Buka konten ini

Anambas (BP) – Hampir setiap bulan, ada saja warga Kabupaten Kepulauan Anambas yang diamankan polisi karena terlibat penyalahgunaan narkoba.
Kondisi ini menjadi perhatian serius pihak kepolisian. Wakil Kepala Kepolisian Resor (Wakapolres) Anambas, Kompol Shallahuddin mengaku sangat prihatin.
Ia mengatakan, kasus narkoba yang terus berulang menunjukkan bahwa masih banyak masyarakat yang terjebak dalam ketergantungan.
“Setiap bulan ada saja yang tertangkap. Ini menandakan bahaya narkoba sudah sangat dekat dengan lingkungan kita,” ujar Kompol Shallahuddin, Rabu (12/11).
Berangkat dari keprihatinan itu, pihaknya mengimbau warga yang telah menjadi pecandu narkoba agar segera melaporkan diri ke Polres Anambas.
Polisi, kata dia, akan memberikan bantuan berupa rehabilitasi, bukan proses hukum.
”Yang sudah ketergantungan dengan narkoba, tolong datang ke kami. Nanti kita bantu rehabilitasi, biar sembuh,” ucapnya.
Kompol Shallahuddin menegaskan bahwa pecandu yang melapor secara sukarela tidak akan diproses secara hukum.
Tujuannya agar mereka bisa pulih dan kembali hidup normal di tengah masyarakat. “Kalau datang dengan niat ingin sembuh, kami bantu. Tidak akan dipenjara, karena ini bentuk penyelamatan, bukan penindakan,” tegasnya.
Tahap awal, kata dia, pecandu akan menjalani asesmen terlebih dahulu untuk mengetahui tingkat ketergantungannya terhadap narkoba.
Dari hasil asesmen inilah, polisi bersama tim kesehatan menentukan langkah rehabilitasi yang sesuai. “Dari hasil asesmen itu nanti menjadi dasar untuk kita kirim ke BNN Provinsi Kepri di Batam,” jelasnya.
Menurutnya, proses rehabilitasi bisa berlangsung sekitar tiga minggu. Selama itu, pecandu akan menjalani perawatan dan pendampingan intensif oleh tim BNN Provinsi Kepri.
“Tapi kalau tingkat kecanduannya ringan, cukup rawat jalan saja di sini. Tidak perlu menginap,” tambahnya.
Ia juga mengingatkan bahwa kecanduan narkoba hanya membawa penderitaan. Ketika sakau dan kehabisan uang, pecandu bisa berbuat nekat, bahkan melakukan tindak kriminal.
“Biasanya mereka jadi mudah berbohong, mencuri, dan bisa menimbulkan pertengkaran dalam keluarga. Hidupnya tidak tenang,” kata Shallahuddin. (*)
Reporter : IHSAN IMADUDDIN
Editor : GUSTIA BENNY