Siapa mengira, di balik film-film laris Hollywood seperti Mile 22, Expend4bles, dan film-film lainnya seperti Fistful of Vengeance dan serial Wu Assassin, ternyata ada keterlibatan anak bangsa. Dia adalah Ryan Santoso. Sosok produser film yang berkiprah di dunia perfilman Indonesia dan internasional. RYAN Santoso, pria kelahiran 7 Juli 1995 itu sudah banyak terlibat dalam berbagai film terkenal. Ryan juga terlibat dalam produksi film Jamojaya. Film yang mengangkat kisah nyata rapper Indonesia Rich Brian. Sebuah film yang menggambarkan perjuangan Rich Brian menjadi rapper di Amerika Serikat.
Di Indonesia, Ryan Santoso terlibat dalam berbagai genre film yang berbeda. Dari drama keluarga Bila Esok Ibu Tiada, hingga film horor seperti Thaghut, Lone Samurai yang dibintangi Yayan Ruhian dan yang terbaru film aksi berjudul Timur yang disutradarai sekaligus dibintangi Iko Uwais.
Film Timur rencananya akan ditayangkan di bioskop pada 18 Desember 2025 mendatang. Film ini dibuat rumah produksi yang didirikan Ryan Santoso bersama Iko Uwais: Uwais Pictures. Di rumah produksi ini Ryan Santoso tak sekedar menjadi produser, tapi juga CEO.
Ryan Santoso mengatakan, Uwais Pictures adalah wadah kreativitas yang menampung kegelisahannya tentang film.
”Uwais Pictures adalah wadah kreativitas yang menampung kegelisahannya tentang film. Saya ingin mewujudkan visi saya tentang film. Bagaimana mewujudkan satu kisah yang tidak hanya menggugah emosi manusia tapi menjadi gambaran imajinasi tentang sebuah aksi-aksi yang bukan sekadar pertarungan fisik, tapi juga benturan nilai, keyakinan, dan pilihan hidup,” katanya.
Ryan Santoso menuturkan bahwa visi Uwais Pictures adalah menciptakan gebrakan baru dalam perfilman Indonesia. ”Kami ingin membawa film action Indonesia ke level berikutnya, bukan hanya soal adegan laga, tapi juga kualitas cerita dan produksi,” jelasnya.
Film, kata Ryan, bukan hanya soal adegan yang menegangkan, tapi tentang bagaimana setiap gerakan, tatapan, dan diam bisa bercerita. Tentang bagaimana penonton bukan hanya menyaksikan, tapi ikut merasakan denyut, rasa takut, dan keberanian di setiap detiknya.
“Karena bagi saya, film aksi sejati bukan hanya soal siapa yang menang atau kalah. Tapi tentang bagaimana manusia bertahan, berjuang, dan menemukan makna di balik setiap luka dan peluh,” katanya.
Untuk diketahui, Ryan memulai kariernya di industri perfilman internasional melalui film Mile 22 (2018), yang dibintangi oleh Mark Wahlberg dan Iko Uwais. Dalam proyek tersebut, Ia bergabung sebagai bagian dari tim asisten sutradara dan dipercaya untuk membantu proses komunikasi di lapangan dengan menerjemahkan antara bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Pengalaman ini menjadi titik awal penting yang mempertemukannya dengan Iko Uwais dan membuka jalan menuju kolaborasi jangka panjang di dunia perfilman.
Kariernya berkembang pesat ketika ia dipercaya oleh sutradara Justin Chon untuk turut membantu proses produksi film Jamojaya pada tahun 2023, yang dibintangi oleh Rich Brian dan Yayu A. W. Unru. Sejak saat itu, Ryan semakin aktif dalam dunia produksi, mengembangkan keahliannya sebagai produser dan terlibat dalam sejumlah film lintas genre.
Ryan Santoso terlibat sebagai produser pada beberapa film luar negeri seperti Fistful of Vengeance (2022), serial Wu Assassin (2019) dan film-film Hollywood seperti Mile 22 (2018) dan Expend4bles (2023). Di Indonesia, Ryan Santoso terlibat pada beberapa film seperti Bila Esok Ibu Tiada (2024), Thaghut (2024), Lone Samurai (2025), dan Ikatan Darah (2025) serta Timur (2025) yang disutradarai oleh Iko Uwais. (***)
Reporter : jp group
Editor : Alfian Lumban Gaol