Buka konten ini

HIV bukan penyakit yang memalukan, tetapi infeksi yang dapat dikendalikan dengan pengobatan seumur hidup. Dokter menegaskan, siapa pun yang memiliki faktor risiko HIV harus segera melakukan pemeriksaan untuk mencegah komplikasi berat.

HUMAN immunodeficiency Virus (HIV) masih kerap disalahpahami sebagai penyakit yang menakutkan dan memalukan. Padahal, menurut dr. Rohayat Bilmahdi Simanjuntak, Sp.PD(K), Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Konsultan Penyakit Tropik dan Infeksi dari Rumah Sakit Awal Bros Batam, penyakit HIV dapat dikendalikan dan penderita tetap dapat hidup normal selama rutin menjalani pengobatan.
Dalam bincang sehat di Instagram halloawalbros, Senin (3/11) bertema “HIV, Apakah Anda Berisiko?” bahwa HIV merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Ketika tidak ada lagi pengaman, imunitas melemah, maka tubuh menjadi rentan terhadap berbagai infeksi seperti bakteri, jamur, virus lain, hingga infeksi cacing tambang, kremi, dan cacing pita.
“Jika tidak diobati, virus HIV berkembang dan menyebabkan komplikasi dari kepala, mata, paru, hingga ginjal dan sebagainya,” ujarnya.
Penularan Tidak Terjadi lewat Sentuhan
Dokter Rohayat mengatakan pentingnya memahami cara penularan HIV. HIV dapat menular melalui kontak dengan cairan tubuh penderita.
“Virus HIV hanya terdapat dalam cairan tubuh tertentu seperti darah, sperma, dan cairan vagina. Karena itu, kontak seksual berisiko menjadi salah satu penyebab tertinggi penularan,” jelasnya.

Penularan HIV tidak terjadi melalui berjabat tangan, berpelukan, atau berbagi gelas minum. “Penularan terjadi melalui hubungan seksual berisiko, penggunaan jarum suntik bersama misalnya pada pemakai narkoba atau penggunaan jarum tato yang tidak steril,” jelasnya.
Pemahaman mengenai cara penularan ini dinilai penting agar masyarakat lebih waspada dan dapat mengambil langkah pencegahan, terutama dengan perilaku seksual yang aman dan tidak berbagi jarum suntik.Selain itu, penularan juga dapat terjadi secara vertikal dari ibu ke bayi.
Tes Hanya untuk Kelompok Berisiko
Tidak semua orang harus melakukan tes HIV. Pemeriksaan diutamakan bagi mereka yang memiliki faktor risiko, seperti:
– Berganti-ganti pasangan seksual,
– Pekerja seks,
– Pengguna narkoba jarum suntik,
– Pembuat tato dengan jarum tidak steril.
Untuk mempermudah masyarakat, RS Awal Bros Batam tengah mengembangkan fasilitas screening mandiri berbasis kecerdasan buatan (AI) agar masyarakat dapat menilai risikonya tanpa perlu merasa malu atau takut data bocor.
Pengobatan Seumur Hidup, Gratis dari Pemerintah
HIV tidak dapat disembuhkan, tetapi dapat dikendalikan melalui terapi antiretroviral yang wajib diminum seumur hidup. “Walaupun viral load sudah nol atau CD4 sudah bagus, obat tidak boleh dihentikan,” tegasnya.

Obat HIV disediakan gratis oleh pemerintah, sehingga pasien tidak perlu mengkhawatirkan biaya.
Penderita HIV tetap dapat menikah dan memiliki keturunan. Namun harus memenuhi syarat tertentu, yaitu viral load tidak terdeteksi dan CD4 di atas 400. Kondisi ini memastikan risiko penularan ke pasangan dan bayi dapat diminimalkan.
“Mereka bisa hidup normal, bekerja, sekolah, dan bersosialisasi. Yang salah adalah diskriminasi, bukan HIV-nya,” tambahnya.
Jadi artinya kita bisa hidup berdampingan sama orang-orang yang terinfeksi HIV tanpa melakukan diskriminasi.
“Dan itu (HIV) bukan penyakit yang memalukan, kemudian itu juga virusnya bisa kita kendalikan, tetapi dengan syarat meminum obat-obatan seumur hidup,” kata dr. Rohayat.
AIDS: Tahap Lanjut yang Perlu Diwaspadai
Menurut dr Rohayat, HIV dan AIDS sering disamakan, padahal berbeda. HIV adalah virusnya, sementara AIDS adalah stadium lanjut ketika gejala mulai muncul.
Penderita HIV dapat tidak menunjukkan gejala selama 3 bulan hingga 10 tahun sejak tertular. Karena itulah deteksi dini sangat penting agar tidak terlambat mendapatkan terapi.
Dokter Rohayat menegaskan bahwa siapa pun yang merasa pernah berisiko harus segera memeriksakan diri. Semakin cepat diagnosis diketahui, semakin baik kualitas hidup pasien.
“Kalau terlambat, kualitas hidup menurun. Tapi kalau cepat ditangani, pasien bisa hidup panjang. Banyak pasien HIV yang meninggal bukan karena penyakit, tapi karena sudah tua,” ujarnya. (***)
Reporter : ANDRIANI SUSILAWATI
Editor : GUSTIA BENNY