Buka konten ini

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Riau Kepulauan Wakil Ketua Dewan Pengupahan Prov. Kepri
DI banyak daerah, termasuk Batam, ada ironi yang terus berulang: industri tumbuh pesat, tetapi suplai tenaga terampil lokal tidak kunjung mampu mengejar kebutuhan pasar kerja. Kota yang ingin meneguhkan posisi sebagai kawasan manufaktur dan investasi global ini justru menghadapi stagnasi kualitas sumber daya manusia.
Sekolah berjalan pada relnya sendiri, industri melaju pada rel lain, sementara pemerintah sibuk mengatasi mismatch tanpa membangun mekanisme jangka panjang untuk mencegahnya. Padahal akar persoalan ini tidak berada di program pelatihan tenaga kerja atau sertifikasi keterampilan, melainkan jauh lebih awal di ruang kelas institusi pendidikan.
Di sinilah sesungguhnya manajemen talenta harus dimulai: memetakan potensi, minat, bakat, kecerdasan majemuk, serta kecenderungan karier siswa secara sistematis, sehingga pilihan studi lanjutan mereka tidak didasarkan pada tekanan sosial, ikut teman, atau sekadar coba-coba.
Selama ini kepemimpinan kepala sekolah yang seharusnya menjadi arsitek utama pengembangan talenta cenderung tersandera urusan administratif. Data potensi siswa disimpan rapi di map, tetapi tidak dibawa ke forum perencanaan sekolah ataupun dihubungkan dengan kebutuhan pembangunan daerah.
Sementara itu, siswa memilih sekolah menengah lanjutan seperti SMA, MA atau SMK tanpa membaca peta dirinya sendiri, memilih jurusan karena anggapan prestise, dan saat memasuki perguruan tinggi, tidak sedikit yang justru terperangkap jurusan yang tidak sesuai kapasitasnya. Kesalahan memilih jalur studi ini sering dianggap kesialan personal, padahal menyiratkan kegagalan sistemik: lemahnya manajemen talenta dari jenjang pendidikan menengah.
Dalam konteks Batam, kegagalan pemetaan potensi ini berimplikasi jauh lebih serius. Kota ini membutuhkan tenaga kerja dengan kompetensi sangat spesifik: teknisi presisi, operator galangan kapal, analis digital, programmer, tenaga logistik pintar, hingga pekerja pariwisata berstandar internasional.
Tanpa kepala sekolah yang visioner untuk menjembatani kebutuhan industri dengan potensi siswa, Batam akan terus tertinggal dalam pertarungan kompetensi. Kepala sekolah memiliki posisi paling strategis untuk mengubah arah pendidikan: membangun kultur bahwa sekolah bukan sekadar tempat mengajar, melainkan pusat rekayasa masa depan daerah.
Namun kepala sekolah tidak bisa bekerja sendirian. Pemerintah daerah harus hadir sebagai dirigen ekosistem talenta, bukan sekadar regulator. Pemerintah perlu membangun sistem data talenta regional yang melaksanakan dan menghimpun hasil tes minat-bakat, karakter, kompetensi unggul, serta rekam jejak akademik siswa.
Data tersebut harus menjadi bagian dari dashboard talenta daerah yang dapat digunakan untuk memprediksi suplai tenaga kerja dari jenjang SMP hingga SMK/SMA, kemudian menyelaraskannya dengan ekspansi industri Batam.
Namun pemanfaatan data tersebut dalam perencanaan pembangunan daerah hanya dapat diwujudkan apabila pemerintah daerah didukung oleh DPRD untuk dapat menjalankan fungsi strateginya secara efektif.
Tanpa dukungan politik anggaran, regulasi daerah, dan mekanisme pengawasan yang konsisten, manajemen talenta di sekolah berisiko berhenti sebagai aktivitas administratif yang tidak berdampak pada arah pendidikan dan kebutuhan.
Di sisi lain, kolaborasi sekolah dan industri harus diformalkan dalam kebijakan daerah agar tidak bergantung pada inisiatif sporadis masing-masing sekolah. Industri dapat memasok peta kebutuhan keterampilan dan peluang magang, sementara pemerintah memediasi kerja sama itu agar mengalir secara terstruktur.
Pemerintah daerah juga memiliki tanggung jawab memperkuat kapasitas kepala sekolah dan guru BK. Pelatihan kepemimpinan berbasis manajemen talenta, dan kerja sama dengan perguruan tinggi maupun asosiasi profesi dalam pelaksanaan asesmen intellegensi, minat dan bakat menjadi syarat mutlak.
Tanpa intervensi ini, pemetaan talenta siswa akan kembali menjadi aktivitas administratif yang tidak memiliki efek nyata pada kebijakan pendidikan maupun arah pembangunan daerah.
Hal dasar yang sering diabaikan adalah bahwa data talenta siswa bukan sekadar dokumen internal sekolah. Ia harus menjadi instrumen kebijakan: dasar pemberian beasiswa yang tepat sasaran, rujukan pembukaan program vokasi baru, pijakan kolaborasi industri, hingga indikator penataan pendidikan menengah sesuai arah ekonomi Batam. Jika fungsi strategis ini diabaikan, manajemen talenta hanya akan menjadi jargon baru yang indah dalam wacana, tetapi nihil dalam dampak.
Jika sinergi antara kepala sekolah dan pemerintah daerah mampu dibangun, dampaknya akan sangat besar bagi Batam. Mismatch antara lulusan dan industri dapat ditekan, daya saing ekonomi lokal meningkat, dan kemandirian daerah dalam menghasilkan tenaga kerja berkualitas semakin kuat. Siswa tidak lagi tersesat dalam memilih jalur pendidikan dan karier, karena perjalanan mereka sejak SMP telah diarahkan oleh data yang valid dan pendampingan yang profesional.
Pembangunan daerah modern bukan lagi persoalan beton dan gedung, melainkan kualitas manusia. Dan pembangunan manusia tidak bisa dimulai di tempat lain selain sekolah. Kepala sekolah harus berani menjadi motor perubahan, pemerintah daerah menjadi penguat struktur, sementara sekolah menengah menjadi pabrik talenta yang sesungguhnya.
Jika ketiganya berjalan dalam satu irama, Batam tak sekadar menjadi magnet investasi, melainkan pusat lahirnya talenta terbaik bangsa. Karena masa depan daerah selalu dimulai dari ruang kelas, dari keberanian kepala sekolah, dan dari visi pemerintah daerah yang memahami bahwa manusia adalah investasi paling strategis. (***)