Buka konten ini

TOKYO (BP) – Jepang menghadapi tantangan demografis serius di tengah angka kelahiran yang terus menurun dan kebutuhan tenaga kerja kian mendesak di berbagai sektor. Ketergantungan terhadap pekerja migran pun meningkat meski masih diwarnai resistensi politik dan sosial.
Dilansir dari The Guardian, di sejumlah daerah, penolakan terhadap kehadiran pekerja asing masih muncul. Di Hokkaido, misalnya, warga memprotes rencana pembangunan penginapan untuk lebih dari 1.000 pekerja musiman asing yang akan membantu sektor pariwisata dan konstruksi. Sementara di Kawaguchi, dekat Tokyo, komunitas Kurdi menjadi sasaran ujaran kebencian dan misinformasi di media sosial.
Menurut Badan Layanan Imigrasi Jepang, jumlah penduduk asing legal di Negeri Matahari Terbit telah mencapai rekor baru atau 3,95 juta jiwa.
”3.956.619 warga negara asing telah tinggal di Jepang hingga akhir Juni. Kenaikannya 5,0 persen atau 187.000 jiwa dibandingkan akhir tahun lalu,” demikian pernyataan Badan Layanan Imigrasi Jepang.
Survei Nikkei pada September lalu menunjukkan hampir seluruh pemimpin bisnis Jepang menilai pekerja migran sebagai bagian vital dalam rantai pasokan nasional. Tanpa mereka, sektor industri dan jasa diperkirakan akan lumpuh.
Meski perdebatan politik masih tajam, para analis memperkirakan arus migrasi akan terus meningkat. Dalam 15 tahun ke depan, warga asing bisa mencakup lebih dari 10 persen populasi Jepang. Pilihan antara menghadapi perlambatan ekonomi atau menerima masyarakat yang lebih beragam kini menjadi ujian besar bagi masa depan Jepang. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : GALIH ADI SAPUTRO