Buka konten ini

AKTIVITAS logistik di Kota Batam sepanjang September 2025 menunjukkan pola yang bergerak tidak seirama. Volume bongkar kargo melonjak di jalur udara dan laut, sementara aktivitas muat justru merosot tajam, terutama pada angkutan laut internasional. Kondisi kontras ini menjadi sorotan karena mencerminkan distribusi barang yang belum stabil menjelang akhir tahun, baik untuk pasar domestik maupun global.
Kepala BPS Kota Batam, Eko Aprianto, menyampaikan bahwa bongkar kargo angkutan udara domestik pada September 2025 tercatat 2.350,09 ton, naik 0,48 persen dibanding Agustus. Secara tahunan, peningkatan mencapai 2,42 persen dari periode yang sama tahun lalu.
“Sebaliknya, aktivitas muat kargo udara domestik menurun 0,36 persen, dari 848,30 ton pada Agustus menjadi 845,25 ton di September 2025. Namun secara tahunan masih tumbuh signifikan 14,28 persen,” ujar Eko.
Untuk kargo udara internasional, jumlah muat mencapai 2,50 ton atau naik 107,31 persen dibanding bulan sebelumnya. Sementara bongkar kargo internasional mencapai 6,96 ton, meningkat 2,69 persen dari Agustus 2025.
Kenaikan juga terjadi pada bongkar barang angkutan laut domestik. Pada September 2025, jumlahnya mencapai 1.153.651 ton, tumbuh 9,96 persen dibanding bulan sebelumnya dan melonjak 56,01 persen secara tahunan.
Namun aktivitas muat barang laut domestik justru mengalami tekanan. Jumlah muat pada September 2025 turun 18,74 persen menjadi 213.273 ton dibanding Agustus, dan merosot 20,65 persen secara tahunan.
Pada sektor internasional, bongkar barang laut tercatat 313.084 ton atau naik 8,02 persen dibanding bulan sebelumnya. Meski demikian, secara tahunan justru turun 2,39 persen dari 320.741 ton pada September 2024.
Kondisi paling drastis terlihat pada muat barang laut internasional. Aktivitas muat anjlok 52,77 persen, dari 367.851 ton pada Agustus menjadi 173.741 ton pada September 2025. Secara tahunan, penurunannya jauh lebih tajam, yakni 66,64 persen dari 520.841 ton.
Menurut Eko, tren kenaikan bongkar dan penurunan muat ini menunjukkan adanya pergeseran pola distribusi barang yang perlu dicermati pelaku logistik dan industri manufaktur.
“Peningkatan aktivitas bongkar menunjukkan tingginya pasokan barang masuk, sementara penurunan muat bisa menjadi indikasi perlambatan pergerakan barang keluar,” terangnya.
Ia menegaskan bahwa dinamika ini perlu mendapat perhatian seluruh pemangku kepentingan agar stabilitas distribusi logistik Batam sebagai kota industri dan pusat perdagangan internasional tetap terjaga. (***)
Reporter : RENGGA YULIANDRA
Editor : PUTUT ARIYO