Buka konten ini

PARIS (BP) – Karena bentuknya berupa perhiasan, sepertinya tak mungkin komplotan pencuri pembobol Museum Louvre, Paris, Prancis, menyimpannya dengan cara yang dilakukan Vincenzo Peruggia lebih dari seabad silam. Pelukis sekaligus tukang kaca asal Italia itu mencuri Mona Lisa, lukisan legendaris yang menjadi koleksi Louvre, lalu konon menyimpannya di bawah kasur.
Peruggia mengutip Le Monde bekerja di Louvre saat mencuri karya Leonardo da Vinci tersebut pada 21 Agustus 1911. Pencurian itu baru terungkap dua tahun kemudian, saat Peruggia berusaha menjual Mona Lisa di Firenze, Italia.
Ada sembilan perhiasan yang digondol keempat pembobol Louvre pada Minggu sekitar pukul 09.30 waktu Paris. Tapi, satu di antaranya terjatuh ketika mereka melarikan diri menggunakan skuter: mahkota Permaisuri Eugénie.
Menurut pakar benda seni Christopher Marinello, sebagian besar perhiasan yang dicuri memiliki lebih dari 1.000 butir berlian di setiap bagiannya. Jika dijual dalam bentuk pecahan, nilainya memang turun. Tapi, jika dijual utuh, tentu akan sulit karena yang mereka curi adalah koleksi terkenal.
“Mereka bisa mendapat banyak uang, bahkan setelah memecah perhiasan menjadi potongan kecil,” kata Marinello, seperti dikutip dari France24 kemarin (22/10).
Belum ada rincian resmi dari otoritas Prancis soal total nilai kerugian. Namun, berbagai laporan memperkirakan nilainya mencapai jutaan euro. Sebab, sebagian koleksi yang hilang adalah bagian dari permata mahkota Prancis yang memiliki nilai sejarah dan budaya tinggi.
Marinello menilai kasus ini memperlihatkan lemahnya keamanan di sejumlah museum besar dunia. “Saya yakin polisi Prancis akan menangkap para pencuri. Mereka kemungkinan sudah dikenal otoritas, karena aksi sebesar ini biasanya dilakukan oleh geng terorganisir,” ujarnya.
Antisipasi Museum Vatikan
Yang dibobol adalah Museum Louvre di Paris, tapi yang ikut deg-degan museum-museum besar lain di berbagai negara. Barbara Jatta, direktur Museum Vatikan, misalnya, menyebut yang dialami Louvre bisa terjadi di mana saja.
“Perampokan seperti yang dilihat orang di Ocean’s Eleven atau Ocean’s Twelve bisa terjadi, tapi kami tentu berharap, dengan sistem keamanan yang kami miliki, kemungkinannya bisa ditekan sekecil mungkin,” kata Jatta, merujuk kepada dua dari tiga judul trilogi film tentang komplotan pencuri yang dibintangi George Clooney dan Brad Pitt, seperti dikutip dari AFP.
Museum Vatikan berada di jajaran tiga besar museum yang paling banyak dikunjungi di dunia. Koleksi mereka di antaranya lukisan mahakarya Leonardo da Vinci, Michelangelo Merisi da Caravaggio, dan Giotto di Bondone.
Sistem keamanan yang diterapkan di museum yang menargetkan kunjungan tujuh juta orang di tahun ini tersebut sudah sangat canggih, dengan beragam sensor dan kamera pengawas di semua penjuru. Ditambah pengawasan dari 400 petugas.
Tapi, kata Jatta, tetap terbuka kemungkinan ada saja pihak yang terdorong “keinginan untuk meniru.” Karena itu, setelah apa yang terjadi di Louvre, pihak keamanan telah diperintahkan untuk meningkatkan pengamanan,” katanya. (*)
Reporter : GALIH ADI SAPUTRO
Editor : MOHAMMAD TAHANG