Buka konten ini

LUBUKBAJA (BP) – Tumpukan sampah mulai menggunung di kawasan pedagang kaki lima (PKL) Pasar Tos 3000, Lubukbaja. Pedagang mengeluhkan pengangkutan sampah yang tidak maksimal dalam beberapa pekan terakhir, hingga menimbulkan bau menyengat dan mengganggu aktivitas jual beli.
Ketua Pedagang Kaki Lima Pasar Tos 3000, Sambo, mengatakan, masalah penumpukan ini sudah terjadi sejak tujuh bulan terakhir. Menurutnya, persoalan bermula sejak adanya pergantian pengawas armada pengangkut sampah.
“Tidak ada pengawasan yang melekat. Kalau sopir tidak masuk, pengawas pun tidak tahu apa masalahnya. Begitu juga ABK-nya,” ujarnya, Minggu (12/10).
Sambo menjelaskan, satu saja petugas armada absen, seluruh proses pengangkutan bisa terhenti. Akibatnya, sampah dari para pedagang menumpuk di sekitar pasar.
“Padahal pedagang bayar retribusi. Masak tidak dilayani seperti ini,” katanya dengan nada kesal.
Ia menyebut, sampah yang menumpuk sebagian besar berasal dari pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) di sekitar pasar. Karena itu, pemerintah seharusnya memberi perhatian khusus agar aktivitas ekonomi rakyat kecil tidak terganggu.
“Ini sentra ekonomi rakyat kecil, jadi harus diperhatikan. Biasanya per hari armada bisa enam kali angkut, sekarang hanya tiga sampai empat kali. Tonasenya sama, tapi jumlah pengangkutan berkurang, jadi menumpuk,” ujarnya.
Akibat keterlambatan itu, banyak pedagang akhirnya terpaksa mengangkut sendiri sampah menggunakan becak untuk dibuang ke pinggir jalan.
“Itu berbahaya dan membuat kawasan makin kotor. Kami sudah sampaikan ke pejabat DLH yang baru, tapi tanggapannya santai saja. Bahkan kami disuruh pakai transporter. Ini kan pedagang kecil, bukan industri,” katanya.
Menurut Sambo, di Kecamatan Lubukbaja saat ini hanya tersedia empat unit mobil pengangkut sampah, sementara sebagian armada mengalami kerusakan. Kondisi ini membuat penanganan dilakukan secara darurat dan terbatas hanya pada area tertentu yang dianggap mendesak.
“Kadang mobilnya ada tapi ABK-nya tak ada. Kami sudah koordinasi, tapi tidak direspons. Kalau terus begini, ekonomi kecil bisa macet,” ujarnya.
Sambo menegaskan, para pedagang sudah berusaha menahan diri agar tidak melakukan aksi, namun kesabaran mereka mulai habis.
“Kami sudah coba redam agar tidak ada aksi. Tapi kalau sampai besok pagi tidak ada juga tanggapan dari DLH, saya yakin pedagang akan turun aksi ke kantor DLH atau Wali Kota Batam,” tegasnya.
Sementara itu, salah satu pedagang, Yeni, mengaku sudah sangat terganggu dengan kondisi sampah yang menumpuk di sekitar lapaknya.
“Sampah ini tidak diangkut-angkut. Mau saya bawa ke kantor Pemko loh, Pak. Saya ini wakili kawan-kawan, mohon ditanggapi. Kami pedagang kecil, tapi tolonglah diperhatikan karena ini sangat mengganggu kami,” ujarnya.
Yeni mengatakan, tumpukan sampah yang berserakan membuat pedagang kesulitan berjualan karena bau menyengat dan lingkungan yang kotor.
“Kalau begini terus, gimana mau jualan? Sampah menumpuk, berserakan. Jadi kami harus lapor ke siapa? Tolonglah ditanggapi. Apa harus kami bawa ke Pemko karena sudah parah, sampai jadi belatung, gak diangkut-angkut, sementara kami tetap jualan,” katanya kesal.
Menanggapi keluhan itu, Kepala Bidang Pengelolaan Persampahan DLH Batam, Iqbal Feliansyah, menyampaikan permohonan maaf atas kendala yang terjadi. Ia menjelaskan, armada pengangkut untuk rute pasar saat ini mengalami kerusakan berat sehingga memengaruhi jadwal pengangkutan di beberapa titik.
“Armada rute pasar rusak berat, maka kami melakukan pengalihan agar pelayanan lain tidak terlalu terganggu. Kami mohon maaf atas kendala yang terjadi. Besok, Senin pagi, akan segera kami tindak lanjuti,” ujar Iqbal.
Ia juga mengimbau pedagang agar tidak membuang sampah sembarangan.
“Untuk Tos 3000, kami menyadari jumlah pedagang meningkat cukup besar, sementara pelayanan belum maksimal. Kami akan lakukan pendataan ulang objek retribusi agar bisa disesuaikan dengan kebutuhan pelayanan,” jelasnya. (***)
Reporter : Rengga Yuliandra
Editor : RATNA IRTATIK