Buka konten ini

BATAM (BP) – Arus penumpang di Pelabuhan 99 Batuampar, Batam, membludak pada Minggu (2/11) pagi. Kapal Pelni dijadwalkan bertolak menuju Belawan, Medan. Namun di tengah keramaian itu, keselamatan penumpang justru seolah diabaikan.
Untuk mencapai dermaga keberangkatan, para penumpang harus melintasi area penuh tumpukan kontainer dan lalu-lalang alat berat. Jalur sempit dan berdebu menjadi satu-satunya akses menuju kapal.
Pantauan Batam Pos, deretan kontainer menjulang tinggi di sisi kanan dan kiri jalan pelabuhan. Kendaraan pribadi, ojek, dan pejalan kaki saling berebut ruang di antara truk-truk besar. Suasana makin semrawut dengan suara klakson, debu beterbangan, dan teriknya matahari yang menyengat.
“Kami seperti bertaruh nyawa, harus berjalan di antara kontainer dan truk-truk besar,” keluh Nani, warga Batam yang hendak berangkat ke Medan.
Ia mengaku terkejut melihat kondisi pelabuhan yang jauh dari kata layak.
Menurutnya, jarak antara pintu masuk hingga dermaga mencapai hampir satu kilometer.
“Bayangkan, penumpang bawa koper dan anak kecil, tapi harus jalan jauh di tengah debu dan kendaraan berat. Ini sangat berisiko,” ujarnya.
Keluhan serupa datang dari Ahmad, warga Batamcenter. Ia mengaku tak menyangka pelabuhan di Batam dalam kondisi semrawut seperti itu.
“Kalau di Belawan, area penumpang dan kargo dipisah. Di sini malah campur jadi satu. Sangat berbahaya,” katanya.
Selain persoalan keselamatan, pengendara yang mengantar penumpang juga mengeluhkan pungutan ganda di area pelabuhan. Setiap kendaraan roda empat dikenakan biaya parkir Rp5.000 untuk dua jam pertama, ditambah biaya pas Rp2.000 tanpa bukti pembayaran resmi.
“Sudah bayar parkir, kena lagi biaya pas. Nggak tahu ini resmi atau tidak. Karcis parkir diambil lagi sama petugas,” kata Priatna, salah seorang pengantar penumpang.
Situasi makin semrawut dengan banyaknya porter yang menunggu di pintu masuk pelabuhan. Mereka berebut menawarkan jasa angkut barang, bahkan beberapa terlihat mengintip ke jendela mobil penumpang untuk melihat peluang jasa.
“Tak enak banget, mereka mengintip ke mobil. Harusnya ada batas dan pengaturan supaya lebih tertib,” ujar Ika, warga lainnya.
Masyarakat berharap pemerintah dan pihak pengelola segera menata ulang area Pelabuhan 99 Batuampar. Selain soal kenyamanan, keselamatan penumpang juga menjadi taruhannya.
“Ini pelabuhan besar di Batam, tapi kondisinya sangat memprihatinkan,” tambah Ika. (*)
Reporter : YASHINTA
Editor : GALIH ADI SAPUTRO