Buka konten ini

BINTAN (BP) – Suara tawa dan obrolan riang terdengar dari Balai Desa Ekang Anculai, Minggu (19/10). Puluhan warga tampak sibuk menorehkan malam panas ke kain putih dengan hati-hati. Untuk pertama kalinya, mereka belajar mencanting dalam workshop membatik yang digelar Rumah Batik Bintan bersama mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) STIE Pembangunan Tanjungpinang.
Kegiatan ini mendapat sambutan hangat dari warga yang antusias mengikuti setiap tahap pembelajaran, mulai dari menggambar pola hingga pewarnaan kain. “Kami ingin masyarakat desa tidak hanya tahu batik, tapi juga bisa membuatnya. Kegiatan ini bagian dari upaya pemberdayaan ekonomi kreatif berbasis budaya lokal,” ujar Pengelola Rumah Batik Bintan, Tri Jatmiko.
Ia menjelaskan, pelatihan ini merupakan hasil kolaborasi antara Rumah Batik Bintan, STIE Pembangunan Tanjungpinang, dan Baznas Bintan. Peserta yang terdiri dari warga dan mahasiswa diajarkan proses membatik secara lengkap—mulai dari membuat pola, mencanting dengan lilin panas, mewarnai kain, hingga proses fiksasi dan melorot untuk menghasilkan motif batik yang indah dan tahan lama.
Kepala Desa Ekang Anculai, Zaili Adi, menyampaikan apresiasi atas inisiatif mahasiswa KKN dan Rumah Batik Bintan. Menurutnya, kegiatan ini menjadi langkah penting untuk meningkatkan keterampilan warga dan membuka peluang usaha baru di sektor kerajinan.
“Harapannya, masyarakat bisa mengembangkan batik khas Bintan dan menjualnya ke wisatawan mancanegara. Ini akan berdampak langsung pada peningkatan pendapatan dan kesejahteraan warga,” katanya.
Dukungan juga datang dari Ketua P3M STIE Pembangunan, Rachmad Chartady, yang mengapresiasi kerja keras Kelompok 12 KKN. Ia berharap kegiatan ini menjadi awal dari sinergi berkelanjutan antara kampus, masyarakat, dan pelaku usaha lokal. “Dengan pelatihan seperti ini, Rumah Batik Bintan bisa memanfaatkan tenaga kerja lokal yang terampil untuk memenuhi permintaan batik yang terus meningkat,” ujarnya.
Sementara itu, Wahidah, warga Margosari yang ikut pelatihan, mengaku senang bisa belajar membatik langsung dari ahlinya.
“Awalnya agak sulit, terutama saat mencanting. Tapi lama-lama jadi seru dan menyenangkan,” tuturnya sambil tersenyum. Ia berharap kegiatan serupa bisa terus diadakan agar produksi batik di Bintan makin berkembang.
Lewat kegiatan sederhana namun bermakna ini, Desa Ekang Anculai perlahan menorehkan warnanya sendiri dalam peta ekonomi kreatif Bintan—melalui sehelai kain batik yang sarat makna dan semangat pemberdayaan. (*)
Reporter : SLAMET NOFASUSANTO
Editor : GALIH ADI SAPUTRO