Buka konten ini

SAMARINDA (BP) – Di tengah ritme kota yang serba cepat, banyak profesional urban berusia 35–45 tahun kini memilih untuk kembali pada kesederhanaan. Bukan sekadar mengikuti tren, melainkan upaya menemukan kendali atas ruang dan hidup mereka sendiri.
Rumah minimalis kemudian menjadi simbol perubahan cara pandang tersebut: bahwa kebahagiaan bisa tumbuh dari ruang yang lebih kecil, lebih teratur, dan lebih bermakna.
Fenomena ini mencerminkan pergeseran mentalitas generasi produktif yang mulai memaknai kualitas hidup secara berbeda. Mereka tak lagi terpaku pada ukuran rumah besar, tetapi pada ruang yang fungsional dan memberi ketenangan.
Konsep kendali ruang tidak berbicara tentang seberapa kecil seseorang dapat hidup, melainkan bagaimana setiap meter persegi dikelola secara bijak. Dalam rumah minimalis, setiap sudut memiliki fungsi, dan setiap furnitur dipilih atas dasar kebutuhan.
“Rumah minimalis itu bukan sekadar arsitektur, tapi ekspresi dari kesadaran memilih, apa yang benar-benar penting,” kata Arsitek dan Dosen UGM, Ar. Syarif Hidayat.
Artinya, desain bukan hanya soal estetika, tetapi juga cerminan nilai-nilai hidup yang ingin dijaga penghuninya.Ruang yang terbatas justru mendorong kreativitas. Banyak penghuni hunian kecil memanfaatkan perabot multifungsi, pencahayaan alami, hingga palet warna netral untuk menciptakan kesan lega. Hidup dalam ruang minimalis juga menekan perilaku konsumtif, karena penghuni belajar memilah mana barang yang benar-benar memberi manfaat. Dari proses itu, tumbuh rasa syukur, bahwa “cukup” ternyata sudah lebih dari memadai.
Rumah 70 m² yang Mengubah Cara Hidup
Pasangan Andi dan Rani di Samarinda menjadi contoh nyata. Mereka memilih pindah dari rumah besar warisan keluarga ke rumah berukuran 70 meter persegi. Kekhawatiran di awal berganti dengan kelegaan yang tak disangka.
“Dulu setiap akhir pekan kami habiskan untuk bersih-bersih. Sekarang kami punya waktu ngobrol, baca, atau sekadar ngopi di teras,” ujar Rani.
Rumah kecil menghadirkan ruang yang lebih luas untuk kedekatan dan ketenangan.Untuk menerapkan kesadaran ruang tanpa mengorbankan kenyamanan, langkah pertama dimulai dari niat. Hidup sederhana seharusnya lahir dari kesadaran, bukan sekadar mengikuti tren.
Setelah itu, perhatian pada detail-detail dasar seperti ventilasi dan pencahayaan menjadi penting, karena udara yang mengalir baik dan cahaya alami dapat membuat rumah kecil terasa lebih lega dan hangat.
Pemilihan perabot juga memegang peran besar. Perabot modular yang fleksibel dan multifungsi membantu mengoptimalkan ruang tanpa membuatnya terasa penuh.
Di sisi lain, prinsip less but meaningful menjadi pegangan dalam setiap keputusan, setiap barang yang masuk ke rumah harus memiliki fungsi atau nilai yang benar-benar dibutuhkan. Pada akhirnya, kesadaran ruang adalah bentuk kendali terhadap diri sendiri.
Rumah minimalis mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak diukur dari seberapa besar bangunan tempat kita tinggal, tetapi dari seberapa besar makna dan ketenangan yang tumbuh di dalamnya. (*)
Reporter : JP Group
Editor : FISKA JUANDA