Buka konten ini
SETELAH hampir sepekan berjuang melawan luka bakar berat, dua korban ledakan kapal MT Federal II di galangan PT ASL Marine Shipyard, Tanjunguncang, akhirnya meninggal dunia di RS Mutiara Aini, Batuaji. Keduanya adalah Edison Baktiar Napitupulu dan Imam, yang sejak awal dirawat dalam kondisi kritis.
Direktur RS Mutiara Aini, dr. Elvi Sukma, mengatakan kedua pasien telah menjalani perawatan intensif dengan dukungan penuh tim medis. Namun, luka bakar yang mereka alami terlalu parah untuk tertolong.
“Pak Edison meninggal Minggu (19/10) pukul 23.17 WIB, sementara Pak Imam Senin (20/10) pukul 04.25 WIB.
Keduanya sudah mendapat penanganan maksimal,” ujar Elvi, Senin (20/10).
Edison, menurut Elvi, mengalami luka bakar hingga 86 persen dengan trauma inhalasi berat. Ia sempat menunjukkan sedikit respons sebelum akhirnya mengalami penurunan kesadaran dan gagal napas. Sementara Imam mengalami luka bakar 23 persen disertai luka robek di kepala dan gangguan pernapasan.
“Imam sempat membaik, tapi kembali drop pada dini hari,” tambah Elvi.
Kedua jenazah telah dibawa ke RS Bhayangkara Batam untuk pemeriksaan medis sebelum diserahkan kepada keluarga masing-masing. Kapolsek Batuaji AKP Raden Bimo Dwi Lambang membenarkan proses tersebut.
“Sesuai prosedur, jenazah dibawa ke RS Bhayangkara untuk pemeriksaan lanjutan sebelum diserahkan ke pihak keluarga,” ujarnya.
Dengan meninggalnya Edison dan Imam, jumlah korban tewas akibat tragedi kapal Federal II kini menjadi 13 orang. Sementara satu pasien lainnya, Midun, masih dirawat di ICU dengan kondisi mulai membaik, dan dua pasien lain, Erwin dan Arafi, masih menjalani perawatan di ruang rawat inap.
Api Muncul dari Bawah Palka
Ledakan kapal MT Federal II milik PT ASL Marine Shipyard, Tanjunguncang, meninggalkan trauma mendalam bagi salah satu korban, Arafi. Akibat peristiwa tersebut, ia mengalami luka bakar di bagian tangan dan telinga, serta dirawat di RS Mutiara Aini, Batuaji.
Arafi mengatakan ledakan kapal itu berawal saat ia melakukan pengelasan (welding) di dalam tangki nomor dua bersama sembilan rekannya.
“Kami di tangki 2 ada 10 orang, semuanya selamat karena langsung manjat tangga. Sisanya (korban) di tangki 1,” ujarnya.
Ia menuturkan ledakan berlangsung sangat cepat. Api awalnya muncul dari bawah palka dan membesar di dalam tangki.
“Api itu dari bawah palka, naik ke atas. Setelah itu meledak, dan yang parah itu tangki samping (nomor 1),” katanya.
Ia mengaku tidak mengetahui pasti penyebab kebakaran yang disertai ledakan tersebut. Namun, menurutnya, di dalam tangki terdapat bekas potongan logam (cutting-an) dan bau gas dari pipa-pipa.
“Percikan api pasti ada dari pengelasan. Tapi seharusnya ada alat untuk menahan api agar tidak terbakar,” ungkapnya.
Sementara itu, Dedi, korban lainnya yang dirawat di RS Graha Hermine, enggan mengenang peristiwa nahas itu. Ia hanya berharap segera pulih dan bisa kembali berkumpul dengan keluarga.
“Alhamdulillah, yang penting masih bisa ketemu keluarga. Harapannya semoga lekas sembuh,” katanya.
Diketahui, peristiwa ini menyebabkan 31 pekerja menjadi korban. Dari seluruh pekerja, 13 orang meninggal dunia, sementara 10 orang masih dirawat di RS Mutiara Aini, RS Graha Hermine, dan RS Awal Bros Botania.
Keluarga Tolak Autopsi Jenazah
Suasana haru menyelimuti RS Bhayangkara Polda Kepri, Senin (20/10) pagi. Tangis histeris seorang perempuan pecah di halaman rumah sakit. Ia adalah Aini (35), istri almarhum Imam, korban ledakan kapal yang sempat dirawat beberapa hari sebelum akhirnya meninggal dunia.
Aini tak kuasa menahan emosi saat pihak rumah sakit bersama aparat kepolisian hendak melakukan autopsi terhadap jenazah suaminya. Ia menolak dengan tegas.
“Saya ikhlas dia meninggal, tapi tak ikhlas kalau harus diautopsi lagi. Dia sudah sangat menderita,” ujarnya dengan suara bergetar.
Menurut Aini, suaminya meninggal dunia sekitar pukul 04.00 WIB di RS Mutiara Aini sebelum jenazahnya dibawa ke RS Bhayangkara Polda Kepri. Ia mengatakan keluarganya sudah menandatangani surat penolakan autopsi, namun tetap merasa dipaksa oleh pihak rumah sakit.
“Sudah tanda tangan tak setuju, kok tetap mau dipaksa diautopsi. Kami sudah jelaskan baik-baik. Kalau autopsi bisa menghidupkan lagi, silakan autopsi. Tapi ini kan tetap mati,” katanya lirih sambil terus menangis.
Aini menyebut, sebelum meninggal, Imam sempat menjalani perawatan intensif di ICU dan menunjukkan tanda-tanda membaik. Namun, kondisi korban mendadak drop pada hari terakhir.
“Hari-hari sebelumnya dia sudah mulai sadar, sempat respons aku dan dokter. Tapi tiba-tiba Minggu kondisinya semakin drop,” kenangnya.
Imam, pria kelahiran 1990 asal Palembang, sudah bekerja di Batam sejak 2017 sebagai pekerja kontrak di bidang penyambungan logam (welder). Ia dikenal sebagai sosok yang tenang dan penyayang keluarga.
“Dia tak pernah marah, tak pernah berkelahi. Kami 10 tahun pacaran sejak SMP, menikah tahun 2012, dan punya tiga anak,” tutur Aini.
Dari pernikahan itu, pasa-ngan muda ini dikaruniai dua anak laki-laki dan satu anak perempuan. Anak pertama mereka lahir pada 2013, sedangkan anak bungsu yang perempuan baru berusia dua tahun tujuh bulan.
“Anak terakhir dekat sekali dengan ayahnya. Dari bayi selalu dirawat bersama. Kalau abangnya sempat dititip ke keluarga,” ucapnya sambil menyeka air mata.
Aini menuturkan, beberapa hari sebelum insiden, ia justru merasa lebih manja pada suaminya. Meski biasanya ia sering bermanja, hari itu terasa berbeda.
“Entah kenapa, aku sering minta dipeluk dan dicium. Aku juga minta dia peluk anak-anak. Tak tahu, ternyata itu momen terakhir kami,” katanya, suaranya pecah.
Menurutnya, kondisi suaminya sempat membaik setelah beberapa hari dirawat. Hasil pemeriksaan medis pun sempat dinyatakan stabil.
“Hati, ginjal, semuanya baik. Makanya kaget waktu drop. Mungkin karena trauma berat dan pikiran, karena ada yang meninggal juga sebelum suami saya,” ujarnya.
Aini juga merasa suaminya masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk berpamitan dengan keluarganya. “Mungkin karena ingin bertemu saya dan anak-anak. Allah masih kasih waktu sebentar buat kami,” katanya pelan.
Sambil memeluk anak-anaknya, Aini menegaskan keluarganya tak akan mengizinkan autopsi dilakukan. “Kami ikhlaskan dia pergi, tapi jasadnya jangan disakiti lagi. Sudah cukup penderitaannya. Kami di RS Bhayangkara ingin tiket pulang ke Palembang, bukan autopsi,” tuturnya.
Keluarga juga menilai penyebab kematian sudah jelas, yakni trauma berat akibat kebakaran di dalam kapal. “Orang sudah tahu dia meninggal karena ledakan kapal. Kalau memang mau cari siapa yang salah, ya tangkap saja orangnya. Jangan ganggu jenazah keluarga kami,” ujarnya dengan nada tegas.
Keluarga berharap jenazah Imam segera dipulangkan ke rumah duka untuk dimakamkan secara layak di kampung halaman di Palembang. “Kami cuma ingin dia pulang dengan tenang. Anak-anaknya masih kecil, biar mereka bisa lihat ayahnya terakhir kali,” kata Aini.
Desak Pemerintah Tegas Tindak Pelanggaran K3
Ledakan kapal tanker Federal II di galangan PT ASL Shipyard, Tanjunguncang, Rabu (15/10) dini hari, kembali memakan korban jiwa. Sepuluh orang pekerja tewas seketika, sementara 21 korban lainnya dilarikan ke rumah sakit. Dua korban kemudian meninggal dunia saat menjalani perawatan, sehingga total korban meninggal dunia mencapai 12 orang.
Tragedi tersebut menambah panjang daftar kecelakaan kerja maut di galangan kapal milik PT ASL Shipyard. Dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, tercatat sedikitnya ada empat insiden besar telah menewaskan puluhan pekerja.
Berdasarkan data yang dihimpun Batam Pos, pada 17 September 2015 silam, seorang pekerja bernama Hanafi tewas terseret jangkar kapal ke laut di kawasan yang sama. Dua tahun berselang, 7 September 2017, kapal tanker Gamkonora milik Pertamina yang tengah dikerjakan di PT ASL terbakar hebat. Lima pekerja subkontraktor tewas dalam peristiwa itu.
Delapan tahun kemudian, tepatnya 24 Juni 2025, kebakaran kembali terjadi pada kapal tanker Federal II. Empat pekerja tewas dan lima lainnya luka berat akibat terperangkap di ruang tangki kapal. Polisi menyebut percikan api dari aktivitas pengelasan menjadi penyebab utama ledakan. Dua staf bagian Health, Safety, and Environment (HSE) PT ASL ditetapkan sebagai tersangka atas dugaan kelalaian prosedur kerja panas (hot work) di area berisiko tinggi. Dan kini, insiden serupa kembali terjadi di kapal yang sama, dengan korban jiwa yang jauh lebih banyak.
Rangkaian insiden di PT ASL Shipyard menjadi peringatan keras bagi seluruh industri maritim di Batam. Pengawasan yang lemah dan lemahnya budaya keselamatan kerja bukan hanya menelan korban jiwa, tetapi juga mencoreng wajah industri strategis nasional.
Pimpinan Cabang Serikat Pekerja Logam Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (PC SPL FSPMI) Kota Batam, Suprapto, menilai ledakan di Federal II bukan lagi kecelakaan semata, melainkan bukti buruknya penerapan keselamatan kerja di perusahaan tersebut.
“Ini sudah sangat parah. Kapal ini juga pernah meledak beberapa bulan lalu di perusahaan yang sama. Artinya, sistem kerja dan keselamatan kerja (K3) di sana sangat buruk. Seperti tidak ada aturan dan tidak ada yang mengatur,” tegas Suprapto.
Ia menilai kejadian berulang itu menunjukkan lemahnya pengawasan pemerintah terhadap penerapan K3 di sektor industri berisiko tinggi se-perti galangan kapal.
“Sudah memakan korban jiwa, tapi pemerintah seperti tidak punya daya di hadapan pengusaha. Mereka dibiarkan berbuat semaunya, melanggar aturan, dan lagi-lagi pekerja yang jadi korban,” ujarnya.
Suprapto mendesak agar pemerintah bertindak tegas terhadap manajemen PT ASL Shipyard. “Pemerintah harus berani memberi sanksi kepada pengusahanya, bukan kepada pekerjanya. Kalau tidak, ini akan terus berulang. Nyawa pekerja bukan taruhan untuk keuntungan pengusaha,” tukasnya.
Sementara itu, berdasarkan data Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Kepulauan Riau mencatat, sepanjang Januari–September 2025, terdapat 4.610 kasus kecelakaan kerja di Kota Batam. Kepala Disnakertrans Kepri, Diky Wijaya, menyebut hampir separuh dari jumlah tersebut merupakan kecelakaan lalu lintas yang terjadi saat pekerja berangkat atau pulang kerja.
“Hampir 48,2 persen adalah kecelakaan di jalan raya. Ini artinya perhatian terhadap keselamatan pekerja harus mencakup perjalanan ke dan dari tempat kerja, bukan hanya di lokasi industri,” ujarnya, Kamis (16/10).
Selain itu, kecelakaan akibat material tercatat sebesar 13,9 persen, mesin produksi 11,6 persen, terjatuh 10,3 persen, dan lainnya 12,4 persen. Dalam periode itu, 26 pekerja meninggal dunia, sebagian besar akibat kecelakaan berat di tempat kerja maupun di perjalanan.
Menanggapi tragedi di PT ASL Shipyard, Diky menyebut kejadian tersebut sebagai peristiwa besar yang harus diusut tuntas. “Menurut saya, ini bencana besar, bahkan bisa disebut bencana nasional karena banyak korban meninggal dunia,” ujarnya.
Ia menilai kejadian berulang di kapal dan proyek yang sama merupakan bukti adanya kelalaian serius.
“Kalau sudah dua kali kejadian dalam satu kapal, saya yakin ada kelalaian yang harus diusut. Bisa jadi pengawasan K3-nya lemah, atau pengawas proyeknya tidak berjalan baik. Tidak bisa dibiarkan, apalagi sampai memakan korban jiwa,” tegasnya.
Diky memastikan bahwa main contractor, dalam hal ini PT ASL Shipyard, harus bertanggung jawab penuh atas seluruh kejadian tersebut.
“Maincon-nya wajib bertanggung jawab penuh. Ini sudah dua kali terjadi dan menyebabkan korban meninggal dunia,” katanya. (***)
Reporter : Eusebius Sara – Yofi Yuhendri – Yashinta – Rengga Yuliandra
Editor : RYAN AGUNG