Buka konten ini

Di balik tiga medali internasional yang diraih Siti Naila Hermawan pada 2025, tersembunyi perjalanan panjang melawan cedera, rasa sakit, dan ketakutan yang nyaris membuatnya berhenti. Kini, remaja 15 tahun itu kembali berdiri, dengan mimpi yang lebih besar dari rasa takut mana pun yang pernah ia hadapi.
SUARA riuh anak-anak yang berlarian di halaman SMPN 12 Batam di Batam Kota, Kota Batam, terdengar bersahutan, siang itu. Matahari menyorot lembut ke arah gedung sekolah, ketika Batam Pos tiba dan mendapati seorang siswi yang mengenakan baju pramuka berjalan pelan tapi mantap menuju ruang kepala sekolah.
Tubuhnya ramping, langkahnya ringan, senyumnya ramah, tetapi ada ketegasan di sorot matanya, tanda disiplin panjang yang tak mungkin dimiliki anak seusianya tanpa tempaan keras.
Dialah Siti Naila Hermawan, 15 tahun, atlet karate muda yang namanya kini melesat jauh melampaui lapangan sekolah, menembus panggung internasional. Nada bicaranya lembut ketika ia mulai bertutur, tetapi intonasinya menyiratkan mental baja yang terasah dari ribuan repetisi teknik dan latihan yang tidak pernah mudah.
Tahun 2025 menjadi titik sorot perjalanan panjangnya. Tiga medali perunggu internasional berturut-turut ia bawa pulang—dari Milo Cup Malaysia, Thailand Open International Karate Championship, hingga Shureido International Karate Championship.
“Alhamdulillah tiga-tiganya dapat juara tiga. Pesertanya kuat-kuat dari pelatnas Thailand, India, Malaysia, dan Vietnam. Semoga ke depan bisa lebih baik lagi, target saya emas,” ujar Naila, matanya menyala penuh harapan.
Namun, tidak banyak yang tahu apa yang ia lalui sebelum sampai ke podium itu.
Naila terdiam sejenak saat mengenang Kejuaraan Panglima TNI Surabaya 2024. Sebuah benturan keras membuat tulang tangannya bergeser. Rasa sakitnya begitu menyengat hingga ia tak mampu melanjutkan pertandingan. “Waktu itu sakit banget, tak bisa melanjutkan,” bisiknya pelan.
Hari-hari setelah itu berjalan lambat. Sementara teman-temannya kembali berlatih dan bertanding, ia hanya bisa menonton dari jauh. Di titik itu, banyak orang mungkin akan menyerah—tetapi bukan Naila.
“Saya ingat target saya. Saya ingin bawa nama Kepri dan Indonesia lebih tinggi,” ucapnya, menahan emosi yang masih terasa membekas.
Setelah pulih, Naila memulai lagi dari titik paling dasar. Latihan ringan, penguatan otot, kembali menghafal teknik-teknik dasar yang dulu ia lakukan tanpa berpikir. Setiap pukulan samsak masih menyisakan rasa ngilu, tetapi ia memilih bertahan.
Latihan kini ia jalani tiga kali sehari: pagi sebelum sekolah, sore sepulang belajar, dan malam untuk teknik dan ketahanan.
“Capek pasti. Tapi mimpi saya lebih besar dari rasa capek,” ujarnya sambil tersenyum.
Selain karate, Naila menyimpan cita-cita besar lain. “Saya ingin jadi Polwan. Saya ingin mengabdi. Karate membantu membentuk mental dan fisik saya,” tuturnya.
Perjalanannya dalam karate bermula sejak usia 9 tahun. Kini, ia menyandang sabuk cokelat dari Club Inkanas dan mewakili Kepri di berbagai kejuaraan nasional maupun internasional.
Tahun 2026, mimpi yang lebih besar menantinya. Naila masuk dalam daftar enam atlet Kepri yang lolos tampil di ajang World Karate Federation Series A Manila, Filipina, sebuah kejuaraan resmi level dunia yang mempertemukan atlet dari puluhan negara.
“Target saya emas. Jadi harus latihan lebih keras. Tidak ada alasan untuk malas,” tegasnya.
Dukungan Sekolah
Prestasi Naila tidak lahir dari ruang kosong. Ada lingkungan yang mendukungnya berkembang.
Kepala SMPN 12 Batam, Nurmi, menyampaikan rasa bangga mendalam pada siswa yang dianggapnya menjadi teladan.
“Kita berharap anak-anak dapat menjadikan prestasi ini sebagai modal dasar mereka. Pendidikan bukan hanya skill, tapi juga akhlak,” ujarnya.
SMPN 12 Batam memberi sistem belajar fleksibel bagi siswa berprestasi. Saat Naila bertanding dua minggu di luar daerah, sekolah memberi kelonggaran, tetapi tetap menegaskan tanggung jawab akademik.
“Kembali tetap menyelesaikan tugas. Kami ingin seimbang antara akademik dan prestasi,” jelas Nurmi.
Sekolah dengan 1.118 siswa ini memiliki 21 ekstrakurikuler, dengan Tahfiz dan panahan sebagai pengembangan utama. Lebih dari 50 persen siswa Tahfiz telah menghafal hingga 10 juz. Panahan pun melahirkan atlet internasional dan peraih beasiswa.
“Lebih dari seperempat siswa kami berprestasi. Dan Naila adalah contoh terbaik bahwa mimpi bisa diraih dengan kerja keras,” tutupnya.
Saat Batam Pos berpamitan, Naila berjalan kembali ke tengah kerumunan temannya. Ia tertawa kecil, sesekali bercanda, kembali menjadi remaja yang ceria. Namun dari cara ia bergerak, terlihat jelas bahwa dirinya membawa sesuatu yang tidak dimiliki anak 15 tahun pada umumnya: keteguhan yang ditempa oleh rasa sakit, air mata, dan keberanian untuk bangkit.
Karena bagi Naila, kemenangan sejati bukan sekadar medali atau podium. Kemenangan terbesarnya adalah keberanian untuk tidak menyerah ketika segalanya terasa mustahil. (***)
Reporter : RENGGA YULIANDRA
Editor : RATNA IRTATIK