Buka konten ini
BANDUNG BARAT (BP) – Berbagai janji evaluasi dan perbaikan yang dilontarkan para pemangku kepentingan program Makan Bergizi Gratis (MBG) masih jauh panggang dari api. Kasus siswa keracunan tetap terjadi di berbagai daerah.
Setelah 68 pelajar SMPN 1 Boyolangu, Tulungagung, Jawa Timur, harus dilarikan ke puskesmas dan rumah sakit setempat pada Senin (13/10) dan Selasa (14/10), kasus yang lebih besar terjadi di Bandung Barat, Jawa Barat. Mengutip Radar Bandung (grup Batam Pos), hingga kemarin (15/10) pukul 14.22 WIB, tercatat sebanyak 449 siswa terdampak.
Dari jumlah tersebut, 395 siswa di antaranya sudah diperbolehkan pulang dari fasilitas kesehatan tempat mereka dirawat. Sedangkan 54 lainnya masih menjalani rawat inap.
Kejadian ini hanya berselang tiga pekan setelah Pemerintah Kabupaten Bandung Barat menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) pada 23 September lalu, menyusul lebih dari 1.000 siswa yang juga mengalami keracunan akibat menyantap MBG. Kala itu, episentrum kejadian berada di Kecamatan Cipongkor, sementara kali ini terjadi di Kecamatan Cisarua.
Menu yang disantap para siswa yang mengalami keracunan kali ini berasal dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kampung Panyandaan, Desa Jambudipa, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Selasa (14/10), mereka mendistribusikan menu MBG untuk 3.649 siswa. Menunya berupa nasi putih, ayam black pepper, tahu goreng, capcay wortel brokoli, dan sepotong buah melon.
Ribuan siswa tersebut tersebar di delapan sekolah di kawasan Cisarua. Jumlah terbanyak berasal dari SMKN Cisarua, yakni sebanyak 1.150 pelajar. Berdasarkan pantauan Radar Bandung di Pos-ko SMPN 1 Cisarua sampai tengah kemarin, banyak siswa dari SMKN 1 Cisarua dan SDN 1 Garuda berdatangan untuk mendapatkan penanganan medis.
Humas SMKN 1 Cisarua Yeyet Sri Mulyanawati menjelaskan, para siswa SMKN 1 Cisarua mendapatkan menu MBG pada Selasa (14/10) siang. “Sesudah memakan menu MBG, siswa SMKN 1 Cisarua tidak merasakan gejala apa pun karena memang siswa menerima MBG saat siang hari sekitar pukul 11.30 WIB,” katanya kemarin.
Selasa malam, lanjut Yeyet, ada empat siswa yang mengalami gejala keracunan dan langsung ditangani di Posko Darurat SMPN 1 Cisarua. “Tiga orang di antaranya sudah pulang,” tambahnya.
Rabu (15/10) pagi, jumlah siswa yang terdampak terus bertambah. Mayoritas dari mereka, tambah Yeyet, mengalami gejala seperti mual, pusing, hingga sesak napas.
Proses Mulai Pukul 23.00
Sekolah yang menerima menu MBG dari SPPG Panyandaan terdiri dari SMKN 1 Cisarua, MA Bina Insani, MA Ponpes Al Furqon, MTs Ponpes Al Furqon, PAUD Al Muslimun, SDN 1 Garuda, SDN 1 Barukai, dan SMPN 1 Cisarua.
Kepala Dapur SPPG Panyandaan Satia Wiguna menjelaskan, pihaknya mulai mengolah makanan untuk didistribusikan sejak Senin (13/10) pukul 23.00 WIB. “Karena kami mengejar waktu sampai jam 3 subuh, kemudian proses selesai jam 4 subuh. Jadi, jedanya pendinginan nunggu 1 jam,” katanya kemarin.
Bahan bakunya, lanjut Satia, berasal dari tiga pemasok dan dua koperasi. “Dan itu berbeda-beda, ada yang pasok beras, lalu daging, telur, dan sayuran,” katanya.
Terkait kondisi daging ayam yang diduga sebagai penyebab keracunan, ia mengklaim bahwa daging ayam dalam kondisi baik dan segar. “Pada saat barang datang, itu bagus dan segar. Lalu saat pengolahan, bagus juga karena saya sendiri juga cek,” katanya.
Satia menambahkan, terkait sertifikasi kelayakan SPPG, saat ini masih dalam proses. “Untuk sertifikat, kami sudah dijadwalkan 21 Oktober pelatihannya. Sampai hari ini (kemarin), belum bersertifikat,” katanya. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : RYAN AGUNG