Buka konten ini

SURABAYA (BP) – Industri ritel di pusat perbelanjaan mulai menunjukkan pemulihan menjelang akhir tahun. Meski sejumlah investor asing menahan rencana ekspansi, pengelola mal masih mampu menjaga okupansi melalui masuknya tenant domestik.
Direktur Marketing Pakuwon Group Sutandi Purnomosidi mengatakan, aktivitas ritel di pusat perbelanjaan tumbuh dibanding tahun lalu, terutama dari sisi arus kunjungan.
“Kenaikannya single digit, sekitar 7–8 persen,” ujarnya di Surabaya kemarin (24/11).
Namun, dia mengakui siklus perlambatan tahun ini lebih tajam. Periode Agustus–Oktober selalu menjadi fase lambat bagi kinerja mal karena keluarga sudah mengalokasikan anggaran untuk sekolah anak serta menahan belanja menjelang liburan akhir tahun.
“Penurunan kuartal III tahun ini bahkan lebih dalam dibanding periode normal. Saya tidak tahu apakah bisa disebut penurunan daya beli, tetapi itu yang terjadi di tempat kami,” ungkapnya.
Apalagi pada Agustus, kerusuhan yang muncul di sejumlah kota membuat investor—khususnya asing—yang sebelumnya mengantre ruang di mal menjadi ragu. Padahal sebelumnya, permintaan pembukaan outlet cukup tinggi, terutama dari investor Tiongkok.
Indonesia masih menjadi pasar menarik karena margin profit ritel bisa mencapai 30 persen, jauh lebih tinggi dibanding Tiongkok yang marginnya terus tergerus maraknya belanja online. “Banyak yang menangguhkan. Sampai sekarang belum ada yang memastikan,” ungkapnya.
Meskipun demikian, okupansi jaringan mal Pakuwon tetap bertahan di atas 96 persen karena peritel domestik masih aktif mencari ruang baru. Sejumlah perusahaan juga tengah melakukan transformasi untuk menyegarkan pasar.
“Misalnya Matahari, yang kini akan memasarkan brand mereka sendiri. Space mereka sedang ditutup dan dibagi untuk brand-brand baru tersebut,” imbuhnya. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO