Buka konten ini


YERUSALEM (BP) – Gencatan senjata yang diinisiasi oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di Gaza tengah goyah. Itu setelah Israel menyerang Gaza dengan pesawat tempur pada Selasa (28/10) malam waktu setempat. The Guardian melaporkan, serangan menewaskan tujuh orang di Gaza dan Khan Younis. Dua di antaranya anak-anak.
Serangan itu diperintah oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Dia menuduh kelompok militan Hamas melakukan pelanggaran gencatan senjata.
Sebelumnya, sempat terjadi baku tembak antara Hamas dan pasukan Israel. Dugaan lainnya, Hamas menyerahkan potongan tubuh sandera yang konon sudah ditemukan oleh pasukan Israel dua tahun sebelumnya.
Penyerahan sandera, hidup atau sudah meninggal, merupakan salah satu syarat gencatan senjata. ”Hamas akan membayar berkali-kali lipat karena telah menyerang tentara Israel dan tidak menyerahkan jenazah sandera,” kata Netanyahu dikutip dari AFP.
Sebelum serangan pesawat tempur, Hamas juga dituduh menyerang pasukan Israel di Gaza dengan rudal anti-tank. Namun, Hamas membantahnya. Mereka mengklaim masih berkomitmen pada gencatan senjata yang diteken di Kairo, Mesir.
”Pengeboman kriminal yang dilakukan oleh tentara pendudukan fasis (Israel) di sebagian wilayah Jalur Gaza merupakan pelanggaran nyata terhadap perjanjian gencatan senjata,” kata Hamas dalam pernyataan mereka seperti dilansir dari Al Jazeera.
Trump Masih Optimistis
Sementara itu, Rabu (29/10), Trump masih optimitis gencatan senjata di Gaza tidak akan goyah. Namun, dia tahu jika ada tentara Israel terbunuh.
”Mereka (Hamas) membunuh seorang tentara Israel. Jadi, Israel membalas,” ucapnya.
Di sisi lain, Dosen Keamanan Internasional Kigs’s College London Rob Gaist Pinfold membenarkan bahwa gencatan senjata di Gaza sangat rapuh. Selain Hamas maupun Israel masih saling adu kuat, Israel belum menarik pasukannya dari Gaza.
”Jadi, dapat dimengerti bahwa masyarakat Palestina, khususnya di Gaza, belum merasakan gencatan senjata,” katanya. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : RYAN AGUNG