Buka konten ini

GENCATAN senjata di Gaza kembali diberlakukan pada Minggu (19/10), hanya sehari setelah gelombang serangan udara Israel menewaskan sedikitnya 26 warga Palestina.
Dilansir dari channelnewsasia.com, serangan itu merupakan balasan atas tewasnya dua tentara Israel akibat rudal antitank yang ditembakkan kelompok Hamas — sekaligus menjadi ujian paling serius terhadap kesepakatan damai yang dimediasi Amerika Serikat bulan ini.
Militer Israel menyebut telah melancarkan serangan ke berbagai target Hamas di seluruh Gaza, termasuk komandan lapangan, kelompok bersenjata, terowongan, dan gudang senjata. Sementara itu, warga dan otoritas kesehatan Palestina melaporkan sejumlah korban sipil, termasuk seorang perempuan dan anak kecil, tewas akibat serangan yang juga menghantam gedung bekas sekolah di kawasan Nuseirat yang digunakan sebagai tempat penampungan pengungsi.
Tak lama setelah serangan, Israel mengumumkan akan kembali menyalurkan bantuan kemanusiaan ke Gaza mulai Senin (20/10). Langkah itu diambil setelah tekanan dari Amerika Serikat, yang sebelumnya mengecam penghentian bantuan sebagai respons Israel atas dugaan pelanggaran “terang-terangan” oleh Hamas terhadap perjanjian gencatan senjata.
Tekanan Diplomatik dan Kekhawatiran Baru
Utusan Presiden AS Donald Trump, Steve Witkoff, dan menantunya Jared Kushner dijadwalkan tiba di Israel pada Senin untuk membahas situasi terkini. Wakil Presiden AS, JD Vance, menilai masih ada sekitar 40 sel Hamas yang aktif, dan pelucutan senjata kelompok tersebut belum memiliki landasan keamanan yang jelas.
“Sebagian sel mungkin mematuhi gencatan senjata, tapi banyak juga yang tidak,” ujarnya. “Sebelum Hamas benar-benar dilucuti, perlu keterlibatan negara-negara Teluk untuk menjaga stabilitas dan hukum di lapangan,” lanjutnya.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan, telah memerintahkan militernya untuk “merespons tegas” terhadap pelanggaran gencatan senjata.
Warga Panik, Pasar Dipenuhi Pembeli
Kabar serangan membuat warga Palestina di Nuseirat bergegas memenuhi pasar untuk membeli kebutuhan pokok. Di Khan Younis, beberapa keluarga dilaporkan mengungsi setelah wilayah itu kembali dibombardir. Situasi ini mengingatkan pada ketegangan akhir 2024, saat Israel menanggapi pelanggaran gencatan senjata oleh Hizbullah di Lebanon.
Meski begitu, gencatan senjata yang baru dimulai pada 10 Oktober — mengakhiri dua tahun perang — kembali goyah karena saling tuduh pelanggaran dari kedua pihak.
Sengketa Jenazah Sandera dan Blokade Bantuan
Israel menuding Hamas lamban menyerahkan jenazah para sandera. Dari 28 jenazah yang dijanjikan, baru 12 yang diserahkan. Hamas berdalih sebagian jenazah masih tertimbun reruntuhan dan memerlukan peralatan khusus untuk evakuasi.
Sebagai respons, Israel menutup kembali perbatasan Rafah — jalur utama penyaluran bantuan dari Mesir — hingga Hamas memenuhi kewajibannya dalam perjanjian. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengatakan wilayah “garis kuning”, tempat pasukan Israel mundur sesuai kesepakatan, akan ditandai secara fisik, dan setiap pelanggaran akan dibalas dengan tembakan.
Hamas menuduh Israel telah melanggar kesepakatan dan menewaskan 46 orang dalam serangan balasan, serta menghambat pasokan bantuan vital.
Krisis Kemanusiaan Belum Usai
Menurut pemantau kelaparan global IPC, ratusan ribu warga Gaza terancam kelaparan sejak Agustus. Meski pengiriman bantuan sempat meningkat setelah gencatan senjata berlaku, PBB menegaskan jumlahnya masih jauh dari cukup.
Berbagai isu penting, mulai dari pelucutan senjata Hamas, masa depan pemerintahan Gaza, hingga pembentukan negara Palestina, masih menjadi tanda tanya besar di tengah jalan panjang menuju perdamaian yang belum pasti. (***)
Reporter : GALIH ADI SAPUTRO
Editor : MOHAMMAD TAHANG