakan kontroversial pada GP Eropa 1997. Dalam duel penentu di Jerez, Schumi – sapaan Schumacher – mencoba menutup jalur Jacques Villeneuve hingga terjadi kontak. Namun manuver itu gagal dan membuatnya didiskualifikasi dari kejuaraan.
Gaya Lando
Norris musim ini sempat berada dalam tekanan besar saat tertinggal 34 poin dari rekan setimnya, Oscar Piastri, usai F1 Belanda di Sirkuit Zandvoort (31/8). Dia mengakui momen itu sebagai periode sangat berat. ”Jujur, tidak (enjoy). Malah sebaliknya (tertekan),” ucap Norris dikutip dari laman resmi Formula 1 mengenang masa sulit tersebut.
”(Tapi) tertinggal 34 poin dari rekan setim yang sangat cepat membuatku harus bekerja lebih keras, di simulator, di luar trek, dan secara mental. Aku juga bekerja dengan lebih banyak profesional untuk membuka potensi lebih besar,” bebernya.
Pada akhirnya, Norris bangga meraih gelar juara dunia tanpa mengubah karakternya. ”Aku menang dengan caraku sendiri, tetap jadi diri sendiri, tetap fair, tetap jujur,” katanya. ”Bisa saja aku lebih agresif, bisa saja aku mengorbankan beberapa orang di trek, tetapi itu bukan saya. Aku ingin menang dengan gaya Lando,” tutur pembalap kelahiran Bristol, 26 tahun lalu, itu.
Rosberg Kalah Autentik
Juara dunia pembalap F1 2016 Nico Rosberg menilai Norris sebagai pembalap paling autentik di grid. Bahkan, lebih autentik darinya. ”Lando pernah menunjukkan kerentanannya dan kemudian memperbaiki banyak hal. Ini versi Lando yang lebih dewasa.
Di bawah tekanan paling gila pun, dia lebih tenang dan membuat lebih sedikit kesalahan,” beber Rosberg yang memutuskan pensiun hanya selang lima hari setelah meraih juara dunia kepada Autosport. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : GALIH ADI SAPUTRO