Buka konten ini

BATAM (BP) – Kabar duka datang dari Keraton Kasunanan Hadiningrat Surakarta. Sinuhun Pakubuwono (PB) XIII wafat pada Minggu (2/11) pagi dalam usia 77 tahun.
Kabar berpulangnya raja Keraton Surakarta itu pertama kali disampaikan tokoh masyarakat Solo, Sumartono Hadinoto, melalui pesan WhatsApp di grup PMI bersama awak media sekitar pukul 07.29 WIB. Kabar tersebut kemudian dibenarkan R.Ay. Febri Hapsari Dipokusumo, istri dari adik PB XIII, KGPH Dipokusumo.
”Njih (benar), nyuwun doanya,” ujar Febri saat dikonfirmasi wartawan.
Salah satu kerabat dekat Keraton Surakarta Hadiningrat, Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Eddy S. Wirabhumi, menyampaikan bahwa PB XIII mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Indriati, Solo. Ia wafat karena komplikasi beberapa penyakit, termasuk diabetes, yang diperparah faktor usia.
”Beliau sempat membaik dan pulang, bahkan hadir dalam acara adang dal (tradisi menanak nasi delapan tahunan memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW) pada September lalu. Namun, setelah itu kembali sakit dan akhirnya dirawat lagi hingga berpulang,” tutur Eddy.
Pihak keluarga besar dan keraton tengah mempersiapkan prosesi pemakaman. Rencananya, jenazah PB XIII akan dimakamkan di Kompleks Makam Raja-Raja Imogiri, Yogyakarta, pada Selasa (4/11) bertepatan dengan Selasa Kliwon, setelah seluruh prosesi adat keraton selesai.
”Sebelum dibawa ke Imogiri, jenazah akan disemayamkan di area belakang pendapa utama. Rencananya pukul 13.00 atau 14.00 WIB,” kata Eddy.
Sementara itu, adik almarhum, KGPH Suryo Wicaksono atau Gusti Nino, melalui kanal YouTube Pesanggragan Langenharjo, menjelaskan bahwa jenazah PB XIII akan dimandikan di Masjid Pujasumo (atau Pujosono) di dalam keraton, sebelum disemayamkan di Pendapa Sasana Sewaka.
”Selama masa penyemayaman, masyarakat diperbolehkan hadir memberikan doa dan penghormatan terakhir,” ujar Gusti Nino.
Perjalanan Menuju Takhta
Wafatnya PB XIII mengingatkan kembali perjalanan panjangnya menuju singgasana raja. Setelah Susuhunan Pakubuwono XII wafat pada 11 Juni 2004, sempat terjadi perbedaan pendapat di internal keluarga mengenai siapa yang berhak menggantikan posisi raja.
Sebagian putra-putri PB XII menobatkan KGPH Tejowulan sebagai raja pada 31 Agustus 2004. Padahal, dalam rapat Forum Komunikasi Putra-Putri PB XII pada 10 Juli 2004, telah disepakati bahwa putra tertua, KGPH Hangabehi, akan naik takhta pada 10 September 2004.
Ketegangan pun sempat memuncak. Awal September 2004, pendukung Tejowulan memasuki dan mendobrak pintu keraton hingga menyebabkan sejumlah orang terluka.
Laporan kemudian dilayangkan ke Polresta Surakarta atas dugaan perusakan cagar budaya.
Meski begitu, penobatan KGPH Hangabehi sebagai Pakubuwono XIII tetap berlangsung pada 10 September 2004 di Keraton Surakarta. Dualisme kepemimpinan berakhir setelah Tejowulan secara resmi mengakui PB XIII sebagai raja sah melalui proses rekonsiliasi yang dimediasi oleh Pemerintah Kota Surakarta dan DPR RI. Dalam kesepakatan itu, Tejowulan diangkat menjadi Mahapatih (kemudian Mahamenteri) bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Harya Panembahan Agung.
Sejak penobatannya, PB XIII dikenal aktif melestarikan kebudayaan Jawa. Ia memimpin Museum Keraton Surakarta dan menerima Bintang Sri Kabadya I atas jasanya membantu penanganan kebakaran keraton pada 1985.
Di bawah kepemimpinannya, berbagai upacara adat seperti Labuhan, Garebeg, Sekaten, dan Kirab Malam 1 Sura rutin digelar. Ia juga meneruskan tradisi pemberian gelar kebangsawanan kepada tokoh berprestasi yang berjasa bagi budaya Jawa.
Selain itu, PB XIII aktif mendukung pelestarian seni tradisional seperti pameran keris, tosan aji, dan pergelaran wayang kulit. Pada 2018, ia bahkan meraih penghargaan sebagai penggagas pergelaran wayang kulit dengan kelir terpanjang di dunia. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK