Buka konten ini

BATAM (BP) – Polda Kepulauan Riau (Kepri) meningkatkan kemampuan komunikasi publik di era keterbukaan informasi dengan menggelar Latihan Peningkatan dan Kemampuan Fungsi Teknis Humas Tahun 2025 di Aula Beverly Hotel, Kamis (13/4). Kegiatan ini diikuti para personel Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) jajaran Polda Kepri serta humas Polresta se-Kepri.
Pelatihan berfokus pada peningkatan kemampuan penyajian informasi yang kredibel, khususnya melalui teknik fotografi jurnalistik yang baik, etis, dan sesuai kaidah publikasi modern.
Kapolda Kepri, Irjen Asep Safrudin saat membuka kegiatan menegaskan bahwa profesionalitas humas adalah garda terdepan dalam membangun kepercayaan publik terhadap Polri. Setiap informasi yang disebarkan, katanya, harus akurat dan mampu memberikan gambaran peristiwa secara jelas melalui visual yang kuat.
“Isi informasi jangan asal-asalan. Foto harus mampu menjelaskan kejadian, dan setiap personel wajib memahami kode etik serta standar jurnalistik,” tegas Kapolda.
Ia menekankan bahwa dokumentasi visual bukan sekadar pelengkap publikasi, tetapi bagian penting dalam proses penyelidikan, arsip internal, dan pembentukan citra positif institusi. Karena itu, Asep meminta seluruh peserta mengikuti pelatihan dengan serius dan menerapkan ilmu yang diperoleh dalam tugas sehari-hari.
Seiring perkembangan teknologi, kata Asep, tantangan tugas humas semakin besar. Media sosial menuntut kecepatan, ketepatan narasi, dan komunikasi yang berimbang agar informasi dapat diterima publik secara efektif.
“Kita dituntut menjadi jurnalis bagi institusi kita sendiri. Narasi harus kuat, informatif, dan mampu mengayomi masyarakat,” ujarnya.
Pelatihan menghadirkan narasumber dari Pewarta Foto Indonesia (PFI) Kepri yang dipimpin Ketua PFI Kepri, Tommy Purniawan. Ia membagikan teknik dan prinsip utama fotografi jurnalistik, mulai dari pemilihan angle, komposisi, hingga pemaknaan konteks peristiwa.
Menurut dia, foto harus berbicara dan membawa pesan yang memperkuat pemahaman publik.
“Etika visual adalah fondasi utama. Foto bukan hanya dokumentasi, tetapi harus memberi manfaat edukatif dan informatif,” kata Tommy.
Dewan Komite Etik PFI Kepri, Yusuf Hidayat, juga memaparkan perspektif mengenai standar dan tanggung jawab karya jurnalistik visual. Menjaga konteks peristiwa, katanya, menjadi kunci agar publikasi tidak hanya menarik secara estetika, tetapi juga bertanggung jawab atas dampaknya.
Yusuf berharap pelatihan ini memperkuat kolaborasi antara insan pers dan humas kepolisian, serta meningkatkan kualitas rilis resmi yang diterbitkan PPID hingga Polresta se-Kepri.
“Kami ingin komunikasi publik Polda Kepri semakin kredibel, profesional, dan dekat dengan masyarakat,” ujarnya. (*)
Reporter : Rengga Yuliandra
Editor : RATNA IRTATIK