Buka konten ini

BATAM (BP) – Sektor perikanan budidaya di Kota Batam terus menunjukkan geliat positif. Berdasarkan data Dinas Perikanan (Diskan) Kota Batam, sepanjang September 2025, total produksi ikan budidaya mencapai 955 ton dengan nilai ekonomi lebih dari Rp46,01 miliar.
Kepala Diskan Kota Batam, Yudi Admajianto, mengatakan, capaian tersebut mencerminkan peningkatan produktivitas para pembudidaya, baik di sektor air laut maupun air tawar.
“Alhamdulillah, hasil produksi September menunjukkan tren positif. Ini berkat kerja keras para pembudidaya yang tersebar di 12 kecamatan di Batam,” ujarnya, Selasa (21/10).
Dari data yang dihimpun, udang vannamei menjadi penyumbang terbesar dengan produksi mencapai 315.291 kilogram senilai Rp24,59 miliar. Disusul lele sebanyak 261.173 kilogram (Rp5,74 miliar), patin 137.246 kilogram (Rp3,15 miliar), nila 133.250 kilogram (Rp4,66 miliar), dan ikan mas 43.987 kilogram (Rp3,07 miliar).
Sementara dari kategori ikan laut, kerapu, kakap, dan bawal bintang masih menjadi andalan pembudidaya Batam. Produksi kerapu tercatat 6,3 ton dengan nilai Rp890 juta, kakap 12,1 ton senilai Rp1,33 miliar, dan bawal bintang 5,1 ton dengan nilai Rp567 juta.
“Batam memiliki potensi besar di dua sektor sekaligus, yaitu budidaya air laut dan air tawar. Keduanya berkontribusi signifikan terhadap nilai ekonomi daerah dan menjadi sumber penghidupan bagi ribuan pembudidaya,” jelas Yudi.
Berdasarkan persebaran wilayah, Kecamatan Galang menjadi penyumbang nilai produksi terbesar dengan Rp12 miliar, disusul Sagulung Rp10,28 miliar, dan Bulang Rp7,61 miliar. Adapun kecamatan dengan kontribusi terkecil yakni Bengkong sebesar Rp164 juta.
Untuk menjaga stabilitas dan peningkatan produksi, Diskan Batam terus memperkuat dukungan kepada kelompok pembudidaya ikan (pokdakan). Salah satunya melalui bantuan 137 unit bioflok yang telah disalurkan tahun ini kepada 24 kelompok pembudidaya ikan.
“Teknologi bioflok ini sangat membantu pembudidaya dalam meningkatkan efisiensi budidaya ikan air tawar seperti lele dan nila. Dengan sistem ini, penggunaan lahan dan air lebih hemat, pertumbuhan ikan lebih cepat, dan kualitas air lebih terjaga,” terang Yudi.
Selain memperkuat pasar domestik, Diskan juga mendorong pembudidaya untuk menembus pasar ekspor.
“Kami ingin Batam bukan hanya penghasil ikan konsumsi lokal, tapi juga mampu menjadi salah satu sentra ekspor perikanan budidaya di Kepri,” katanya.
Yudi berharap tren positif tersebut terus berlanjut hingga akhir tahun.
“Target kami bukan hanya meningkatkan volume produksi, tapi juga kualitas dan nilai tambahnya. Dengan begitu, kesejahteraan pembudidaya ikut naik dan ketahanan pangan di sektor perikanan tetap terjaga,” tutupnya. (*)
Reporter : Rengga Yuliandra
Editor : RATNA IRTATIK