Buka konten ini

Kijang bukan sekadar nama sebuah kota di timur Pulau Bintan. Di balik hiruk-pikuknya hari ini, tersimpan kisah panjang tentang kejayaan masa silam. Di sanalah jejak Kota Tambang legendaris itu berawal. Dari bangunan tua, monumen bauksit, hingga kolam peninggalan zaman Belanda.
TAMBANG bauksit dan kota tua ini memang sulit terpisahkan. Sebab, kota yang berjarak 25 kilometer dari Kota Lama Tanjungpinang ini, menjadi salah satu pusat tambang legendaris di Pulau Bintan tempo dulu.
Kota tua yang masyhur sebagai Kota Tambang itu adalah Kota Tua Kijang. Kota klasik yang berada di wilayahKecamatan Bintan Timur ini, masih menyimpan jejak tempo dulu yang tidak lekang oleh zaman.
Jejak tempo dulu sebagai Kota Tambang bermula pada tahun 1935 hingga 1942. Saat itu, NV Naamloze Venotschap Indische Bauxit Exploitatie Maatschappij (NIBEM), mengelola tambang bauksit di Kota Tua Kijang.
Perusahaan tambang bauksit milik Belanda itu telah mengelola tambang bauksit di Kota Tua Kijang di pulau Bintan, hingga Jepang masuk ke Kepri pada tahun 1942 silam.
Saat mengelola tambang, NV NIBEM juga banyak membangun banyak fasilitas. Salah satunya Cable Way (kereta gantung) yang mengangkut bauksit dari Pulau Koyan ke Kota Tua Kijang, Bintan.
Pada 1939, Dr. RW Van Bemmelen memimpin pembangunan pusat penelitian geologi di Kota Tua Kijang, Bintan, atau terkenal dengan Sungai Kolak.Tambang bauksit di Kota Tua Kijang berlanjut hingga zaman kemerdekaan. Pada tahun 1959, Pemerintah Indonesia mengambil alih tambang bauksit di Kijang, Bintan.
”Sekitar tahun 1960-an, pemerintah Indonesia kemudian menyerahkan pengelolaan tambang bauksit di Kijang kepada PT Aneka Tambang (Antam),” ungkap Peneliti Sejarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dedi Arman.
Kejayaan tempo dulu pun berlalu, PT Antam kemudian menghentikan operasional tambang bauksit di Kota Tua Kijang sejak 22 September 2009 silam.
Meskipun demikian, PT Antam tetap berkomitmen menjalankan program pasca tambang bauksit di Kijang yang meliputi reklamasi serta kegiatan CSR.
Tujuannya untuk memulihkan dan melestarikan lingkungan pasca tambang di Kota Tua Kijang hingga mempercepat kemandirian ekonomi masyarakat Kabupaten Bintan.
Untuk meninggalkan jejak historis tempo dulu yang legendaris ini, PT Antam kemudian membangun sebuah tugu, monumen dan relief tambang bauksit di pusat Kota Tua Kijang.
Jejak tempo dulu yang masih tersisa yakni penampakan kolam bekas pencucian biji bauksit. Tidak jauh dari kolam atau danau ini, berdiri megah Masjid Raya Nurul Iman Kijang yang juga peninggalan PT Antam.
Masjid Raya Nurul Iman Kota Tua Kijang yang dapat menampung lebih kurang 3 ribu jemaah ini, didirikan oleh PT Antam. Lahan yang dipergunakan untuk membangun masjid merupakan tanah milik seorang etnis Tionghoa di Kijang.
Saat itu, lahan tersebut merupakan rumah tempat tinggal milik seorang etnis Tionghoa yang sekaligus dijadikan tempat usaha keluarganya dan kompleks perumahan.
Setelah kompleks tersebut sudah tidak lagi dipergunakan dan setelah ada pertukaran letak tanah oleh PT Antam dengan pemilik lahan.
”Sekitar tahun 1960-an, PT Antam mendirikan Masjid Raya Nurul Iman,” kata Dedi.
Jejak Kejayaan sebagai Kota Tambang Seorang warga kelahiran Kota Tua Kijang yakni Muhamad Nasrun, menceritakan nostalgia masa kecilnya. Saat itu ia merasakan kejayaan Kota Tua Kijang sebagai Kota Tambang.
Lelaki berusia 56 tahun yang akrab disapa Lok Long ini, mengatakan saat masa kecilnya, di Kota Tua Kijang terdapat banyak fasilitas. Terutama fasilitas olahraga yang disediakan oleh PT Antam.
Saat masa kejayaan itu, PT Antam membangun kompleks perumahan karyawan, kolam renang, lapangan tenis, tempat permainan bowling, tempat permainan biliar, hingga lapangan golf.
Sepengetahuan Lok Long, pembangunan fasilitas di Kota Tua Kijang itu, bertujuan untuk menghibur para karyawan atau pegawai PT Antam untuk mengisi hari libur bekerja.
Kemudian, lanjut Lok Long, pihak perusahaan juga menyediakan seorang tukang cukur rambut yang khusus untuk mencukur para karyawan dan warga Kota Tua Kijang.
”Orang tua kami juga karyawan di situ (PT Antam). Jadi orang tua kami sering mengajak kami bermain saat hari libur,” ungkap Lok Long, Sabtu (1/11).
Selain itu, pihak perusahaan juga mendirikan Band Alumina. Band ini selalu tampil untuk menghibur masyarakat saat Hari Kemerdekaan 17 Agustus setiap tahunnya.
”Kalo acara 17 Agustus, band bisa tampil selama 3 hari. Ada tari-tarian, breakdance dan juga seleksi band band yang berasal dari SMP dan SMA di Kijang,” kata Lok Long yang sempat menjadi kru band Alumina.
Saat ini, kata Lok Long, keberadaan seluruh fasilitas pendukung yang tersedia tersebut, tidak lagi berbekas. Namun tetap menjadi pengingat kejayaan Kota Tua Kijang masa lampau.
”Ya jadi kenangan masa lalu saja dan tidak ada lagi jejaknya fasilitas itu. Tapi jejak kejayaan sebagai Kota Tambang tetap masih ada,” terangnya.
Kini jejak kejayaan tempo dulu sebagai Kota Tambang terlihat dengan adanya tugu, monumen dan relief tambang bauksit yang terletak di pusat kota. Lokasi ini menjadi tempat perhelatan berbagai kegiatan.
Tidak jauh dari tugu, monumen dan relief tersebut, berdiri satu Masjid Besar atau Masjid Raya Nurul Iman Kijang yang berbalut warna hijau yang megah dan mempesona.
Selanjutnya, terdapat bekas kolam pencucian bijih bauksit yang kini menjadi taman kota. Pepohonan yang rindang turut menghiasi pinggiran taman kota ini.
Di tepian kolam taman kota ini, tersedia bangku-bangku yang tersusun rapi yang menjadi tempat bersantai sembari menikmati keindahan kota.
Tidak jauh dari taman kota, terdapat kebun binatang. Hal ini membuat taman kota Kijang ini semakin lengkap sebagai tempat bersantai bersama keluarga.
Di taman kota ini juga tersedia berbagai permainan anak dan keluarga. Jadi taman kota ini menjadi pilihan tepat untuk melepas lelah dan tempat rekreasi pilihan warga.
Tak hanya itu, di taman kota ini juga tumbuh pohon sakura yang mekar setahun dua kali. Sehingga membuat tempat rekreasi keluarga ini semakin indah dan asri.
”Ada juga Kijang City Walk yang menambah keasrian kota. Setiap sore hari hingga malam hari, masyarakat dari Bintan, Tanjungpinang, Batam meramaikan tempat ini,” tutup Lok Long. (*)
Reporter : YUSNADI NAZAR
Editor : RATNA IRTATIK