Buka konten ini

Sari’ah, ibu rumah tangga dari Tarempa Timur yang kehilangan penglihatan sejak usia 11 tahun. Ia menolak transplantasi mata karena takut kehilangan
cahaya di akhirat.
HUJAN turun tanpa jeda di Desa Tarempa Timur, Kecamatan Siantan. Rintik air membentuk irama lembut di atas atap seng rumah kayu sederhana milik Sari’ah (45). Di dalam rumah itu, suasana sunyi terasa lebih pekat dari sekadar suara hujan yang jatuh.
Tak ada sofa, tak ada meja. Hanya karpet karet yang menutupi lantai kayu yang mulai lapuk. Di atas karpet itulah Sari’ah duduk bersila, menyambut tamu dengan senyum hangat—senyum dari seorang perempuan yang sudah 34 tahun hidup dalam gelap.
Sejak usia 11 tahun, dunia baginya berhenti memiliki warna. Ia tak lagi bisa melihat wajah ibunya, tak tahu rupa langit, bahkan tak tahu bagaimana anak-anaknya tumbuh dari kecil hingga dewasa. “Begini lah rumah kami,” ucapnya pelan. Suaranya lembut, tapi menyimpan luka yang telah lama berakar.
“Baru pindah ke sini, di Dusun Antang. Sebelumnya di Butun, depan Antang juga, masih di Tarempa Timur.”
Sari’ah mulai bercerita tentang masa kecilnya yang sering sakit-sakitan. Di usia tiga tahun, tubuhnya kerap lemah. Dokter bilang, ada gangguan pada saraf otak. Namun puncaknya datang di usia 11 tahun, ketika demam tinggi membuatnya kehilangan penglihatan selamanya.
“Pas bangun tidur… saya sudah tak bisa lihat apa-apa,” ujarnya lirih. Tak ada air mata. Hanya suara serak menahan pedih yang tak bisa lagi dikeluarkan dengan tangisan.
Hari itu, langit yang seharusnya biru, berubah menjadi gelap selamanya bagi Sari’ah.
Namun, kegelapan tak memadamkan semangat hidupnya. Dengan tangannya yang tak lagi bisa melihat, ia tetap bekerja membuat kerupuk atom dan olahan makanan rumahan. Ia mengenali bahan-bahan bukan dari warna, tapi dari aroma dan tekstur yang diingatnya.
“Kalau tepung, saya tahu dari halusnya. Kalau ikan, dari bau amisnya,” katanya sambil tersenyum kecil.
Pernah suatu kali, datang tawaran dari sebuah yayasan kesehatan. Dokter bilang, transplantasi mata bisa membuatnya melihat kembali. Sebuah harapan besar bagi siapa pun. Tapi Sari’ah menolak. “Hasil periksa waktu itu, kata dokter saya bisa lihat kalau ganti mata,” ujarnya. Ia berhenti sejenak, menatap kosong ke arah suara lawan bicaranya.
“Tapi saya takut nanti disiksa di alam sana, karena mengganti apa yang Allah sudah kasih. Biarlah saya begini. Tak bisa lihat dunia, tapi semoga nanti bisa melihat surga.”
Kata-kata itu mengalir lembut, tapi berat. Sari’ah memilih buta di dunia, agar tak kehilangan cahaya di akhirat.
Tiga tahun lalu, suaminya—satu-satunya orang yang selalu menggandeng tangannya ke mana pun pergi—meninggal dunia. Sejak itu, Sari’ah hidup bersama anak sulungnya, Santika.
“Dulu kalau ada suami, almarhum yang bantu masak, bantu buat kerupuk atom. Sekarang anak saya yang bantu. Dia yang jadi mata saya,” kenangnya.
Suasana sejenak hening. Hanya suara hujan yang masih menetes di luar, seperti ikut menangisi perjuangan seorang ibu yang tak pernah menyerah pada takdir.
Meski hidup dalam gelap, cahaya itu tetap ada di diri Sari’ah—cahaya ketabahan, keikhlasan, dan cinta tanpa syarat. Ia tak pernah mengeluh, bahkan setiap malam berdoa dengan cara yang sama: memohon agar suatu hari, Allah berkenan mempertemukan matanya dengan wajah anak-anaknya, meski hanya sekali.
“Kadang saya berdoa, semoga Allah kasi keajaiban. Biar saya bisa lihat anak-anak saya, meski sebentar saja,” bisiknya pelan.
Hujan perlahan reda. Langit Tarempa Timur kembali cerah. Tapi bagi Sari’ah, dunia tetap gelap. Meski begitu, ia yakin, di balik kegelapan yang menutup matanya, ada cahaya surga yang menunggunya. (***)
Reporter : IHSAN IMADUDDIN
Editor : GALIH ADI SAPUTRO