Buka konten ini
BATAM (BP) – Kecelakaan kerja kembali dikabarkan terjadi di galangan kapal PT ASL Marine Shipyard, Tanjunguncang, Rabu (29/10) sore, sekitar pukul 16.30 WIB. Insiden ini terjadi saat pengerjaan blasting painting pada sebuah tongkang.
Informasi yang diperoleh menyebutkan, kecelakaan tersebut dipicu korsleting listrik di area kerja tertutup yang kemudian menyebabkan ledakan. Akibatnya, dua pekerja mengalami luka dan dilarikan ke rumah sakit menggunakan ambulans.
Salah seorang pekerja membenarkan adanya kecelakaan kerja tersebut. Ia mengatakan peristiwa itu terjadi saat pe-ngerjaan kapal tongkang bentangan baru.
“Ada korsleting dan ledakan. Dua orang pekerja dibawa ke rumah sakit,” ujar pekerja yang enggan menyebutkan namanya.
Sementara itu, Kapolsek Batuaji AKP Raden Bimo Dwi Lambang mengatakan, pihaknya tengah menelusuri kecelakaan kerja di PT ASL Marine Shipyard.
“Ada informasi seperti itu (kecelakaan kerja), tapi kami belum menerima laporan resmi dari siapa pun,” ujarnya.
Diduga, kecelakaan ini sengaja ditutupi pihak perusahaan. Sebab, dalam empat bulan terakhir telah terjadi tiga kecelakaan yang menyebabkan puluhan pekerja meninggal dunia.
“Ini masih kami cek faktanya,” tuturnya.
Kasus Ledakan MT Federal II Masuk Tahap Penyelidikan
Penyelidikan kasus ledakan kapal MT Federal II di kawasan galangan PT ASL Shipyard, Tanjunguncang, terus berlanjut. Hingga Rabu (30/10), jumlah saksi yang telah dipe-riksa mencapai 43 orang, termasuk pihak pengawas dari Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker).
Kapolresta Barelang Kombes Zaenal Arifin mengatakan, proses penyelidikan kini sudah memasuki tahap hasil gelar perkara. Tim penyidik masih menunggu hasil resmi dari Laboratorium Forensik (Labfor) Polri untuk menentukan langkah hukum selanjutnya, termasuk penetapan tersangka.
“Saat ini kami masih menunggu hasil penelitian Labfor untuk disinkronkan dengan keterangan para saksi. Setelah semuanya lengkap, baru bisa disimpulkan siapa yang paling bertanggung jawab,” ujar Zaenal.
Ia menegaskan, penyelidikan dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya menyasar pekerja lapangan atau pihak subkontraktor, melainkan juga manajemen utama PT ASL serta seluruh pihak terkait pengawasan keselamatan kerja. “Kami tidak berhenti di level bawah.
Semua pihak yang punya peran akan dimintai pertanggungjawaban,” tegasnya.
Dari hasil perkembangan terakhir, jumlah korban meninggal dunia bertambah menjadi 14 orang, setelah satu korban luka bakar yang sempat dirawat intensif di RS Mutiara Aini dinyatakan meninggal dunia. Sementara beberapa korban lainnya masih menjalani perawatan lanjutan akibat luka bakar dan trauma berat.
Kecelakaan maut yang terjadi Rabu (15/10) dini hari itu menewaskan belasan pekerja dan melukai puluhan lainnya. Ledakan dahsyat di kapal MT Federal II terjadi saat proses pembersihan dan pengelasan tangki, yang diduga masih mengandung gas mudah terbakar.
Kapolresta menyebut, pengawasan Disnaker turut menjadi bagian dari pemeriksaan karena memiliki peran penting dalam penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di lingkungan industri berisiko tinggi. “Kami ingin semua aspek, mulai dari pengawasan, SOP, hingga tanggung jawab manajemen, dikaji tuntas,” katanya.
Zaenal menambahkan, pihaknya mendapat atensi langsung dari Polda Kepri untuk memastikan kasus ini diselidiki secara profesional dan transparan. “Arahan dari pimpinan jelas, proses hukum harus tegas dan tuntas,” ujarnya.
Hingga kini, tim gabungan kepolisian dan Labfor Polri masih terus melakukan evaluasi mendalam terhadap hasil olah tempat kejadian perkara (TKP), dokumen prosedur keselamatan, serta keterangan para saksi kunci untuk memastikan penyebab pasti ledakan yang menewaskan 14 pekerja tersebut. (*)
Reporter : YOFI YUHENDRI
Editor : RYAN AGUNG