Buka konten ini

SAAT kebanyakan orang terlelap pada malam hari, ada sebagian yang justru memulai aktivitasnya. Perawat, petugas keamanan, hingga pekerja pabrik tetap menjalankan tugas di luar jam kerja normal.
Bekerja berlawanan dengan pola alami tubuh bukan perkara mudah, terutama dalam menjaga kesehatan dan mutu tidur. Para pekerja shift malam dipaksa menyesuaikan jam biologis agar tetap terjaga saat malam dan beristirahat di siang hari.
Pola tidur yang terbalik ini berpotensi memicu beragam gangguan kesehatan, apalagi jika kualitas istirahat tidak terpenuhi dengan baik.
Kondisi tersebut semakin berat ketika diiringi kebiasaan tidak sehat, seperti terlalu sering mengonsumsi kopi atau minuman berenergi demi melawan rasa kantuk sepanjang malam.
Dokter spesialis penyakit dalam, dr. Decsa Medika Hertanto, menjelaskan bahwa pekerja malam tetap bisa menjaga keseimbangan ritme tubuh dengan beberapa cara sederhana. Hal utama yang perlu diperhatikan adalah konsistensi waktu tidur dan bangun.
Sebagai contoh, setelah selesai bekerja pukul 8 pagi, sebaiknya langsung tidur sekitar pukul 9 pagi dan bangun sekitar pukul 1 siang. Pola ini dianjurkan dilakukan secara rutin agar tubuh terbiasa.
Bagi mereka yang harus tidur saat matahari sudah terbit, menciptakan suasana gelap di kamar sangat penting. Penggunaan tirai blackout atau penutup mata disarankan agar cahaya tidak mengganggu dan membuat otak mengira masih siang hari.
Selain itu, dr. Decsa juga menyarankan tidur singkat selama 20–30 menit sebelum memulai shift malam. Tidur sejenak ini dapat membantu meningkatkan konsentrasi serta mengurangi rasa kantuk saat bekerja.
Ia juga mengingatkan kebiasaan yang sering dianggap sepele, yaitu meminum kopi menjelang pulang kerja. Kandungan kafein bisa bertahan hingga enam jam di dalam tubuh, sehingga kopi di akhir shift berisiko membuat sulit tidur meski tubuh sudah lelah.
Sesampainya di rumah, dianjurkan untuk langsung beristirahat dan tidak menunda dengan bermain ponsel. Paparan cahaya dari layar dapat mengganggu sinyal tidur di otak.
Menurutnya, tidur berkualitas bukan hanya soal durasi, melainkan juga ketepatan waktu dan keteraturan ritme. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO