Buka konten ini

Ki Anom Suroto dikenang keluarga dan sahabat sebagai ayah humoris, dalang yang tak pernah pelit membagi ilmu, serta memiliki kemampuan suluk yang menggetarkan. Sebuah film tentang perdalangan yang dia cita-citakan tengah digarap dan diharapkan bisa dirilis tahun depan.

”NEK koe sesuk nang Magetan, tak delok soko kadohan. Aku sesuk arep lungo adoh” (Kalau kamu besok ke Magetan, aku lihat dari jauh. Aku besok mau pergi jauh).
KI Anom Suroto menyampaikan itu kepada putranya, Ki Bayu Aji, yang menemaninya di RS Dr Oen Kandang-sapi Solo, tempatnya dirawat. Rabu (22/10) malam itu, kepada ayahnya yang merupakan maestro pedalangan wayang kulit, Ki Bayu bercerita bahwa ia hendak mendalang di Magetan, Jawa Timur.
Dan, Ki Anom Suroto ternyata benar-benar “pergi jauh.” Kamis (23/10) pagi pukul 07.30, maestro pedalangan itu berpulang setelah empat hari dirawat di rumah sakit tersebut karena penyakit jantung.
“Alhamdulillah, kepergian beliau sangat bagus karena tidak merasakan sedikit pun sakit,” kata Ki Bayu yang juga seorang dalan itu, seperti dikutip dari Radar Solo (grup Batam Pos).
Kanjeng Raden Tumenggung Haryo Lebdo Nagoro atau lebih dikenal sebagai Ki Anom Suroto, dalang yang pernah tampil di lima benua dan penerima banyak penghargaab, dimakamkan di pemakaman keluarga di Dhepokan, Juwiring, Klaten, Jawa Tengah. Di tempat itulah juga bersemayam sang ayah Ki Sadiyun Harkadarsana, sang ibu Sawini, dan sang adik Ki Warseno Slenk.
Ki Bayu menyebut, sang ayah bahkan sempat melakukan suluk (lagu/vokal yang dinyanyikan untuk memberikan suasana dalam seni pedalangan, red). “Yang beliau dawuh, pertama, mayango manut ilmu. Jangan sampai keluar dari jalurmu. Terus manuto karo paugerane wong mayang. Ora-orane nek kowe luwe (mendalang sesuai ilmunya, jangan sampai keluar dari jalurmu, dan ikuti aturan orang mendalang. Tidak akan kamu kelaparan),” ujar Ki Bayu mengulang pesan sang maestro ketika ditemui di rumah duka di Kebon Seni Timasan, Sukoharjo, Jawa Tengah.
Sang ayah, lanjut Ki Bayu, menekankan pentingnya substansi dalam setiap pementasan. Dalang bertugas mengumpulkan penonton, memberi petuah, dan menunjukkan bahwa “orang menanam akan menuai” dalam satu malam pakeliran.
Sumur Ilmu
Ki Anom Suroto adalah salah seorang dalang wayang kulit purwa paling berpengaruh di Indonesia. Namanya mulai dikenal luas sejak tahun 1975 berkat gaya pedalangan yang luwes dan kemampuannya memadukan tradisi klasik dengan sentuhan modern.
Tentang kemampuan suluk-nya, dosen Etnomusikologi ISI Surakarta Aris Setiawan menyebut, itu merupakan gabungan antara bakat alam dan kedisiplinan berlatih. Kemampuan vokalnya membuat suluk menjadi lebih hidup dan berkarakter.
“Kata orang Jawa, vokal Pak Anom itu gandhem dan menggetarkan,” kata Aris.
Di mata pelawak senior Kirun, Ki Anom ibarat sumur ilmu, tempat banyak orang menimba pengetahuan dan wawasan. “Pak Anom itu tidak bisa dilihat dengan mata, tak bisa ditulis dengan tinta, bisanya ditulis dengan seni budaya,” kata Kirun dengan mata basah saat memberikan sambutan sebelum jenazah diberangkatkan ke pemakaman.
Erik Estrada, aktor dan pelawak, mengucapkan terima kasih karena setahun ini dirinya dianggap sebagai anak angkat Ki Anom. Dari sana, Erik bisa memahami keinginan-keinginan almarhum agar seniman lokal di Solo dapat berkiprah di jenjang yang lebih tinggi.
Erik juga menyampaikan, Ki Anom berkeinginan membuat film tentang pedalangan. Saat ini, film itu telah dalam tahap pengerjaan olehnya dan Ki Bayu. “Pak Anom ingin membikin sebuah film tentang kultur dalang. Semoga bisa terealisasi dan tahun depan bisa segera rilis,” ucapnya.
Di tengah keluarga, Ki Anom adalah sosok yang sangat humoris. “Beliau itu di rumah nek pun gelem guyon (kalau sudah mau bercanda) itu sangat luar biasa,” kata Ki Bayu Aji.
Ia menambahkan, sang ayah merupakan orang tua yang bertanggung jawab dan tidak pernah membentak anaknya. Bahkan saat mengkritik pementasan, disampaikan dengan lembut dan konstruktif.
Ki Bayu Aji pun bertekad meneruskan perjuangan sang ayah. “Saya akan meneruskan dengan corak gaya pakeliran beliau, dengan modifikasi gaya pakeliran saya. Tapi, ora ninggal pondasine gaya Anom Suroto, itu saja sudah,” katanya. (***)
Reporter : SILVESTER KURNIAWAN
Editor : RYAN AGUNG