Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Pernah merasa rumah terasa sumpek padahal aktivitas tidak banyak? Ternyata, bukan hanya beban pikiran yang memicu stres, tetapi juga desain ruang yang “mati udara”.
Ruangan yang tidak memiliki sirkulasi baik dapat memengaruhi suasana hati, produktivitas, hingga kesehatan mental. Dari sinilah muncul konsep breathing architecture — seni merancang hunian yang mampu “bernapas” bersama penghuninya.
Di Indonesia yang beriklim tropis lembap, keberadaan udara segar dan cahaya alami bukan sekadar unsur estetika, melainkan kebutuhan penting. Keduanya dapat menjadi “terapi hening” yang menenangkan pikiran tanpa perlu perangkat tambahan.
Apa Itu Konsep “Breathing Architecture”?
Konsep ini berangkat dari pemahaman bahwa bangunan harus hidup dan berinteraksi dengan penggunanya. Breathing architecture mengatur sirkulasi udara alami agar ruangan tidak pengap, sekaligus menjaga suhu serta kelembapan tetap nyaman.
Menurut Ir Erni Triandini, pakar arsitektur bioklimatik ITB, mengatakan, ruang yang bernapas membantu pikiran juga bernapas. Itu sebabnya cahaya alami punya efek terapi tersendiri. Artinya, desain rumah yang sehat dapat menciptakan ketenangan tanpa bantuan alat terapi apa pun.
Bagaimana Posisi Jendela dan Ventilasi Bisa Menenangkan Pikiran?
Jendela dan ventilasi bukan hanya sekadar tempat udara masuk, melainkan “paru-paru” rumah. Arah serta penempatannya menentukan kualitas sirkulasi. Arah timur dan barat, misalnya, menghadirkan intensitas cahaya berbeda yang dapat memengaruhi ritme biologis tubuh.
Pemasangan skylight di area tengah rumah juga dapat menambah kesan lapang. Cahaya yang masuk dari atas memberikan efek psikologis lega dan ringan, menyerupai langit terbuka yang menenangkan penglihatan. Cahaya pagi yang lembut pun terbukti merangsang hormon serotonin, yang berperan dalam meningkatkan suasana hati.
Apakah Rumah di Balikpapan Bisa Sejuk Alami Tanpa AC?
Bisa sekali. Salah satu contohnya adalah rumah di kawasan Gunung Samarinda Ilir yang menerapkan ventilasi silang. Arsitek memanfaatkan perbedaan tekanan udara di bagian depan dan belakang rumah agar udara bergerak secara berkelanjutan.
Dengan tambahan taman kecil di tengah rumah serta bukaan atap yang cukup besar, suhu ruangan dapat turun hingga 5°C dibanding rumah pada umumnya. Selain hemat energi, penghuninya juga mengaku tidur lebih nyenyak dan merasa lebih rileks karena ruang terasa “hidup”.
Bagaimana Tips Praktis Mengatur Udara Tanpa Renovasi Besar?
Bagi yang belum siap melakukan renovasi, ada langkah sederhana yang bisa diterapkan. Manfaatkan ventilasi silang alami dengan membuka jendela di dua sisi yang berlawanan pada pagi dan sore hari. Tambahkan tanaman dalam ruang seperti sansevieria atau lidah mertua yang membantu menyerap karbon dioksida dan menyegarkan udara.
Selain itu, hindari penggunaan tirai tebal sepanjang hari. Pilih tirai tipis berwarna terang agar cahaya tetap masuk lembut tanpa menimbulkan silau. Perubahan kecil seperti ini dapat menurunkan tingkat stres dan membuat pikiran terasa lebih ringan.
Rumah bukan hanya tempat berteduh, tetapi ruang yang memengaruhi suasana hati. Udara segar dan cahaya alami merupakan dua elemen sederhana yang sering terabaikan, padahal berperan besar untuk kebahagiaan harian penghuninya.
Udara segar yang terus mengalir membantu menurunkan kadar karbon dioksida di dalam ruangan dan meningkatkan pasokan oksigen. Kondisi ini membuat tubuh lebih rileks dan pikiran terasa tenang. Sementara itu, cahaya alami yang masuk melalui jendela atau bukaan rumah turut merangsang produksi hormon serotonin, yang berperan mengatur suasana hati serta ritme tidur.
Hasilnya, tubuh akan terasa lebih segar dan stabil secara emosional sepanjang hari. Konsep breathing architecture tidak hanya berlaku untuk rumah berukuran besar. Rumah kecil pun bisa “bernapas” dengan memaksimalkan bukaan, menggunakan warna dinding yang cerah agar ruang terasa lapang, serta menambahkan ventilasi silang untuk memastikan udara bergerak secara alami dari satu sisi ke sisi lainnya. Dengan langkah sederhana ini, hunian tetap terasa nyaman, hidup, dan sehat. (*)
Reporter : JP Group
Editor : FISKA JUANDA