Buka konten ini

KUBA (BP) – Ratusan ribu warga di wilayah timur Kuba terpaksa dievakuasi setelah Badai Melissa menerjang pada Rabu pagi (29/10). Dilansir dari channelnewsasia.com, badai berkategori 3 itu menghantam provinsi Granma, Santiago de Cuba, Guantanamo, Holguin, dan Las Tunas dengan kekuatan dahsyat sebelum akhirnya melemah menjadi Kategori 2.
Otoritas meteorologi Kuba memperingatkan potensi gelombang badai setinggi 3,6 meter serta curah hujan ekstrem hingga 51 sentimeter di sejumlah wilayah pesisir. Melissa juga diperkirakan melanjutkan pergerakannya ke Bahama bagian tenggara dan tengah pada Rabu malam, di mana peringatan badai telah dikeluarkan.
Sedikitnya tujuh orang dilaporkan tewas akibat badai ini di kawasan Karibia: tiga di Jamaika, tiga di Haiti, dan satu di Republik Dominika. Seorang lainnya masih dinyatakan hilang.
Di Jamaika, otoritas tengah menaksir besarnya kerusakan setelah Melissa melanda pulau itu pada Selasa. Berdasarkan tekanan udara, Melissa tercatat sebagai badai Atlantik kelima terkuat dalam sejarah dan yang paling dahsyat menghantam daratan sejak 2019.
Kerusakan parah dilaporkan di wilayah barat daya dan barat laut Jamaika. “Komunikasi benar-benar terputus di wilayah tersebut,” kata Richard Thompson, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Kantor Kesiapsiagaan dan Manajemen Bencana Jamaika.
Lebih dari setengah juta warga kehilangan aliran listrik, sementara badai menyebabkan banyak pohon tumbang, kabel listrik putus, serta banjir besar di berbagai daerah.
Kerusakan serius juga dilaporkan di Clarendon dan paroki St. Elizabeth yang kini disebut “terendam air”, ungkap Desmond McKenzie, Wakil Ketua Dewan Manajemen Risiko Bencana Jamaika.
Empat rumah sakit dilaporkan rusak akibat terjangan badai. Salah satunya kehilangan pasokan listrik sehingga memaksa otoritas mengevakuasi 75 pasien demi keselamatan mereka. (*)
Reporter : GALIH ADI SAPUTRO
Editor : MOHAMMAD TAHANG