
Di tepi jalan kawasan ramai, tepat di seberang
PT Panasonic, seorang pria paruh baya tampak sibuk menyiapkan adonan di atas tungku datar kecil yang menyatu dengan gerobaknya.
Menggunakan sepeda motor tua yang dipasangi gerobak buatan sendiri, pria itu terus bergerak lincah meladeni pembeli. Dialah Mohamad Atan, 56 tahun, penjual apam balik jajanan mirip martabak manis yang lebih tipis dan renyah, yang di Batam lebih dikenal dengan sebutan crepes.
Ini jualan apam balik,†sapanya ramah saat ditemui Batam Pos, dengan logat khas Malaysia yang membuat banyak orang mengira ia perantau dari seberang.
Namun Atan tersenyum kecil ketika disinggung soal asal-usulnya.
Tidak, saya orang Indonesia. Lahir di sini. Tapi pernah tinggal di Malaysia, ujarnya.
Berawal dari Perantauan Usia Remaja
Atan bercerita, ia pergi ke Malaysia saat masih berusia 15 tahun, pada 1989. Selama bertahun-tahun ia mencoba peruntungan di negeri jiran, melakukan berbagai pekerjaan sebelum akhirnya belajar membuat apam balik dari seorang temannya yang berasal dari Minang.
Belajar sama kawan saya, budak Minang, di Malaysia, kenangnya.
Sejak itu, Atan berjualan apam balik di Johor Bahru selama 25 tahun. Ia menjualnya seharga 1 ringgit per potong, dan setiap hari menghabiskan satu tong besar adonan. Bahkan gerobak yang kini digunakannya di Batam merupakan gerobak yang ia buat sendiri ketika masih di Malaysia.
Gerobak ini saya bawa dari Malaysia pakai feri. Bayar 50 ringgit waktu itu, tahun 2018, ujarnya.
Pulang Setelah 25 Tahun di Malaysia
Setelah puluhan tahun hidup di dua negara dan sesekali pulang ke Indonesia, Atan akhirnya memutuskan menetap kembali di Batam. Salah satu alasannya adalah anak-anaknya yang tumbuh besar dan membutuhkan perhatian lebih.
Karena anak juga semakin besar. Tapi saya tak langsung jualan asyik termenung dulu, katanya sambil terkekeh.
Ia baru kembali membuka lapak apam balik pada Ramadan 2025. Pada hari kerja, Senin hingga Jumat, Atan berjualan di seberang PT Panasonic, tepat di depan kedai Mie Tarempa. Sedangkan Sabtu, Minggu ia pindah ke area Mega Mall dekat parkiran motor.
Kalau di Batam saya bikin 3 sampai 4 kilogram adonan saja. Tak seramai waktu di Malaysia,†ucapnya.
Atan biasanya mulai berjualan pukul 09.00 hingga 21.00 WIB. Khusus akhir pekan, ia bisa bertahan hingga tengah malam. Varian rasa yang ia tawarkan antara lain jagung, kacang, seres, atau campuran.
Kadang cepat habis, kadang lambat habis. Ya, namanya berniaga memang macam ini, katanya santai.
Modal Kecil, Tekad Besar
Menurut Atan, modal untuk memulai usaha apam balik tidak besar. Hanya ratusan ribu rupiah untuk membeli tepung, telur, gula, dan susu, ia sudah bisa kembali berjualan.
Modal sikit je. Berapa150-an lah paling, tuturnya.
Dari pengalamannya merantau, ia yakin usaha kecil sekalipun bisa bertumbuh jika dijalani dengan tekun dan mau belajar.
Kita jualan tak usah yang jauh-jauh. Bisa mula dari usaha kecil. Kalau tak pandai, belajar macam mana caranya, paparnya.
Harapan terbesar Atan adalah dapat menyekolahkan anak-anaknya hingga perguruan tinggi. Ia ingin mereka hidup lebih baik dan lebih pintar daripada dirinya. Sesekali, sepulang sekolah, anaknya ikut membantu berjualan.
Cita-cita saya, anak saya bisa sekolah tinggi. Supaya dia jadi lebih pandai jangan macam saya, katanya lirih namun penuh harap.
Ilmu Merantau yang Tak Pernah Sia-Sia
Meski kehidupannya tak selalu mudah, Atan tidak pernah menyesal pergi merantau di usia muda. Banyak pengalaman ia dapatkan “termasuk ilmu membuat apam balik yang kini menjadi sumber penghidupannya di Batam.
Maka tu, apabila kita merantau, semua kita coba. Nanti sampai di negara kita, kita bikin, ujarnya penuh semangat.
Baginya, pelanggan adalah kunci. Memberi yang terbaik adalah cara memastikan mereka kembali.
Kita bagi customer ni makanan yang bagus. Jadi customer kan senang, tutupnya sambil kembali menuang adonan ke loyang panas. (***)
Reporter : TIA CAHYA NURANI Editor : JAMIL QASIM