Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Pemerintah mempertegas arah baru pembangunan sektor manufaktur melalui peluncuran Strategi Baru Industrialisasi Nasional (SBIN). Peta jalan jangka panjang ini diyakini dapat memperkuat daya saing industri, termasuk keramik, yang sebelumnya tertekan oleh produk impor.
Sekretaris Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) Kemenperin, Muhammad Taufik, menjelaskan bahwa SBIN menjadi panduan percepatan industrialisasi ke depan. “Dengan strategi ini, peningkatan kualitas dan daya saing industri keramik menjadi lebih terukur karena bertumpu pada empat pilar, terutama teknologi dan standardisasi,” ujarnya di Jakarta.
Empat pilar tersebut meliputi hilirisasi, penguatan ekosistem industri, penguasaan teknologi, dan penerapan prinsip keberlanjutan.
Kapasitas & Utilisasi Naik
Sinyal pemulihan industri keramik semakin kuat. Pada kuartal I 2025, sektor manufaktur menyumbang 17,5 persen terhadap PDB dengan surplus ekspor mencapai USD10,4 miliar. Kapasitas industri tumbuh menjadi 625 juta meter persegi, sementara tingkat utilisasi melonjak dari 60 persen menjadi 75 persen dalam setahun.
Transformasi teknologi menjadi penentu kemajuan industri kecil dan menengah (IKM). Penerapan SNI, efisiensi proses, serta adopsi teknologi tepat guna dinilai mampu memperluas pasar. “IKM keramik harus terus meningkatkan inovasi agar kualitas produk makin kompetitif,” kata Taufik.
Investasi Baru Masuk
Dari sisi industri, pemulihan juga diperkuat kebijakan pemerintah seperti antidumping, safeguard, dan SNI wajib. “Kebijakan ini membuat performa sektor kembali membaik. SNI melindungi konsumen dan memperkuat industri lokal,” ujar Ketua Umum Asaki, Edy Suyanto.
Kondisi yang lebih mendukung ini mendorong investasi baru. Pada 2025, kapasitas industri bertambah 25 juta meter persegi dan membuka 1.500 lapangan kerja. Peningkatan kapasitas juga membantu menekan impor yang sebelumnya mencapai 80 juta meter persegi per tahun.
Kolaborasi OEM Menguat
Skema kemitraan original equipment manufacturing (OEM) turut memperkokoh industri nasional. “Hampir 90 persen importir besar yang bonafide kini sudah menandatangani kontrak OEM dengan pabrikan lokal, dan mereka lebih puas dibanding impor langsung,” kata Edy.
Dengan permintaan yang terus meningkat serta produsen domestik yang makin efisien, industri keramik diproyeksi menjadi salah satu penopang utama manufaktur pada 2026. “Prospeknya semakin cerah. Kami berharap kebijakan pro-industri tetap konsisten,” ujarnya. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO