Buka konten ini

Kepergian Maradong Tampubolon meninggalkan luka mendalam bagi keluarga kecilnya di Batuaji. Tragedi MT Federal II mengubah segalanya. Mereka menuntut keadilan untuk sosok ayah penyayang itu.
DI sebuah rumah sederhana di Perumahan MKP Blok A3 Nomor 06, Bukit Tempa-yan, Batuaji, suasana duka masih terasa berat. Di ruang tamu, Elis (52) duduk memeluk dua anaknya yang masih terguncang.
Di hadapan foto suaminya yang terpajang di dinding, air matanya tak kunjung berhenti. Suaminya, Maradong Tampubolon (56), adalah salah satu korban tewas dalam tragedi ledakan kapal MT Federal II di galangan PT ASL Marine Shipyard, Tanjunguncang, Rabu (15/10).
“Baru mau lima bulan bapak kerja di ASL itu. Dibawa subcon PT Rotary,” tutur Elis pelan. Matanya menerawang jauh, seakan masih menunggu sosok suaminya pulang membawa cerita dari tempat kerja seperti biasa.
Pagi itu, perasaan tak enak sudah menyelimuti Elis.
“Sudah lewat jam sembilan, bapak belum pulang. Biasanya jam enam sudah sampai rumah,” kenangnya. Ia mencoba menghubungi teman-teman kerja Maradong, tapi tak satu pun menjawab. Tak lama kemudian, kabar duka datang — menyuruhnya ke RS Mutiara Aini.
“Pas sampai sana, orang sudah ramai. Begitu lihat tubuh yang ditutupi selimut, saya langsung tahu itu bapak,” ucapnya dengan suara bergetar. “Muka bapak sebagian hitam, anak saya langsung histeris. Begitu dibuka, dia yakin… itu bapaknya.”
Bagi Elis, Maradong bukan sekadar suami. Ia adalah sahabat, penopang keluarga, sekaligus sosok pekerja keras yang tak pernah mengeluh.
“Bapak bisa semua kerja. Gali parit pun mau dia. Tak pernah pilih-pilih. Orangnya jujur, tulus, dan nggak neko-neko,” kenang Mama Gabriel, kerabat yang menemani keluarga di
rumah duka.
Suara tangis terdengar dari beberapa kerabat perempuan yang duduk di lantai ruang tamu. Setiap kisah tentang Maradong seolah membuka kembali luka yang belum sempat mengering.
“Kalau ada amang ini, kami tenang,” ujar Mama Gabriel lagi, matanya basah.
“Dia itu orang yang selalu bantu. Kalau kita datang, dia suruh makan dulu, tapi dia sendiri nggak mau makan sebelum kita makan.”
Kehilangan Maradong menjadi duka yang berat, sekaligus cambuk bagi keluarga untuk menuntut keadilan.
“Kami minta kasus ini diusut tuntas,” ujar Elis tegas meski suaranya lirih.
“Kalau memang ada kela-laian, harus ada yang bertanggung jawab. Jangan sampai ada keluarga lain yang kehila-ngan seperti kami.”
Di sudut ruangan, dua anak Maradong duduk diam menatap foto ayahnya. Sesekali mereka mengusap matanya sendiri, menahan tangis yang nyaris pecah. Bagi mereka, sosok ayah adalah pelindung dan panutan. Kini, yang tersisa hanya kenangan dan bayangan langkah kaki yang tak lagi terdengar di depan pintu setiap sore.
“Dibilang sabar, tapi hati ini nggak sanggup,” ucap Elis. “Tiap lihat anak-anak, saya ingat bapak.”
Menjelang senja, lampu-lampu rumah tetangga mulai menyala. Tapi di rumah Blok A3 itu, suasana masih kelam. Wajah-wajah yang hadir tak bisa menyembunyikan duka mendalam. Bagi keluarga kecil ini, tragedi di Tanjunguncang bukan sekadar angka dalam laporan industri, tapi cerita nyata tentang kehilangan dan perjuangan.
“Kalau bapak memang harus pergi, kami ikhlas,” kata Elis menutup percakapan. “Tapi jangan sampai ada bapak lain yang mati karena kerja. Harus ada yang tanggung jawab.”
Suara itu tenggelam di antara isak tangis keluarga yang ditinggalkan menjadi saksi bisu bahwa di balik gemuruh industri Batam, masih ada air mata yang jatuh di rumah-rumah sederhana seperti milik Elis di Bukit Tempayan. (***)
Reporter : Eusebius Sara
Editor : RYAN AGUNG