Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Dua ledakan mengguncang Masjid SMAN 72 Jakarta di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, Jumat (7/11) siang. Peristiwa yang terjadi saat Salat Jumat berlangsung itu menyebabkan kepanikan dan melukai puluhan siswa serta guru.
Sebagian besar korban mengalami luka akibat serpihan ledakan, sementara beberapa lainnya menderita luka bakar. Hingga Jumat malam, tercatat 55 orang terluka dan telah dilarikan ke sejumlah rumah sakit.
Pasca-ledakan, beredar video di platform X memperlihatkan seorang pemuda terluka parah dengan kaus putih dan celana hitam. Pemuda itu disebut berinisial F, yang oleh sejumlah saksi dikenal sebagai siswa kelas XII di sekolah tersebut. Di dekat tubuhnya, ditemukan senjata api bertuliskan kalimat “14 Words. For Agartha.” dan “Brenton Tarrant. Welcome to Hell.”
Belum ada keterangan resmi apakah F merupakan pelaku peledakan.
Namun, sejumlah saksi menyebut pemuda itu dikenal tertutup dan kerap menjadi korban perundungan (bullying).
“Saya kenal dia. Sering di-bully, sering sendirian. Saya menduga dia ingin balas dendam dan bunuh diri,” kata S, salah seorang siswa kelas XI yang berada di lokasi, seperti dikutip dari Antara.
Menurut S, ledakan terjadi saat khutbah Jumat baru selesai dan iqamah hendak dikumandangkan. “Saya di selasar masjid, jadi tidak kena ledakan. Tapi banyak teman luka, saya bantu menolong,” ujarnya.
Dugaan sementara, ledakan berasal dari bom molotov. Polisi juga menemukan satu kaleng minuman bersoda yang berisi bahan peledak dan diduga gagal meledak.
Tulisan “Welcome to Hell” di Senjata
Kabidhumas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto membenarkan adanya dua benda menyerupai senjata api di lokasi kejadian.
“Kami belum bisa memastikan apakah rakitan atau pabrikan, tapi benar ada benda seperti senjata di TKP,” ujarnya.
Di senjata tersebut tercantum tiga nama pelaku penembakan masjid di luar negeri: Brenton Tarrant (Selandia Baru), Alexandre Bissonnette (Kanada), dan Luca Traini (Italia). “Senjata ditemukan di dekat dua korban,” jelasnya.
Ketiganya dikenal sebagai pelaku serangan teroris yang menargetkan umat Muslim di negara masing-masing.
Kapolda Metro Jaya Irjen Asep Edi Suheri menyampaikan bahwa korban luka terdiri atas 54 orang luka ringan dan sedang, sebagian telah dipulangkan. “Kami sudah buka dua posko di RS Yarsi dan RS Islam Cempaka Putih,” katanya.
Beberapa jam kemudian, Asep memperbarui jumlah korban menjadi 55 orang. Lokasi kejadian telah dipasangi garis polisi dan disterilkan oleh tim penjinak bom.
Wakapolri Komjen Dedi Prasetyo menyebut Presiden Prabowo Subianto telah menerima laporan mengenai insiden tersebut. “Masih dalam penyelidikan, belum ada arahan khusus dari presiden,” ujarnya.
Wamenko Polkam: Senjata Hanya Mainan
Wakil Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Lodewijk Freidrich Paulus meninjau langsung lokasi kejadian. Ia memastikan bahwa dua senjata yang ditemukan bukan senjata api sungguhan.
“Itu senjata mainan, kemungkinan airsoft gun,” kata Lodewijk.
Kadispenal Laksma TNI Tunggul juga menyampaikan duka cita atas insiden tersebut. “Kejadian itu berada di kompleks TNI AL. Personel kami langsung membantu evakuasi dan membawa korban ke rumah sakit,” ujarnya.
Menurut Tunggul, ledakan terjadi pukul 12.15 WIB. TNI AL dan Polri kini masih menyelidiki penyebab ledakan dan memastikan identitas pelaku.
Pemprov DKI Tanggung Biaya Pengobatan
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung turun langsung ke lokasi dan menjenguk korban di RS Islam Jakarta Cempaka Putih.
“Semua korban dalam keadaan sadar. Ada satu yang harus dioperasi,” ujarnya.
Pramono menegaskan seluruh biaya perawatan korban akan ditanggung sepenuhnya oleh Pemprov DKI Jakarta. “Semua korban, baik di RS Islam maupun rumah sakit lainnya, menjadi tanggung jawab Pemprov,” katanya.
Kemendikdasmen Siapkan Pendampingan Psikologis
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) turut menyampaikan keprihatinan atas insiden di SMAN 72. Direktur SMA Ditjen PAUD Dikdasmen, Winner Jihad Akbar, mengatakan keselamatan warga sekolah menjadi prioritas utama.
“Kami memastikan seluruh proses evakuasi dan penanganan korban dilakukan cepat. Area sekolah sudah diamankan sementara untuk menjamin keselamatan,” jelasnya.
Kemendikdasmen juga menyiapkan layanan pendampingan psikologis bagi siswa, guru, dan warga sekolah sebagai bagian dari proses pemulihan.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf pun menyampaikan hal senada. Ia meminta masyarakat tetap tenang dan tidak berspekulasi. “Kita tunggu hasil penyelidikan polisi. Pemerintah juga akan memberikan santunan dan pendampingan psikososial bagi korban,” ujarnya. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK