Buka konten ini

raBit, fasilitas penelitian yang menjadi simbol kebangkitan Fukushima, Jepang, tak menggunakan jagung atau gula sebagai material etanol karena bahan pangan seharusnya menjadi makanan, bukan bahan bakar. Target riset tiga tahun dan kelak hasilnya
ditujukan untuk dunia.
EMPAT belas tahun lalu, tsunami meluluhlantakkan pesisir Fukushima, Jepang. Kota yang dulu hiruk mendadak berubah sunyi. Ratusan ribu orang kehilangan rumah, sebagian kehilangan harapan. Namun, seperti umumnya semangat orang-orang Jepang yang tak mudah menyerah, Fukushima memilih untuk bangkit. Bukan hanya membangun kembali, tapi juga menatap masa depan dengan cara yang berbeda.
Di Okuma Town, jantung Prefektur Fukushima, berdiri sebuah fasilitas penelitian yang menjadi simbol baru kebangkitan: Research Association of Biomass Innovation for Next Generation of Renewable Fuels atau disingkat raBit.
Di sinilah para ilmuwan bekerja tanpa henti meneliti bahan bakar alternatif yang disebut etanol generasi kedua — energi yang lahir bukan dari ladang pangan, melainkan dari limbah pertanian.
”Kawasan ini terus berupaya untuk bangkit dan memulihkan diri,” ujar Chairperson of Steering Committee raBit Yasunobu Seki dengan nada tenang namun penuh makna, kepada rombongan media trip Toyota – Japan Mobility Show 2025 pada Jumat (31/10) pekan lalu.
Fokus penelitian utama raBit mencakup tiga bidang. Masing-masing pengembangan sistem produksi etanol generasi kedua yang tidak bersaing dengan pangan, pemanfaatan oksigen dan CO₂ sebagai produk samping untuk meningkatkan efisiensi produksi biofuel dan hidrogen, serta riset mengenai metode operasi sistem secara keseluruhan, termasuk penggunaan biofuel pada sektor otomotif.
Menurut Seki, riset mereka bukan sekadar soal energi, tapi juga tentang etika dan keberlanjutan. Etanol yang digunakan saat ini umumnya berasal dari jagung atau gula, bahan pangan yang seharusnya menjadi makanan, bukan bahan bakar.
Dari situlah lahir gagasan untuk menciptakan etanol nonpangan berbasis limbah seperti jerami dan ampas tebu. Untuk mewujudkannya, raBit harus mengurai biomassa menjadi tiga komponen utama: selulosa, hemiselulosa, dan lignin.
Hanya dua yang pertama bisa diolah menjadi etanol, sementara lignin yang keras tetap menjadi limbah padat. Proses ini menuntut teknologi canggih, enzim khusus, dan ragi unggulan — pekerjaan rumit yang hanya bisa dilakukan di fasilitas berteknologi tinggi seperti raBit.
Libatkan Industri Otomotif
Tak hanya para ilmuwan yang terlibat. Riset ini adalah kolaborasi besar antara raksasa industri Jepang seperti Toyota, Subaru, Suzuki, Mazda, Eneos, hingga Yamaha. Mereka bersatu dalam satu visi: menciptakan bahan bakar karbon netral yang terjangkau dan berkelanjutan.
Pada kesempatan terpisah, dalam sesi Toyota Global Workshop bersama media, Chief Technology Officer Toyota Motor Corporation Hiroki Nakajima mengamini bahwa pengembangan etanol berbasis komoditas nonpangan penting dilakukan. ”Secara global, pemanfaatan bahan pangan untuk memproduksi bahan bakar kendaraan kerap memunculkan perdebatan, apakah itu sesuatu yang etis. Itulah mengapa penting untuk terus mengembangkan riset etanol berbasis komoditas nonpangan,” ujar Nakajima.
Nakajima membenarkan bahwa pihaknya melakukan penelitian bersama sejumlah perusahaan terkait otomotif lain guna meningkatkan pemahaman proses produksi etanol yang lebih efisien. ”Saat ini, riset tersebut masih dalam tahap eksperimental, namun kami optimistis bahwa etanol berbasis nonpangan dapat menjadi solusi penting untuk memperluas pemanfaatan biofuel di berbagai wilayah,” tambahnya.
Namun, jalan menuju ke sana tidak mudah. Seki mengakui, tantangan utama terletak pada logistik dan biaya. Mengumpulkan limbah pertanian dalam jumlah besar bukan perkara sederhana.
”Ini bukan masalah kebijakan atau ketersediaan bahan, tapi lebih pada teknis pengumpulan dan distribusi logistiknya,” ujarnya.
Sebagai organisasi nirlaba, mereka menargetkan tiga tahun ke depan sebagai masa riset intensif. Visinya bukan hanya untuk Jepang, tapi juga untuk dunia. ”Tujuan akhirnya adalah menjadikan bahan bakar karbon netral sebagai solusi global,” tutur Seki.
Kini, raBit bukan sekadar laboratorium. Ia adalah lambang semangat baru Fukushima — wilayah yang dulu hancur oleh bencana alam dan kini menyalakan harapan lewat energi bersih. Di antara sisa-sisa tragedi, muncul cahaya kecil dari sebuah laboratorium yang percaya bahwa masa depan yang hijau bisa tumbuh dari abu masa lalu. (***)
Reporter : AGFI SAGITTIAN
Editor : RATNA IRTATIK