Buka konten ini

FINLANDIA telah lama dikenal sebagai salah satu negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia. Menurut Education Finland, keberhasilan itu dibangun di atas prinsip kesetaraan, dengan menekankan pendidikan universal yang berkualitas, inklusif, serta menyeluruh. Salah satu bukti nyata keberhasilan tersebut terlihat dari kecilnya kesenjangan antara siswa dengan kemampuan terendah dan tertinggi—terkecil di dunia.
Lembaga New Jersey Minority Educational Development (NJMED) lewat proyek World Top 20 Poll secara rutin menilai sistem pendidikan di lebih dari 200 negara setiap kuartal. Penilaian mencakup akses terhadap pendidikan bermutu, keamanan lingkungan belajar, tingkat partisipasi sekolah, angka kelulusan, nilai ujian, dan rasio guru terhadap siswa. Pada tahun 2025, Finlandia menempati posisi kedelapan, mempertahankan reputasinya yang konsisten sejak 2013 sebagai salah satu pelopor pendidikan global.
Menurut World Economic Forum, ada sejumlah alasan yang membuat sistem pendidikan Finlandia terus menjadi rujukan dunia.
1. Tanpa Ujian Standar Nasional
Finlandia tidak menerapkan ujian standar nasional. Satu-satunya ujian resmi adalah National Matriculation Exam, yang bersifat sukarela bagi siswa SMA. Di luar itu, penilaian dilakukan secara individual oleh masing-masing guru. Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan hanya memantau hasil pembelajaran dengan metode pengambilan sampel dari berbagai sekolah.
2. Guru Bertanggung Jawab, Tanpa Tekanan Berlebihan
Di banyak negara, guru kerap menjadi kambing hitam bila mutu pendidikan menurun. Namun di Finlandia, profesi guru memiliki standar seleksi yang sangat tinggi, sehingga tidak memerlukan sistem pengawasan ketat. Seperti diungkapkan Pasi Sahlberg, Direktur Kementerian Pendidikan Finlandia sekaligus penulis Finnish Lessons, “Tidak ada kata accountability dalam bahasa Finlandia. Accountability muncul ketika rasa tanggung jawab mulai berkurang.”
Setiap guru wajib memiliki gelar magister sebelum mengajar. Jika ada guru yang dinilai kurang optimal, kepala sekolah langsung turun tangan untuk mengevaluasi dan memberi pembinaan.
3. Mengedepankan Kolaborasi, Bukan Kompetisi
Sistem pendidikan Finlandia tidak dibangun di atas semangat persaingan. Tidak ada peringkat sekolah, guru terbaik, atau tekanan untuk saling mengungguli. Sebaliknya, budaya kerja sama menjadi fondasi utama agar semua siswa bisa tumbuh bersama dan saling mendukung.
4. Fokus pada Esensi Pendidikan
Saat menghadapi tantangan beberapa dekade lalu, Finlandia memilih melakukan reformasi dengan fokus pada hal-hal mendasar: menciptakan lingkungan belajar yang adil, sehat, dan suportif. Tujuannya bukan mengejar nilai tinggi, tetapi membangun sistem yang mendorong kenyamanan belajar tanpa tekanan berlebihan.
5. Jalur Akademik dan Kejuruan Sama-Sama Dihargai
Finlandia juga menempatkan pendidikan akademik dan vokasi pada posisi yang sejajar. Lulusan universitas dan sekolah kejuruan dipandang memiliki peluang karier yang sama, tanpa perbedaan status sosial atau prestise.
6. Sekolah Dimulai di Usia Lebih Matang
Anak-anak di Finlandia baru mulai bersekolah pada usia tujuh tahun. Sebelumnya, mereka dibiarkan tumbuh dan bereksplorasi bebas tanpa tekanan pendidikan formal. Pendidikan wajib hanya berlangsung sembilan tahun, sementara jenjang setelahnya bersifat sukarela.
7. Jam Belajar yang Singkat dan Efektif
Sekolah di Finlandia biasanya dimulai sekitar pukul 09.00 dan berakhir sekitar pukul 14.00. Jadwal yang tidak terlalu padat terbukti mendukung kesejahteraan, kesehatan mental, serta perkembangan emosional siswa.
8. Guru yang Sama Selama Beberapa Tahun
Di banyak sekolah, satu guru mendampingi murid yang sama selama enam tahun. Hubungan jangka panjang ini membantu guru memahami karakter, kebutuhan, dan perkembangan setiap siswa secara mendalam.
9. Lingkungan Belajar yang Rileks
Jumlah mata pelajaran per hari relatif sedikit, diselingi waktu istirahat 15–20 menit untuk bermain atau sekadar menghirup udara segar. Guru pun mendapat waktu khusus untuk beristirahat dan menyiapkan materi, sehingga kualitas pengajaran tetap terjaga.
10. Minim Pekerjaan Rumah
Menurut data OECD, siswa Finlandia mengerjakan PR rata-rata hanya 30 menit per hari—terendah di dunia. Dengan tekanan akademik yang minim, siswa memiliki ruang lebih luas untuk fokus pada proses belajar, kreativitas, serta pengembangan diri. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO