Buka konten ini
BATAM (BP) – Meski tren Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Batam menurun dalam empat tahun terakhir, kota industri ini masih mencatat angka tertinggi di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Berdasarkan data per Februari 2024, TPT Batam berada di angka 7,68 persen, lebih tinggi dari rata-rata provinsi yang mencapai 6,89 persen. Kondisi ini menempatkan Kepri di urutan kedua tertinggi secara nasional setelah Papua.
Wali Kota Batam sekaligus Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, mengakui kondisi tersebut sekaligus menjelaskan sejumlah faktor yang membuat penurunan angka pengangguran di Batam berjalan lebih lambat dibanding daerah lain di Kepri.
Menurutnya, salah satu penyebab utama tingginya angka pengangguran di Batam adalah arus migrasi yang tinggi. Kota ini masih menjadi magnet bagi pencari kerja dari berbagai daerah di Indonesia karena reputasinya sebagai kawasan industri dan investasi.
“Populasi penduduk Batam yang menggelembung pada usia produktif belum cukup kuat untuk langsung diterima di bursa kerja. Arus migrasi tinggi, sementara kemampuan tenaga kerja lokal belum semua sesuai kebutuhan industri,” ujar Amsakar, Minggu (12/10).
Ia menjelaskan, sekitar 67–68 persen penduduk Batam saat ini berada pada kelompok usia produktif. Namun, banyak di antaranya merupakan lulusan SMA yang dinilai belum cukup kompetitif untuk bersaing di pasar kerja yang semakin spesifik dan berbasis keahlian.
“Struktur kependudukan Batam itu didominasi usia produktif, tapi banyak di antara mereka belum memiliki keterampilan yang link dengan kebutuhan pasar kerja,” ujarnya.
Lebih lanjut, Amsakar menilai kesenjangan antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri menjadi persoalan utama. Serapan tenaga kerja untuk posisi operator dan pekerja kasar relatif tidak mengalami kendala, namun untuk posisi yang membutuhkan keterampilan khusus, tingkat penyerapan masih rendah.
Untuk menjembatani persoalan tersebut, Pemko dan BP Batam berencana memperkuat kemitraan dengan perguruan tinggi dan dunia industri. Salah satu langkah yang akan dilakukan ialah kerja sama dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.
“Program kami pada 2026 nanti ada sekitar 20 orang yang akan kami berikan beasiswa kuliah di ITS. Alumni ITS ini punya prospek bagus, terutama di bidang galangan dan industri teknik,” ujar Amsakar.
Selain kerja sama pendidikan, ia juga mengaku telah bertemu dengan para HRD perusahaan di Batam untuk mendorong pemberian kesempatan lebih besar bagi tenaga kerja lokal.
“Kami minta agar ada prioritas 10–15 persen untuk anak-anak negeri,” tambahnya.
Namun, Amsakar menilai bahwa masalah pengangguran di Batam juga berkaitan dengan pergeseran tren investasi. Banyak investasi baru yang masuk bersifat padat modal dan minim tenaga kerja, seperti industri Artificial Intelligence (AI), Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO), serta ener-gi terbarukan.
“Tren investasi sekarang bukan lagi padat karya, tapi padat modal. Jadi serapan tenaga kerjanya memang tidak sebanyak dulu,” katanya.
Kondisi ini membuat pemerintah daerah perlu mencari keseimbangan antara peningkatan nilai investasi dan ketersediaan lapangan kerja bagi masyarakat lokal. (*)
Reporter : Arjuna
Editor : Ryan Agung