Buka konten ini

SYAMSUL Hadi (33) berjalan perlahan menuruni jalan yang licin seusai diguyur hujan, menghampiri gudang terbuka tempat penyimpanan serbuk gergaji atau sawdust di Desa Beber, Kecamatan Batukliang, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.
Dua tumpukan serbuk gergaji setinggi sekitar 2 meter dan 2,5 meter tampak begitu kontras dengan pemandangan lahan persawahan awal musim tanam yang berada tepat di samping gudang.
”Dulu kami sering mendapatkan keluhan dari masyarakat gara-gara buang limbah kayu. Kini program co-firing biomassa membuat tidak ada lagi limbah kayu yang terbuang,” kata pria berkulit sawo matang itu sembari membetulkan kopiah hitam yang menutupi rambutnya, pada pertengahan Mei 2025.
Syamsul merupakan pendiri PT Syahroni Rizki Mandiri, perusahaan pengepul yang mengumpulkan serbuk gergaji dan serpihan kayu dari pabrik-pabrik penggergajian kayu gelondongan atau sawmill di seluruh Nusa Tenggara Barat.
Produk biomassa yang dikumpulkan Syamsul dari berbagai pabrik penggergajian kayu merupakan bahan bakar alternatif program co-firing Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Jeranjang dan PLTU Sumbawa Barat untuk menekan konsumsi batu bara dan menurunkan emisi karbon.
Syamsul memasok biomassa ke pembangkit listrik sejak Februari 2023. Kala itu jumlah biomassa yang disuplai masih terbilang sedikit hanya 100 ton sebulan, hingga akhirnya Juni 2023, Syamsul melalui perusahaan agregrasi miliknya itu berhasil masuk dalam kontrak kerja PLN Energi Primer Indonesia (EPI) untuk memasok sebanyak 4.000 sampai 5.000 ton biomassa setiap bulan ke PLTU Jeranjang dan PLTU Sumbawa Barat.
Serap Tenaga Kerja
Suara mesin pencacah kayu mengacau hening desa yang berada di kaki barat daya Gunung Rinjani. Suhaidi (46) bersama rekan kerjanya harus selalu memasang posisi kuda-kuda saat berdiri mengoperasikan mesin, lantaran kayu yang mereka cacah relatif berat dan besar.
Pria berperawakan kekar itu adalah paman Syamsul. Dia adalah mantan pekerja migran Indonesia yang pernah bekerja sebagai buruh panen perkebunan kelapa sawit Malaysia selama lebih dari seperempat abad.
Suhaidi adalah satu dari ratusan pekerja yang saat ini menggantungkan nasib kepada PT Syahroni Rizki Mandiri untuk menyuplai biomassa ke pembangkit listrik tenaga uap.
Dia memutuskan pulang ke Lombok karena sudah terlalu tua untuk bekerja di perkebunan kelapa sawit. Syarat umum tenaga kerja Indonesia di Malaysia adalah 18-39 tahun. Jika melewati batas usia tersebut, maka pekerja migran sudah tidak bisa lagi bekerja di perusahaan manapun kecuali mereka berstatus pekerja lintas negara punya batas usia yang fleksibel rentang 21-45 tahun.
Lelaki yang memiliki satu isteri dan dua anak itu baru enam bulan bekerja kepada Syamsul. Dia mendapat upah borongan Rp300 ribu untuk setiap satu truk serpihan kayu atau woodchip.
Terkadang Suhaidi mendapat upah besar bila mengantar biomassa dari gudang ke PLTU Jeranjang. Sekali pengiriman nominal upah yang diperoleh mencapai Rp75 ribu dan dia bisa mengirim tiga sampai empat kali dalam sehari dengan total upah rentang Rp225 ribu hingga Rp300 ribu.
Jika mengambil bahan baku ke pabrik penggergajian kayu, maka Suhaidi bisa meraup upah sebesar Rp400 ribu. Upah borongan bekerja di perusahaan penyuplai biomassa jauh lebih besar ketimbang standar upah minimum yang berlaku di Lombok Tengah maupun Nusa Tenggara Barat.
Sejak tahun 2020, warga Desa Beber semakin sedikit yang merantau ke luar daerah dan luar negeri karena biomassa mampu membiayai kebutuhan hidup mereka baik secara finansial maupun sosial. Mereka tidak perlu lagi meninggalkan keluarga selama bertahun-tahun hanya demi mendapatkan pekerjaan layak.
Program co-firing biomassa tidak hanya memberikan kesempatan bagi pekerja migran asal Lombok untuk pulang ke kampung halaman mereka, tetapi juga memberdayakan warga sekitar yang umumnya hanya berprofesi sebagai buruh tani dan peternak.
Lasmini (33) sebelumnya hanya seorang ibu rumah tangga dan menggantungkan hidup kepada suami yang bekerja di kantor desa. Selama empat tahun terakhir, dia sudah punya penghasilan sendiri dari hanya mengemas serbuk gergaji ke dalam karung.
Lasmini bersama puluhan ibu lainnya mendapat upah Rp2.500 untuk setiap karung dan bisa meraup hingga Rp100 ribu sampai Rp200 ribu setiap hari. Gaji harian mengemas biomassa dipakai untuk membeli keperluan rumah tangga, seperti lemari dan berbagai peralatan dapur. Bahkan, ia pun bisa menyisihkan sebagian penghasilannya untuk ditabung.
”Dulu tidak punya tabungan karena gaji hanya dari suami. Alhamdulillah, sekarang sudah punya tabungan untuk beli emas,” ucap perempuan yang tinggal serumah dengan suami, anak, dan mertua tersebut.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2025, angka pengangguran terbuka di Nusa Tenggara Barat (NTB) mencapai 102,63 ribu orang secara tahunan.
Jumlah penduduk usia kerja tercatat mencapai 4,17 juta orang dari total penduduk sebanyak 5,5 juta orang. Sedangkan, jumlah angkatan kerja mencapai 3,19 juta orang dengan rincian 3,09 juta orang bekerja dan 102,63 orang pengangguran.
Jumlah 3,09 juta orang bekerja di Nusa Tenggara Barat tersebut, terdiri dari pekerja penuh sebanyak 1,70 juta orang, pekerja paruh waktu 786,43 ribu orang, dan pekerja setengah pengangguran sebanyak 606,36 ribu orang.
Secara tidak langsung co-firing biomassa telah menghidupi banyak orang dari mulai pekerja harian bidang pengemasan, pekerja borongan pencacahan, hingga supir truk. Pabrik penggergajian kayu yang banyak tersebar di Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa tidak lagi khawatir terhadap limbah gergaji yang mencemari tanah dan merusak tanaman pertanian.
Implementasi biomassa menjadi sumber energi alternatif bagi pembangkit listrik adalah contoh sederhana sistem ekonomi kerakyatan yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat, baik dari sisi produksi, distribusi, maupun konsumsi.
Perpanjang Usia TPA
Kepala Seksi Pengolahan dan Pemrosesan Akhir UPTD TPA Regional Kebon Kongok, Mulyadi Gunawan, mengatakan ada 221 pekerja yang terlibat mengolah sampah taman berupa ranting, daun, dan batang menjadi produk biomassa agar usia TPA Regional Kebon Kongok bisa semakin panjang.
Timbulan sampah taman rata-rata mencapai 74,40 ton setiap hari atau setara 22,9 persen dari total timbulan sampah yang menjadi lokasi akhir pembuangan sampah bagi Kabupaten Lombok Barat dan Kota Mataram. Bila tidak segera diolah, dapat menghabiskan banyak ruang di TPA Kebon Kongok.
Hasil biomassa setiap hari sebanyak 3 ton dari aktivitas mengolah 20 ton sampah taman. (Sugiharto Purnama)
Reporter : ANTARA
Editor : AGNES DhAMAYANTI