Buka konten ini

Dahaga layanan bus sekolah anak-anak sekolah di Bintan yang telah lama tak terwujud, kini terobati. Mereka bisa kembali menikmati layanan bus sekolah yang beroperasi dua kali dalam sehari. Satu hal, tak lagi harus menumpang kendaraan warga hanya untuk sampai ke sekolah.
PAGI itu, matahari belum terlalu tinggi, tapi suara tawa dan obrolan riang sudah terdengar di halaman Desa Pengujan, Kecamatan Teluk Bintan. Para siswa SMP Negeri 7 Bintan menunggu bus sekolah dengan wajah berbinar. Tidak seperti dulu, mereka tidak lagi khawatir tertinggal atau harus menumpang kendaraan warga.
Rahma, salah satu siswa, berdiri di pinggir jalan sambil mengusap tas sekolahnya. “Kemarin masih diantar orangtua, tapi hari ini saya naik bus sendiri. Senang banget karena sekarang ada dua kali perjalanan,” ujarnya sambil tersenyum. Wajahnya memancarkan lega yang hanya bisa dimengerti mereka yang sehari-hari berjuang menembus jarak ke sekolah.
Selama bertahun-tahun, bus sekolah yang hanya sekali pulang-pergi membuat sebagian siswa tertinggal. Mereka harus menumpang sepeda motor tetangga atau minta diantar orangtua, kadang dengan tergesa-gesa. Kini, dengan dua kali trip sehari, semua siswa bisa berangkat dan pulang tepat waktu tanpa harus bergantung pada orang lain. Boy, seorang warga yang sering menumpangkan anak-anak ke sekolah, mengaku lega.
“Kalau cuma satu trip, banyak anak tidak kebagian tempat. Sekarang semuanya bisa naik bus. Mereka senang, kami juga senang,” katanya.
Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan Bintan, Budi Arjo, menjelaskan penambahan perjalanan bus dimungkinkan karena jarak Desa Pengujan ke sekolah hanya sekitar tiga kilometer dan lalu lintas relatif lancar. “Kami minta penyedia bus menambah satu trip meski kontrak awal hanya satu kali perjalanan. Syukurlah mereka setuju. Kini anak-anak bisa pergi sekolah tanpa kerepotan,” ujar Budi.
Di dalam bus, terdengar suara tawa, canda, dan cerita-cerita ringan. Rasa lega itu begitu nyata. Para siswa tak hanya merasa aman, tapi juga lebih bersemangat menghadapi pelajaran hari itu.
Perubahan sederhana ini, dua kali perjalanan pulang-pergi, ternyata membawa dampak besar. Bukan hanya memudahkan siswa, tetapi juga meringankan beban orangtua dan warga yang selama ini harus ikut membantu transportasi. Dari kejauhan, bus itu melaju dengan deru mesin yang lembut, membawa harapan dan senyum ceria anak-anak Desa Pengujan. (***)
Reporter : SLAMET NOFASUSANTO
Editor : GALIH ADI SAPUTRO