Buka konten ini
SEKUPANG (BP) – Tren gaya hidup modern yang serba instan dinilai menjadi salah satu pemicu meningkatnya kasus penyakit kronis di Indonesia. Pola makan yang tidak seimbang, kurangnya aktivitas fisik, serta tekanan stres berkepanjangan membuat masyarakat semakin rentan terserang penyakit serius. Kondisi ini pada akhirnya ikut mendorong naiknya biaya pelayanan kesehatan.
Sebagai langkah pencegahan, BPJS Kesehatan mengajak masyarakat lebih peduli terhadap kondisi tubuh melalui skrining kesehatan berkala untuk mendeteksi risiko penyakit sedini mungkin. Kepala BPJS Kesehatan Cabang Batam, Harry Nurdiansyah, menyampaikan bahwa Skrining Riwayat Kesehatan (SRK) merupakan bagian penting dalam sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Bahkan, SRK diwajibkan bagi peserta sebelum mendapatkan pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP), seperti puskesmas, klinik, maupun praktik dokter mandiri.
“Peserta wajib melakukan SRK setahun sekali. Jadi isilah saat awal tahun atau ketika kondisi tubuh sedang sehat, jangan menunggu sampai sakit atau sudah berada di FKTP,” ujar Harry, Jumat (5/12).
SRK dapat dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari aplikasi Mobile JKN, situs web BPJS Kesehatan, layanan WhatsApp PANDAWA, hingga melalui bantuan petugas di fasilitas kesehatan. Harry menegaskan, SRK bukan sekadar administrasi tambahan, tetapi upaya membangun kesadaran masyarakat untuk menjalani pola hidup sehat.
“Harapannya, program JKN tidak hanya menyembuhkan yang sakit, tetapi juga membangun masyarakat yang lebih sehat sejak awal. Budaya promotif dan preventif harus diperkuat melalui kolaborasi peserta, fasilitas kesehatan, dan BPJS Kesehatan,” jelasnya.
Dalam SRK, peserta diminta menjawab sejumlah pertanyaan mengenai riwayat penyakit pribadi dan keluarga, serta kebiasaan hidup sehari-hari. Melalui skrining ini, peserta dapat memperoleh layanan lebih cepat, memahami kondisi kesehatan dengan lebih baik, dan mencegah risiko penyakit sebelum berkembang menjadi lebih parah.
Selain bermanfaat bagi peserta, SRK juga membantu fasilitas kesehatan dalam memetakan potensi penyakit, menentukan tata laksana medis yang tepat, serta menekan risiko komplikasi. Sejumlah penyakit kronis dapat terdeteksi dini melalui SRK, seperti diabetes, hipertensi, strok, penyakit jantung iskemik, kanker, anemia remaja putri, tuberkulosis (TBC), penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), hepatitis B dan C, hingga talasemia.
Sepanjang 2024, lebih dari 45 juta peserta JKN tercatat telah melakukan skrining kesehatan, dan hasilnya digunakan FKTP untuk mengambil tindakan lebih cepat.
Harry mengakui, penerapan skrining tidak langsung menurunkan biaya pelayanan kesehatan.
“Memang ada potensi biaya meningkat karena orang yang terdiagnosis sakit bisa lebih banyak. Tapi kenapa ini tetap dilakukan? Agar masyarakat tahu lebih awal dan mencegah sebelum jatuh pada kondisi penyakit yang sudah berat,” tutupnya. (*)
Reporter : AZIS MAULANA
Editor : GALIH ADI SAPUTRO