Buka konten ini

TENGGAT tiga hari yang diberikan Syuriah kepada Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf berakhir kemarin. Namun, Gus Yahya—sapaan akrabnya—menegaskan kembali bahwa dirinya tidak akan mengundurkan diri dari jabatan ketua umum.
Sikap itu sejalan dengan pandangan jajaran Katib Aam PBNU yang menilai proses pemakzulan tidak perlu dilanjutkan. Sejumlah kiai sepuh NU juga sepakat mendorong islah (perdamaian) yang akan digelar di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur.
Penegasan tersebut disampaikan Katib Aam PBNU, KH Amin Sa’id Husni usai pertemuan alim ulama di kantor PBNU, Senin (24/11) dini hari. Ia memaparkan tiga butir keputusan hasil pertemuan. Pertama, para kiai mengusulkan digelarnya silaturahmi besar untuk memperkuat ukhuwah dan memulihkan suasana organisasi.
Kedua, seluruh peserta sepakat bahwa masa kepengurusan PBNU harus diselesaikan hingga akhir periode. Tidak ada pemberhentian maupun pengunduran diri di tengah jalan. Pengurus PBNU saat ini masih memiliki sisa masa bakti sekitar satu tahun.
“Semuanya sepakat, tidak ada pemakzulan dan tidak ada pengunduran diri,” tegasnya.
Ketiga, seluruh pihak diminta melakukan tafakur demi kebaikan bersama, khususnya bagi warga NU di seluruh Indonesia. Seluruh organ PBNU—Rais Aam, Syuriah, hingga Tanfidziyah—diminta tetap berjalan normal hingga muktamar berikutnya.
Kiai Amin juga menegaskan, apabila ada pergantian pengurus, mekanismenya harus melalui forum muktamar sebagaimana diatur AD/ART.
Dalam kesempatan itu, Gus Yahya menegaskan kembali dirinya tetap menjabat sebagai ketua umum. Ia juga menyampaikan bahwa forum alim ulama sepakat menggelar pertemuan akbar di pesantren Lirboyo. “Waktunya belum ditentukan, tetapi diharapkan segera,” ujarnya.
Ponpes Lirboyo Siap Menjadi Tuan Rumah Islah
Dari Kediri, Pondok Pesantren Lirboyo menyatakan kesiapan menjadi lokasi pertemuan para ulama NU. Sikap ini disampaikan pengasuh Lirboyo, Kiai Athoillah Anwar, melalui Juru Bicara Pesantren Lirboyo, Oing Abdul Muid Shohib atau Gus Muid.
Ia menegaskan, forum tersebut digelar untuk merajut kembali ukhuwah nahdliyyah di tengah keprihatinan para kiai atas dinamika organisasi. Pertemuan itu juga telah mendapat restu dari Pengasuh Ponpes Lirboyo Kiai Anwar Manshur dan Kiai Kafabihi Mahrus.
“Sedaya prihatin dengan kondisi NU sak menika (semua prihatin dengan kondisi NU saat ini),” ujar Gus Muid. Lirboyo bersedia menjadi tuan rumah dengan syarat kedua pihak yang berkepentingan hadir dalam forum.
Dari Jombang, KH Hasib Wahab Chasbullah, putra tokoh pendiri NU dari Ponpes Tambakberas, juga menyampaikan keprihatinan mendalam atas polemik di tubuh PBNU. Ia berharap penyelesaian dilakukan tanpa memberhentikan Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf.
Menurutnya, pemakzulan ketua umum berpotensi menjadi preseden buruk bagi organisasi. Karena itu, ia berinisiatif menjembatani persoalan antara Rais Aam dan ketua umum PBNU. Dalam waktu dekat, ia akan berkomunikasi dengan zuriah pendiri NU serta para kiai sepuh.
“Insyaallah, sebagai zuriah pendiri, kami akan bermusyawarah dan berusaha mengislahkan dengan menggandeng kiai-kiai sepuh,” ujarnya kepada Radar Jombang Grup Jawa Pos. Ia menambahkan, jajaran Mustasyar PBNU juga akan diajak untuk mempercepat pemulihan suasana organisasi. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK