Buka konten ini

Pemadaman listrik selama lima jam di Pulau Siantan itu mengubah suasana rumah sakit menjadi mencekam. Mesin genset yang diharapkan bisa menjadi penolong justru ikut gagal berfungsi. Dalam sekejap, aktivitas medis lumpuh total, bahkan nyaris mengancam jiwa dan nyawa pasien.
SUARA napas berat terdengar di antara kegelapan ruang rawat RSUD Tarempa, Kamis (16/10) sore itu. Hanya cahaya dari senter ponsel yang menembus gelap, berpendar di wajah-wajah panik keluarga pasien. Pendingin udara mati, mesin oksigen berhenti bekerja, dan udara pengap menguasai ruangan.
“Adik saya sesak napas karena mesin oksigen tak hidup. Kami panik sekali,” ucap Hanafi, menahan cemas sambil mengipas sang adik dengan selembar kertas.
Pemadaman listrik selama lima jam di Pulau Siantan itu mengubah suasana rumah sakit menjadi mencekam. Mesin genset yang diharapkan bisa menjadi penolong justru ikut gagal berfungsi. Dalam sekejap, aktivitas medis lumpuh total.
Tenaga medis berlarian dari satu ruang ke ruang lain, memastikan pasien tetap bertahan tanpa bantuan alat. Sementara para keluarga berusaha menenangkan kerabat mereka dengan cara seadanya—mengipas, menyalakan senter, dan berdoa agar listrik segera kembali.
“Mesin genset utama kami sempat rusak. Sudah dicoba berkali-kali, tapi tetap tak bisa hidup,” tutur Direktur RSUD Tarempa, Rini Gumalasari.
Gangguan listrik yang terjadi sejak pukul 13.00 WIB itu disebabkan blackout pada mesin Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Tanjung Momong—sumber daya utama Pulau Siantan. Seluruh wilayah pun gelap gulita hingga menjelang malam.
Rini menjelaskan, kendala berada di bagian generator. Padahal, bahan bakar cadangan sudah disiapkan. Baru sekitar pukul 17.30 WIB genset berhasil dinyalakan kembali. Perlahan, lampu ruangan menyala, udara mulai terasa lega, dan alat medis kembali berfungsi.
“Selama pemadaman, kami mengerahkan semua tenaga medis untuk keliling ke tiap ruangan. Kami pastikan kondisi pasien stabil dan meminta maaf kepada keluarga atas situasi darurat ini,” ujarnya.
Rini menegaskan, peristiwa tersebut menjadi pelajaran besar bagi manajemen rumah sakit untuk memperkuat sistem cadangan daya. “Ini tidak boleh terulang lagi. Kami akan segera memperbaiki genset dan menambah satu unit cadangan agar pelayanan medis tidak terganggu,” tegasnya.
Evaluasi menyeluruh juga akan dilakukan terhadap sistem darurat, termasuk perawatan rutin genset dan kesiapan teknisi di lapangan. “Keselamatan pasien adalah prioritas utama kami. Apa pun kendalanya, pelayanan kesehatan tidak boleh berhenti,” katanya mantap.
Insiden di RSUD Tarempa menjadi pengingat keras bagi semua pihak: di daerah kepulauan seperti Anambas, listrik bukan sekadar kebutuhan dasar. Ia adalah nyawa kedua bagi rumah sakit—dan bagi setiap pasien yang tengah berjuang di dalamnya. (***)
Reporter : IHSAN IMADUDDIN
Editor : GALIH ADI SAPUTRO