Buka konten ini

Di balik gelar sarjana yang kini disandang Abdul Gawi, ada kisah panjang tentang perjuangan, kesabaran, dan keteguhan melawan sistem pendidikan yang belum sepenuhnya ramah difabel.
LANGKAH Abdul Gawi menapak kampus Universitas Mataram (Unram), Nusa Tenggara Barat, bukan langkah biasa. Ia menembus dinding keterbatasan dan menjadi tunanetra pertama yang berhasil meraih gelar sarjana dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.
“Saya ambil jurusan Pendidikan Bahasa Inggris,” tuturnya kepada Lombok Post (grup Batam Pos), Rabu (8/10) pekan lalu.
Perjalanan delapan semester itu bukan sekadar tentang ujian dan skripsi. Di balik toga yang kini disandangnya, ada kisah panjang tentang perjuangan, kesabaran, dan keteguhan melawan sistem pendidikan yang belum sepenuhnya ramah difabel.
Hambatan terbesarnya bukan semata pada interaksi dengan dosen, tapi juga fasilitas kampus yang jauh dari kata inklusif. Banyak ruang kelas berada di lantai tiga tanpa fasilitas penunjang seperti guiding block.
Jadilah selama empat tahun kuliah, ia tak pernah bisa berkeliling kampus sendirian. Kampus Unram yang luas juga membuat mobilitasnya sangat terbatas. “Saya selalu butuh pendamping untuk menuju kelas. Padahal, di SMA 6 Mataram dulu, tahun kedua saya sudah bisa ke kamar mandi sendiri,” kenangnya.
Pakai Pembaca Layar
Meski penglihatan hanya mampu menangkap cahaya dan warna dasar, Gawi tetap menyerap ilmu setara mahasiswa lain. Ia mengerjakan tugas makalah sendiri menggunakan perangkat lunak pembaca layar.
“Software akan membacakan teks di layar,” jelasnya.
Namun, tantangan muncul saat menggarap konten visual seperti PowerPoint. Beruntung, untuk bagian tersebut, selalu ada teman yang bersedia membantu.
Bagi Gawi, bicara di depan publik jauh lebih mudah daripada mempresentasikan PowerPoint. Ia terbiasa menyampaikan ide secara spontan. “Kalau dibatasi poin-poin malah bingung,” ungkapnya.
Pilihan di benak Gawi ketika hendak mendaftarkan diri untuk mengikuti seleksi penerimaan mahasiswa baru dulu adalah Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Unram. Ia akhirnya menempatkan Unram sebagai pilihan pertama dan UGM di pilihan kedua.
“Kalau saya diterima di UGM, orang nggak akan heran, difabel di sana sudah biasa. Saya ingin jadi difabel yang bisa masuk di tempat yang belum terbiasa dengan difabel,” ujarnya.
Keputusan itu menjadi awal sejarah baru. Gawi diterima melalui jalur prestasi, sesuatu yang tak pernah terjadi sebelumnya bagi tunanetra di kampus itu. Saat namanya dipanggil pada pelantikan mahasiswa baru, tepuk tangan bergema di aula. “Dalam momen itu, saya tak sekadar merasa diterima, tapi sekaligus merasa diakui,” tuturnya.
Ujian Terakhir
Sebelum akhirnya menyandang gelar sarjana, skripsi menjadi ujian terakhir sekaligus pembuktian bagi Gawi. Dan, ia menyelesaikannya dalam waktu satu setengah bulan.
Prosesnya tak mudah. Bukan cuma karena ia tunanetra, tapi juga karena memilih jalur penelitian kualitatif yang penuh tantangan. Baginya, penelitian kuantitatif dengan grafik dan angka adalah “wilayah gelap” yang sulit dijangkau.
Maka, ia memutuskan meneliti sesuatu yang dekat dengan dirinya: dunia pidato dan motivasi. “Ada teman menyarankan film, tapi saya tidak bisa menonton,” katanya.
Setelah menyaring berbagai jenis pidato, dari kenegaraan hingga politik, ia akhirnya memilih pidato motivasi. “Saya angkat tokoh motivator luar negeri bernama James Quick,” jelasnya.
Dari tokoh inilah lahir judul skripsinya: “Speaking to Inspire: Rhetorical Analysis of James Quick.” Materi penelitian ia kumpulkan melalui sumber daring, terutama YouTube.
Meski tak mendapat penghargaan sebagai wisudawan difabel, Gawi tetap bersyukur. Ia sadar, perjuangannya bukan hanya tentang nilai akademik, melainkan tentang membuka jalan bagi mahasiswa difabel lain.
“Yang penting saya sudah menyalakan lilin, biar nanti yang lain bisa berjalan di cahaya itu,” ucapnya.
Gawi tak ingin menjadi legenda yang kesepian. “Saya tidak mau kebanggaan ini hanya berhenti di nama saya. Saya ingin tunanetra lain juga punya peluang,” ucapnya.
Kini, setelah resmi menyandang gelar sarjana, Gawi merasa seperti punya pisau bermata dua. Satu menunjuk ke Unram, satu lagi ke teman-teman tunanetra.
Untuk sesama penyandang disabilitas, pesannya sederhana tapi penuh makna. “Jangan putus asa,” katanya.
Sementara bagi kampus, ia menyampaikan harapan yang jujur. “Tolong buka afirmasi untuk difabel, minimal satu atau dua kuota per tahun,” ucapnya.
Ia juga berharap Unram menyediakan fasilitas dasar bagi tunanetra, dari guiding block hingga pendamping mobilitas. Tidak perlu banyak. “Cukup buat kami merasa tidak sendirian di sini,” ucapnya. (***)
Reporter : Lalu Mohammad Zaenudin
Editor : RYAN AGUNG