Buka konten ini

Robot kurir Lomby Autonomous bisa mengantarkan barang belanjaan dari minimarket, melaju di jalan menanjak, mendeteksi lampu lalu lintas, hingga sampai depan rumah pelanggan. Ia mampu memindai keadaan sekitar karena memiliki sensor dan radar yang digerakkan oleh energi listrik.
SUASANA siang di kawasan Minami-Osawa, Kota Hachioji, Tokyo, tampak seperti biasa. Namun, ada pemandangan tak lazim di depan minimarket 7-Eleven. Dua unit robot mungil berwarna putih tampak parkir rapi. Tingginya tak lebih dari lutut orang dewasa—sekitar 47 sentimeter—mirip kulkas mini dengan empat roda. Namanya Lomby Autonomous (LM-A), robot kurir hasil kolaborasi Suzuki Motor Corporation, Lomby Inc, dan 7-Eleven Inc.
Siang itu, Jawa Pos (Batam Pos Group) berkesempatan menyaksikan langsung bagaimana robot ini bertugas. Begitu pelanggan bernama Honda Kazuya menekan tombol pesanan melalui aplikasi 7Now, pegawai minimarket sigap mengambil barang, memasukkannya ke dalam kompartemen robot, lalu menutup pintu otomatisnya. Tak lama, LM-A mulai bergerak perlahan di jalur pedestrian selebar tiga meter.
Dengan tenaga listrik, sensor, dan radar yang tertanam di tubuhnya, robot itu melaju tenang sambil memindai sekeliling. “Chui shite kudasai!”—yang berarti mohon perhatiannya—terdengar dari pengeras suara kecil di badannya setiap kali ia melintas di dekat orang.
Begitu ada pejalan kaki, ia berhenti sopan. Saat jalan kembali kosong, ia melanjutkan perjalanan.
Di persimpangan, LM-A mendeteksi warna lampu lalu lintas: berhenti ketika merah, menyeberang ketika hijau. Semuanya tanpa kendali manusia.
Bagian dasar LM-A dikembangkan oleh Suzuki, berbasis teknologi kursi roda listrik (electric wheelchair) yang sudah teruji tangguh. Teknologi ini memberi suspensi stabil dan aman, penting untuk bermanuver di area berbukit dan jalan tidak rata—karakteristik umum wilayah Tokyo pinggiran.
Sementara itu, Lomby Inc menggarap bagian atas robot: sensor, kamera 360 derajat, radar, dan sistem kecerdasannya.
“Kami memanfaatkan teknologi yang sudah kami miliki untuk membantu mengatasi masalah sosial. Di Jepang, penduduk lansia makin banyak, bayi makin sedikit. Proyek ini kami tujukan untuk membantu kehidupan mereka,” ujar Mizuki Okumura, perwakilan Business Planning Department, Suzuki New Mobility Service Division, di sela demonstrasi di Minami-Osawa.
Peta Lengkap di Kepala Robot
Robot LM-A tak sekadar mengandalkan kamera dan radar. Ia juga membawa peta lengkap kawasan Minami-Osawa—termasuk data turunan, tanjakan, hingga jembatan penyeberangan. Ia mampu menanjak dengan kemiringan hingga 10 derajat, menuruni bukit dengan hati-hati, lalu kembali ke trotoar dengan stabil.
“Data peta dasar kami ambil dari pemerintah. Namun, detail jalur yang dilalui robot dibuat oleh tim kami sendiri,” jelas Tomoharu Uchiyama, CEO Lomby Inc, saat ditemui di kantornya.
Menurut Uchiyama, wilayah Minami-Osawa dipilih karena medannya menantang dan banyak dihuni lansia. “Sulit bagi mereka membawa barang dari atas ke bawah. Jadi, robot ini kami hadirkan sebagai solusi keseharian,” ujarnya.
Robot LM-A generasi kelima ini mampu menjangkau radius dua kilometer dari dua minimarket 7-Eleven yang bekerja sama. Kecepatannya maksimal 6 km per jam, hanya diizinkan berjalan di trotoar, dan waktu pengantaran rata-rata 30 menit. Biaya sekali antar sekitar 330 yen atau Rp35 ribu.
“Pesanan yang paling sering dikirim itu makan siang, makanan segar, hingga lauk siap santap,” kata Uchiyama. Sejak mulai beroperasi pada Mei 2025, robot ini sudah cukup sering digunakan—sekitar 30 persen dari total pesanan 7Now di kawasan tersebut.
“Di sekitar sini ada sekitar 25 ribu keluarga yang bisa dijangkau,” tambahnya.
Masih Terus Dikembangkan
Meski sudah tampak canggih, LM-A masih terus dikembangkan. Salah satu pengujian terbaru adalah kemampuan menghindar bila ada orang yang bekerja di trotoar. Untuk kondisi darurat, operator dapat mengambil alih kendali dari jarak jauh.
Biaya pengembangan satu unit robot ini mencapai 2 juta yen atau sekitar Rp217 juta. Uchiyama mengungkapkan, timnya juga tengah menyiapkan versi baru bernama LM-P, yang kelak bukan hanya mengantar barang, tetapi juga mengantar orang.
Proyek robot kurir ini bukan sekadar demonstrasi teknologi futuristik. Ada kebutuhan sosial nyata di baliknya. Populasi Jepang yang kian menua membuat kebutuhan layanan praktis semakin tinggi—mulai dari belanja, pengantaran, hingga bantuan mobilitas.
Sekitar 20 menit setelah berangkat, LM-A akhirnya tiba di lokasi tujuan. Pelanggan, Honda Kazuya, mendekatkan ponselnya ke pemindai di badan robot. Kompartemen terbuka otomatis, menampilkan beberapa bungkus makanan kecil di dalamnya. Setelah diambil, pintu kembali tertutup rapat, dan robot itu berbalik arah untuk kembali ke minimarket.
Misinya tuntas. Tanpa sopir, tanpa bensin, tanpa suara knalpot. Hanya bunyi roda elektrik yang halus menyusuri trotoar.
Apakah robot seperti LM-A akan menggantikan kurir manusia di masa depan? Uchiyama hanya tersenyum. “Mungkin suatu hari nanti. Tapi, masih panjang jalannya. Kami terus belajar dan memperbaikinya,” ujarnya. (***)
Reporter : Juneka Subaihul Mufid
Editor : RATNA IRTATIK