Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Pemerintah terus berupaya melakukan dekontaminasi terhadap radiasi Cesium-137 di kawasan Industri Modern Cikande, Banten. Targetnya dalam waktu sebulan radiasi Cesium-137 di sana sudah tidak ada lagi. Sehingga kembali aman untuk aktivitas masyarakat.
Target tersebut disampaikan Menteri Lingkungan Hidup (Men-LH) sekaligus Ketua Harian Satgas Penanganan Radiasi Hanif Faisol Nurofiq. Dia mengatakan saat ini petugas masih berjuang melakukan dekontaminasi radiasi Cesium-137 di 10 titik yang sudah teridentifikasi.
”Pemerintah ingin menyelesaikan kasus Cesium-137 ini dari semua sisi dengan secepat-cepatnya,” katanya saat meninjau kawasan Cikande (13/10).
Untuk memaksimalkan proses dekontaminasi, pemerintah juga sudah menyiapkan fasilitas khusus untuk penyimpanan material sumber kontaminasi.
Selain itu Hanif juga menyampaikan untuk upaya dekontaminasi di area pabrik, diharapkan selesai dalam tempo sepekan ke depan. Harapannya pabrik sudah bisa berjalan dengan normal seperti sebelumnya. Data yang dikantongi Kemen-LH menyebutkan total titik terkontaminasi Cesium-137 berjumlah 32 titik. Tersebar di Kecamatan Cikande dan Kecamatan Kibin di Serang. Kedua kecamatan ini adalah bertetangga.
Lebih lanjut dia menyampaikan soal pembangunan tempat penyimpanan sementara material terpapar radiasi. Hanif mengatakan sesuai rekomendasi dari BRIN, tempat penyimpanan sementara itu dibangun di dalam kawasan Industri Modern Cikande.
”Bisa dioperasikan paling tidak awal 2026 depan,” katanya.
Nantinya, seluruh material yang terkontaminasi atau mengandung material Cesium-137 akan dipindahkan ke lokasi tersebut. Hal itu dilakoni agar tidak menyebar ke alam maupun mengontaminasi manusia. Lokasi bakal tempat penyimpanan sementara cesium itu berada di dalam PT Peter Metal Technology (PMT) di kawasan industri tersebut.
Sejumlah perusahaan akan ditutup sementara selama pemindahan material terkontaminasi Cesium-137. Terkait penanganan para pekerja dan masyarakat, kata Hanif, menjadi tanggung jawab Pemkab Serang dan Pemprov Banten. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO