Buka konten ini

YERUSALEM (BP) – Kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas disambut dengan suka cita oleh warga Palestina. Kemarin, puluhan ribu warga Gaza kembali ke kampung halaman masing-masing. Namun, Kota Gaza telah luluh lantak. Untuk membersihkan puing bangunan saja dibutuhkan waktu berbulan-bulan.
Dilansir dari laporan kores-ponden Anadolu, sebagian besar warga yang kembali berasal dari wilayah selatan Jalur Gaza. Mereka bergerak menuju utara, tempat tinggal mereka sebelum konflik. Ada rombongan yang menempuh perjalanan panjang dengan berjalan kaki. Sebagian lainnya menggunakan kendaraan yang masih beroperasi di tengah kelangkaan bahan bakar. Tampak juga rombongan menggunakan gerobak yang ditarik hewan, sepeda, dan motor.
Secara bersamaan, ribuan warga lain kembali ke rumah mereka di wilayah Gaza Tengah dan sejumlah bagian timur Khan Younis di selatan. Kawasan tersebut sebelumya diduduki militer Israel.
Akses utama perpindahan dari selatan ke utara berlangsung melalui Jalan Al-Rashid di pesisir barat dan Jalan Salah al-Din di bagian timur Jalur Gaza.
Sebagian pengungsi kemarin telah tiba di Kota Gaza. Mereka termenung melihat rumah-rumah telah rata dengan tanah. Mereka akhirnya mendirikan tenda di atas puing-puing rumah masing-masing. “Tidak ada yang tersisa dari Gaza. Apakah ini sebuah kehidupan?
Kita kembali tanpa rumah dan tanpa tempat berlindung bagi anak-anak kita, padahal musim dingin semakin dekat,” keluh Sherin Abu al-Yakhni, warga Gaza yang kembali ke lokasi bekas rumahnya kemarin. Sejak kembali ke Gaza, dia tidak menemukan makanan. Bahkan, seteguk air minum pun sulit didapatkan.
Farah Saleh, warga Palestina lainnya, mengaku terkejut dengan kondisi Gaza sekarang. “Besarnya kerusakan ini. Semakin jauh kami berjalan, semakin kami terkejut,” katanya.
Gaza Media melaporkan, hingga kemarin pasukan Israel telah menarik diri dari Kota Gaza di bagian utara, dengan pengecualian di wilayah Shejaiya serta sebagian kawasan Al-Tuffah dan Zeitoun. Di selatan, pasukan juga mundur dari wilayah tengah dan timur Khan Younis.
Meski demikian, warga sipil masih belum diizinkan memasuki Beit Hanoun dan Beit Lahia di Gaza utara.
Tiga Fase Gencatan Senjata
Gencatan senjata ini merupakan fase pertama dari rencana 20 poin yang diumumkan Presiden AS, Donald Trump, pada 29 September lalu. Rencana tersebut mencakup pembebasan seluruh tawanan Israel yang ditahan Hamas. Hal itu sebagai imbal balik atas pembebasan sekitar 2.000 tahanan Palestina, serta penarikan bertahap pasukan Israel dari seluruh Jalur Gaza.
Fase kedua mencakup pembentukan pemerintahan baru di Gaza tanpa keikutsertaan Hamas, pembentukan pasukan keamanan yang terdiri atas warga Palestina serta personel negara-negara Arab dan Islam, serta proses perlucutan senjata Hamas.
Sejak Oktober 2023, serangan Israel telah menewaskan hampir 67.200 warga Palestina di Jalur Gaza. Mayoritas korban adalah perempuan dan anak-anak.
Pembangunan Tahap Awal
Kota Gaza yang dilanda perang selama dua tahun ini sudah tidak berbentuk. Namun, setelah kesepakatan di Kairo beberapa waktu lalu, pembangunan awal wilayah ini bakal segera terealisasi.
Dilansir dari Al Jazeera, sejumlah buldozer dan alat berat mulai membersihkan puing bangunan yang berserakan di Gaza. Namun, pembersihan ini tidak bisa berlangsung satu atau dua hari.
“Hanya untuk membuka jalan saja memakan waktu setidaknya sebulan,” kata seorang operator buldoser, Ali al-Attar.
Selain volume reruntuhan yang begitu banyak, alat berat yang digunakan tidak dalam kondisi prima. Ali menyebut, beberapa buldoser yang digunakan ternyata mengalami oli bocor. Karena itu, membersihkan puing 41 ribuan rumah yang hancur butuh waktu dan usaha khusus.
Kemarin, bantuan kemanusiaan mulai masuk dari Karem Abu Salem. Ada juga yang masuk melalui Awja. Semuanya diperiksa dulu oleh otoritas Israel sebelum sampai Gaza. Warga di sepanjang Jalur Gaza memang butuh bantuan. Sebab, perang telah menghancurkan perekonomian warga. Apalagi, musim dingin semakin dekat.
Saat ini sebagian wilayah Gaza sering diguyur hujan. Al Jazeera menyebut, mereka yang kembali ke Gaza kini dalam kondisi terlantar.
Direktur Rumah Sakit di Gaza, Mohammad Zaqout, menyebut perlu membangun pusat perawatan medis di wilayah itu.
“Kami sangat membutuhkan pasokan medis dan obat-obatan, namun hingga kini belum ada yang datang,” ucapnya. Dia juga berharap ada tenaga medis yang bisa secepatnya datang ke Gaza.
Hari Ini Negosiasi Gencatan Senjata Tahap Pertama
Senin (13/10), tahap pertama gencatan senjata akan dimulai. Ini bertepatan dengan pertemuan di Mesir yang akan membahas pembebasan tawanan Israel dan tahanan Palestina. Hingga kemarin, proses negosiasi di Mesir terus berlangsung.
Presiden AS Donald Trump dikabarkan akan hadir dalam negosiasi itu. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio telah menghubungi mitranya di Mesir untuk membahas pengaturan pertemuan puncak di Sharm el-Sheikh.
Lebih dari 20 kepala negara diperkirakan menghadiri pertemuan puncak tersebut. Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Presiden Prancis Emmanuel Macron, dan Presiden Dewan Eropa Antonio Costa telah mengonfirmasi kehadiran mereka. Namun, belum jelas apakah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga hadir.
“Hamas tidak akan terlibat. Hamas bertindak melalui mediator dari Qatar dan Mesir,” kata anggota biro politik Hamas Husam Badran. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : RYAN AGUNG